Buruh Hansae 3 Mengaku Dipukul Preman dan Menduga Suruhan Manajemen

Oleh: Alfian Putra Abdi - 25 Mei 2019
Dibaca Normal 1 menit
Manajer HRD Hansae membantah bahwa manajemennya telah mengirim sejumlah preman untuk membubarkan para buruh tersebut.
tirto.id - Seorang buruh PT Hansae Indonesia Utama, Helmi Karangga mengaku telah mengalami luka pukul sebanyak tiga kali di bagian wajah. Ia menduga pemukul adalah preman yang dibawa oleh pihak manajemen.

"Kemarin [24/5/2019] saya datang ke posko juang dari rumah. Lalu saya adu bacot dengan Ibu Vina [perwakilan manajemen]. Kami dipisahkan. Selang sejam, Ibu Vina datang bersama tiga preman," ujarnya kepada Tirto di kantor LBH Jakarta, Sabtu (25/5/2019).

Para buruh Hansae 3 mendirikan posko juang di wilayah Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung sejak 9 Mei 2019, untuk menuntut pembayaran upah yang layak dan sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003. Jumlahnya harus sesuai dengan masa kerja para buruh, dan bukan sejak masa pengangkatan karyawan.

Ketua Umum Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) Jumisih mengecam tindakan premanisme tersebut. Ia menilai keterlibatan preman dalam perburuhan sebagai upaya untuk menakut-nakuti buruh. Ia juga menuntut pihak kepolisian untuk menuntut kasus tersebut hingga tuntas.

Selain itu, Jumarsih yang juga turut mendampingi para buruh Hansae 3 mengatakan, intimidasi juga datang dari pihak KBN Cakung. Menurutnya, pihak keamanan coba mendesak buruh untuk membubarkan tenda dari posko juang.

"Kami tidak mau selama urusan belum selesai. Kami tidak akan membubarkan tenda," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Pemogokan buruh PT Hansae Indonesia Utama bermula dari penutupan salah satu pabriknya yakni Hansae 3. Namun pabrik asal Korea Selatan tersebut menawarkan pesangon yang tidak sesuai dengan UU Ketenagakerjaan. Sampai dengan saat ini, 100 buruh masih melakukan pemogokan di depan pabrik Hansae 3 di KBN Cakung, Jakarta Utara.

Namun, saat dikonfirmasi, Manajer HRD Hansae, Benny Mahken membantah bahwa manajemennya telah mengirim sejumlah preman untuk membubarkan para buruh tersebut. Bahkan, ia mengaku konflik di lapangan antara Helmi dan Vina adalah wilayah privat.

"Yang jelas tidak seperti itu. Itu hanya persoalan pribadi. Manajemen Hansae tidak mengetahui hal itu. Manajemen tidak mengutus preman untuk membubarkan buruh," ujarnya ketika dihubungi Tirto, Sabtu sore.


Baca juga artikel terkait KASUS PEMUKULAN atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Alexander Haryanto