Cabai yang Kaya Manfaat

Petani memanen cabai rawit di area persawahan Desa Pamenang, Kediri, Jawa Timur, Senin (9/1). Cabai rawit merah di tingkat petani tersebut seharga Rp81.000 per kg, sedangkan di hari yang sama di pasar tradisional setempat cabai rawit merah dengan kualitas yang sama harganya berbeda jauh yakni Rp95.000 per kg. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/pd/17
Oleh: Tony Firman - 9 Januari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Dalam porsi tertentu, cabai ternyata memberikan manfaat kesehatan pada tubuh.
tirto.id - Tak bisa makan tanpa sambal. Itulah kebiasaan sebagian besar orang Indonesia. Sambal identik dengan Indonesia. CNN pada Februari 2016 lalu melansir hasil polling terkait makanan Indonesia yang paling tak bisa ditinggalkan. Hasilnya, sambal ada di urutan pertama. Sementara rendang berada di posisi pertama dalam daftar makanan terenak di dunia, menurut polling CNN.

Sambal dan rendang, dua makanan terenak dari Indonesia ini sama-sama memiliki unsur cabai sebagai bumbunya. Cabai sebagai bahan dasar di banyak sekali jenis kuliner Indonesia tentu memiliki peran penting dalam penyusun cita rasa yang khas dan lezat dan terhidang di meja-meja restoran berkelas hingga kaki lima.

Sayangnya, harga cabai kerap tidak stabil sehingga membuat para penggemarnya tak nyaman. Termasuk yang terjadi pada akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2017 ini.

Dari lansiran Antara menyebut, harga cabai rawit di pasar Kabupaten Madiun Jawa Timur menyentuh angka Rp94.000 hingga Rp96.000/Kg. Sementara di pasar Kabupaten Tulungagung cabai rawit menyentuh Rp92.500/Kg. Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara cabai rawit dilkaim turun dengan harga Rp110.000/Kg dari semula yang turut mengalami pelonjakan sebesar Rp150.000/Kg.

Bergeser ke barat, di pasar induk kota Pangkalpinang provinsi kepulauan Bangka Belitung cabai rawit diklaim naik drastis menjadi sebesar Rp130.000/Kg. Di pasar tradisional daerah Cianjur Jawa Barat harga cabai meroket mencapai Rp140.000/Kg dari semula hanya Rp.30.000 sampai Rp40.000/Kg.

Deretan harga tersebut tentu sangat tinggi sekalipun dibandingkan dengan kenaikan pada momen sebelumnya. Alasan klasik dari kenaikan harga kali ini disebabkan oleh distribusi yang tersendat, produksi dari petani hingga faktor musim hujan.

Harga cabai kerap naik turun karena beragam faktor. Tentang drama kenaikan harga cabai ini bisa dibaca dalam artikel Tirto tentang Drama Harga Cabai yang Terus Berulang.

Manfaat cabai

Meski harganya naik turun tak beraturan, cabai tetap dicari. Sensasi yang diberikan cabai, senantiasa menimbulkan rasa ketagihan. Makan pun menjadi lebih lezat karenanya. Tak hanya itu, cabai ternyata banyak memberikan manfaat kesehatan.

Adanya zat capsaicin pada cabai yang memiliki peran utama memberi rasa panas dan pedas juga dapat menghentikan penyebaran sel-sel kanker prostat melalui berbagai mekanisme. Hal ini diungkapkan dalam Cancer Research pada Maret 2006 yang dilaporkan oleh situs World’s Healthiest Foods

Dosis 400 miligram capsaicin selama tiga kali seminggu diuji coba pada hewan yang jika diberikan pada manusia adalah dengan berat badan 200 pon. Empat minggu berjalan, pertumbuhan tumor kanker prostat beserta ukurannya menurun secara signifikan.

Warna merah cerah yang terdapat pada cabai juga menunjukkan kadar tinggi dari beta karoten atau pro vitamin A. Dua sendok teh cabai merah menyediakan sekitar 6% dari nilai harian vitamin C. Ditambah lagi lebih dari 10% dari nilai harian untuk vitamin A. Dari kandungan ini sangat penting untuk kesehatan paru-paru, saluran pencernaan dan saluran kandungan kemih dan berfungsi sebagai garis terdepan dalam pertahanan tubuh terhadap patogen.

Untuk memaksimalkan khasiat dari zat capsaicin yang terkandung, Claudia Debtarsie Kliranayungie, ahli gizi RSCM Kencana, menyarankan agar tidak membuang biji cabai dan serat agar zat capsaicin tidak berkurang seperti dikutip dari Antara. Lebih lanjut zat ini juga bermanfaat untuk membantu menurukan kadar kolesterol jahat. Ahli gizi RSCM lain, Kencana Claudia Debtarsie Kliranayungie menambahkan bahwa kandungan zat capsaicin juga memiliki efek analgesik pada obat penahan rasa sakit.

Oleh karena itu, tidak heran jika penelitian dari Chinese Academy of Medical Science yang melacak kesehatan jutaan peserta selama beberapa tahun menemukan bahwa mereka yang mengkonsumsi makanan pedas dari cabai memiliki tingkat kematian lebih rendah dibanding mereka yang makan makanan pedas kurang dari sekali seminggu. Bahkan jika rutin mengkonsumsi makanan pedas dalam seminggu dapat menurunkan risiko kematian hingga 14%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penurunan risiko ini karena adanya faktor-faktor penghambat penyakit kanker, jantung koroner hingga diabetes.



Tentu sederet manfaat cabai ini dapat dinikmati pada berbagai macam olahan makanan termasuk sambal. Namun begitu, beberapa orang memiliki tingkat kebebalan yang berbeda-beda terhadap rasa pedas dan panas yang dihasilkan dari cabai. Bagi orang dengan gangguan pencernaan tentu tidak bisa dipaksakan mengkonsumsi cabai dengan dosis berlebihan atau setiap hari.

Ada laporan lain dalam Journal of Emergency Medicine yang dimuat Kompas menyebut, telah terjadi kasus luka robekan di lubang kerongkongan seorang pria berusia 47 tahun asal Amerika setelah memakan cabai jenis ghost pepper yang diklaim paling pedas itu pada sebuah kontes makan. Bentuk ghost pepper sendiri sama persis dengan cabai rawit merah dengan ukuran sedikit lebih besar.

Bagaimanapun cabai sudah masuk dalam bahan utama di berbagai racikan bumbu kuliner Nusantara. Cabai kali ini tentu terasa lebih pedas dan membakar kantong karena harganya yang membubung selangit. Tetapi juga tak ada pilihan lain menggantikan khasiat dan lezatnya sentuhan cabai dalam tiap masakan hingga aneka jenis sambal di Indonesia.


Baca juga artikel terkait CABAI atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight