Al-Ilmu Nuurun

Buya Hamka: Politikus tanpa Dendam, Modernis yang Serius Bertasawuf

Oleh: Shubhi Abdillah - 29 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Hamka tak pernah menaruh dendam pada lawan-lawan politiknya. Sebagai modernis, ia juga serius mempelajari tasawuf.
tirto.id - Sejak Indonesia merdeka, pergulatan politik kerap berlangsung amat keras. Begitu kerasnya, hingga kadang-kadang melibatkan penggunaan senjata. Salah satu momen keganasan pertarungan politik terjadi di pengujung masa pemerintahan Sukarno.

Rezim Sukarno di awal 1960-an mulai bersikap keras terhadap lawan-lawan politiknya. Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) dipaksa membubarkan diri akibat keterlibatan tokoh-tokoh mereka dalam PRRI. Sementara itu PKI semakin akrab dengan kekuasaan.

Dalam suasana macam itu, ada seorang ulama dan cendekiawan Islam karismatik yang dianggap sebagai sosok meneduhkan. Namanya Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Orang-orang mengenalnya sebagai Buya Hamka.

Pada Senin, 12 Ramadan 1385, bertepatan dengan 27 Januari 1964, Hamka ditangkap di rumahnya dan kemudian dibawa ke Sukabumi untuk ditahan. Tuduhannya tak main-main: melanggar undang-undang Anti Subversif Pempres No. 11. Ia dituding merencanakan pembunuhan terhadap Sukarno—suatu prasangka yang lebih mudah dinalar sebagai aksi politik penguasa ketimbang murni keputusan hukum.

Dalam "Pendahuluan Pengarang" untuk cetakan ke-12 buku karyanya, Tasawuf Modern, Hamka memberi kesaksian bagaimana beratnya pemeriksaan ketika itu. Ia diperiksa selama 15 hari 15 malam. Tapi tak ada yang lebih memedihkan hatinya selain ucapan seorang pemeriksa: ”Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia!”

Selama 2 tahun 4 bulan Hamka ditahan rezim Sukarno. Dalam beberapa kesempatan, ia justru bersyukur dengan kejadian itu. “[...] saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Alquran 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu,” tutur Hamka.

Beberapa tahun kemudian, pemerintahan Sukarno tumbang. Hamka bebas, tapi ia tak mendendam. Ia tetap teduh sebagaimana biasanya.


Tak Ada Dendam dalam Politik

Irfan Hamka, anak ke-5 Hamka, mengisahkan tentang sang bapak yang tidak pernah menyimpan dendam dalam Ayah...: Kisah Buya Hamka (2013).

Pada pagi hari 16 Juni 1970 datang dua orang lelaki ke rumah Hamka. Mereka adalah Mayor Jenderal Suryo (Asisten Pribadi Presiden Soeharto) dan Kafrawi (Sekretaris Jenderal Departemen Agama). Keduanya membawa pesan dari keluarga Sukarno. Pesan itu adalah pesan terakhir sang mantan presiden. "Bila aku mati kelak," katanya, "minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku."

Lima hari setelah kunjungan itu Sukarno wafat di RSPAD dan jenazahnya disemayamkan di Wisma Yaso. Lawan politik yang telah memenjarakannya kini terbujur kaku tak lagi bernyawa. Tak ada dendam. Ia datang memenuhi permintaan terakhir Putra Sang Fajar. Hamka bukan hanya menyolatkan sebujur jenazah, tetapi ia telah membasuh luka-luka pertarungan politik masa lalu dengan sikapnya.

Hamka juga bersikap serupa kepada Mohamad Yamin, kolega sekaligus seterunya di Dewan Konstituante. Irfan Hamka mengisahkan pertentangan keduanya amat sengit. Yamin kemudian amat tersinggung oleh pandangan-pandangan Hamka soal Pancasila. Putus sudah hubungan kedua putra Minang itu. Perbedaan pandangan politik di antara keduanya tak lagi dapat disatukan.


Pada 1962 Yamin jatuh sakit. Chaerul Saleh, ketika itu Menteri Perindustrian Dasar & Pertambangan, menyambangi Hamka di rumahnya untuk menyampaikan pesan Yamin. Ketiganya memang putra Minangkabau asli. Yamin rupanya hendak dimakamkan di Talawai, Sawahlunto, tanah lahir yang telah lama tak ia kunjungi.

Tapi ada satu perkara yang mengganjal: masyarakat Sumatra Barat masih terluka oleh pernyataan Yamin. Ketika terjadi pergolakan PRRI, Yamin turut mengutuk aksi pemisahan wilayah dari RI. Pernyataan ini melukai masyarakat tanah kampungnya. Hanya dengan jaminan Hamka lah masyarakat di sana bisa menerima jenazah Yamin.

Hamka memperturutkan permintaan Yamin, orang yang amat benci padanya selama hidup. Bersama Chaerul Saleh, Hamka bersegera ke RSPAD, tempat Yamin dirawat. Melihat kedatangan Hamka, Yamin meneteskan air mata. Ia menggenggam tangan bekas seterunya di Konstituante itu. Hamka menalkinkan Yamin, hingga ia meninggal di pelukan Hamka. Tak ada lagi benci akibat pertentangan politik. Hamka kemudian mendampingi pemakaman Yamin di Talawai.

Dua cerita di atas bukan sekadar penghias sejarah bangsa. Keduanya ialah cermin dari pemikiran Hamka yang juga dapat kita telusuri lewat berbagai karyanya.


Tasawuf ala Modernis

Hamka adalah seorang modernis tulen. Ayahnya, Abdul Karim Amrullah, termasuk pembaharu agama di Minangkabau. Jalan juang Hamka diretas di Muhammadiyah dan Masyumi, dua lembaga yang merepresentasikan semangat modernisme Islam.

Sebagaimana para modernis lain, Hamka melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang netral (bebas nilai). Karena itu perkembangan ilmu pengetahuan (termasuk dari dunia Barat) dianggap dapat bersesuaian dengan ajaran Islam.

Pandangan Hamka ini terlihat di antaranya dalam buku Pelajaran Agama Islam. Di dalam buku tersebut Hamka menggunakan banyak teori dan hasil penemuan para pemikir Barat untuk mengukuhkan keyakinan kepada Rukun Iman. Teori-teori psikologi, sosial, hingga penemuan sains digunakan Hamka sebagai penambah argumen bagi keimanan. Hamka berusaha menampilkan Islam yang siap berdialog dan terbuka terhadap penemuan-penemuan ilmu pengetahuan terbaru—satu ciri umum kalangan modernis.

Tapi, menyangkut spiritualitas, ada yang berbeda pada diri pengarang Tenggelamnya Kapal Van der Wijk ini. Hal tersebut di antaranya dapat ditelusuri dari bukunya yang ditulis pada 1939, Tasawuf Modern. Buku ini lah yang Hamka baca semasa berada dalam tahanan Orde Lama. Dalam pengakuannya ia menyatakan, “Hamka sedang memberi nasihat kepada dirinya sendiri... Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan membaca buku ini.”



Infografik Al Ilmu Nuurun Hamka
Infografik Al-Ilmu Nuurun Haji Abdul Malik Karim Amrullah


Tasawuf kerap menjadi polemik di kalangan modernis yang berslogan kembali kepada Alquran dan sunah. Sementara ajaran tasawuf dianggap mengandung banyak penyimpangan dari sunah Rasul. Hamka pun melihatnya demikian. Pada kalimat-kalimat awal Tasawuf Modern ia menyatakan memang banyak percampuran Islam dan ajaran agama lain, khususnya di dalam tarekat-tarekat tertentu. Karena itu Hamka hendak menyuguhkan tasawuf yang berbeda, tasawuf yang dipadukan dengan kata modernitas.

Ia merujuk tasawuf kepada pemaknaan dari al-Junaid—“keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji”—dengan keterangan modern. Tak ada penjelasan yang memadai mengenai kata “modern” yang ia maksud. Tapi yang terang, tak ada pembahasan falsafah wujud yang rumit dalam buku ini, sebagaimana umum ditemui dalam kitab-kitab tasawuf klasik. Buku ini berisi semacam panduan akhlak mulia bagi orang modern.

Pokok bahasan buku ini ialah tentang kebahagiaan. Hamka banyak mengutip pendapat Imam al-Ghazali. Ia mengutip pula pendapat Aristoteles, Leo Tolstoy, dan Hendrik Ibsen mengenai makna bahagia. Namun pada akhirnya, agama pula yang menjadi jalan bagi kebahagiaan. Tak ada jalan lain, kata Hamka, keimanan lah yang akan membuat manusia bahagia.

Segala persoalan hidup, kesengsaraan, penderitaan, dan rasa terasing dapat terobati dengan keyakinan yang kukuh. Artinya Islam dalam pandangan Hamka ialah agama yang selalu dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan modern. Islam pula yang bisa menjadi pengobat luka-luka modernitas.


Dunia modern menuntut sikap yang dinamis, kebersediaan untuk bersaing secara utuh sebagai manusia dan kesiapan untuk menerima perkembangan ilmu pengetahuan. Hal-hal tersebut boleh jadi menghadirkan persengketaan, kesunyian diri, kegersangan batin, dan ketakbermaknaan diri. Persoalan itu bermula dari merajalelanya hawa nafsu pada diri manusia. Dan agama adalah pembina jiwa paling tepat guna mengatasi berkuasanya hawa nafsu itu.

Sikap teguh Hamka dalam berpolitik yang berpadu dengan kelembutan sikapnya sebagai manusia boleh jadi berasal dari pandangan semacam itu. Sebagai manusia modern, Hamka mahir bergelut dalam organisasi; pandai pula bersastra dengan semangat Indonesia modern; dan meskipun tak menempuh pendidikan formal, ia amat mahir mengutip berbagai unsur falsafah dan sains dari peradaban Barat. Pendeknya, ia orang yang terbuka terhadap perkembangan. Tapi segala dinamika kemodernan itu ia padukan dengan semangat batin Islam.

Dan dengan bekal itu, Hamka tampil sebagai cendekiawan yang dihormati.

==========

Sepanjang Ramadan hingga lebaran, kami menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan Muslim Indonesia di paruh pertama abad ke-20. Kami percaya bahwa pemikiran mereka telah berjasa membentuk gagasan tentang Indonesia dan berkontribusi penting bagi peradaban Islam. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".

Shubhi Abdillah adalah penulis yang pernah kuliah di Program Studi Sastra Indonesia FIB UI. Ia turut mendirikan Komunitas Nuun sebagai wadah bertukar gagasan mengenai wacana keislaman dan kebudayaan.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Shubhi Abdillah
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Shubhi Abdillah
Editor: Ivan Aulia Ahsan