Bunuh Diri di Jepang untuk Mewariskan Polis Asuransi ke Keluarga

Infografik Bunuh Diri demi asuransi
Ilustrasi. Bunuh diri dan apresiasi. Foto/iStock
Oleh: Tony Firman - 13 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sebuah studi menunjukkan korelasi antara tindakan bunuh diri di Jepang dan motif memperoleh polis asuransi.
tirto.id - Pemerintah Jepang berencana mengurangi laju bunuh diri warganya pada 2017 sebanyak 10 persen dalam 10 tahun. Merujuk pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2018 (PDF), Jepang berada di urutan kedua dengan rata-rata 18,5 kematian per 100.000 orang pada 2016 setelah Korea Selatan (26,9). Tahun 2017, Badan Kepolisian Nasional Jepang mencatat ada 21.321 kasus bunuh diri di Jepang.

Beberapa waktu lalu, laporan Kementerian Pendidikan Jepang juga menunjukkan tingginya tingkat bunuh diri di kalangan anak-anak jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) dari tahun 2016 sampai 2017 yang jumlahnya mencapai 250 orang. Angka ini adalah yang tertinggi sejak 1986.

Ada beragam sebab yang mendorong orang Jepang gemar sekali mengakhiri hidupnya sendiri ketika sudah merasa terpojok dan merasa tak punya solusi untuk masalahnya, yang berkisar dari perundungan (bullying), merasa tak ada masa depan yang cerah, konflik keluarga, beban pekerjaan yang tinggi, hingga terbelit krisis ekonomi.

Dari sekian banyak motif bunuh diri di Jepang, masalah ekonomi memunculkan suatu fenomena di mana beberapa orang Jepang nekat bunuh diri demi dapat mencairkan polis asuransi jiwa.

Sebuah studi menunjukkan korelasi antara tindakan bunuh diri di Jepang dan tujuan mendapatkan pembayaran asuransi. Penelitian Toyohiko Kodama dkk berjudul "Suicide for the Purpose of Gaining Insurance Payouts in Japan" yang diterbitkan di Open Journal of Social Sciences (2017, PDF) menyebutkan mayoritas orang Jepang yang melakukan bunuh diri karena alasan demi memperoleh polis asuransi berada di rentang usia 40 sampai 60 tahun.

Kelompok usia tersebut membentuk proporsi sebesar 54,2 persen dari semua rentang usia bunuh diri warga Jepang. Dari segi alasan spesifik mencairkan polis asuransi jiwa, kelompok usia tersebut membentuk proporsi mayoritas dengan sebesar 89,1 persen.


Dari rasio jenis kelamin dalam studi tersebut, ada lebih banyak pria yang bunuh diri demi polis asuransi ketimbang perempuan. Penelitian Toyohiko dkk menggunakan data bunuh diri milik Badan Kepolisian Nasional dari rentang tahun 2007 sampai 2015.

Dalam rentang tahun tersebut, tahun 2017 menandai jumlah terbesar dari kasus bunuh diri demi mendapat polis asuransi jiwa dengan 151 kasus. Jumlah terkecil ditemukan pada 2012 dengan 65 kasus. Masing-masing membentuk proporsi 0,32 dan 0,65 persen dari total kasus bunuh diri di Jepang.

Di Jepang, ekonomi keluarga dibebankan pada laki-laki. "Ini mungkin dipengaruhi oleh fakta bahwa banyak dari kelompok usia tersebut yang sudah berstatus menikah dan memiliki keluarga" tulis Toyohiko dkk.

Ketika terbelit masalah ekonomi, sang suami pun bunuh diri agar mendapat polis asuransi jiwa yang dapat diwariskan kepada keluarga.

Setelah Perang Dunia II berakhir dan Jepang menderita kekalahan, ada banyak orang yang berbondong-bondong mendaftar asuransi jiwa. Sebagaimana yang dilaporkan The Atlantic, begitu kontrak diteken, beberapa pendaftar langsung pergi ke jalur kereta api terdekat untuk bunuh diri.

Walhasil, sejumlah perusahaan asuransi jiwa mulai memasukkan klausul pembayaran satu tahun setelah nasabah menandatangani kontrak asuransi, sehingga siapapun yang berniat bunuh diri demi mendapat polis asuransi jiwa harus menunggu setahun.

Namun tetap saja aturan ini tak menyurutkan aksi-aksi bunuh diri. Di bulan ke-13, jumlah nasabah yang bunuh diri cenderung melonjak. Perusahaan asuransi kemudian memperpanjang jangka ketentuan pencairan polis asuransi jiwa hanya bisa setelah dua tahun kontrak berjalan. Hasilnya, bunuh diri tetap melonjak pada bulan kedua puluh lima.

Pada tahun 2005, sebagian besar perusahaan asuransi jiwa memperpanjang jangka waktu pencairan hingga tiga tahun. Namun, beberapa perusahaan asuransi masih menetapkan jangka waktu yang lebih singkat.



Demi Asuransi Cair


Motif bunuh diri demi polis asuransi tampaknya juga didukung oleh regulasi pemerintah yang amat longgar. Dilansir dari Japan Times, pernah pada 2009, Pengadilan Daerah Kota Sendai memerintahkan sebuah perusahaan asuransi membayar 50 juta yen kepada seseorang yang meninggal karena sejumlah luka yang diderita saat percobaan bunuh diri.


Pada tahun yang sama, seorang pekerja kantoran berusia 52 tahun tewas gantung diri di Kota Matsudo dan meninggalkan wasiat tertulis. Ia menulis secara gamblang tentang kekesalannya akibat terbelit utang. Ahli waris mendapat polis asuransi sebesar 20 juta yen.

Pada 2000, seorang anggota Angkatan Darat Bela Diri Jepang dicekik sampai mati. Kasus itu dianggap sebagai bunuh diri dan keluarga korban mendapat polis asuransi jiwa. Pasalnya, sang istri mengaku bahwa suaminya gantung diri. Polisi pun gagal membedakan tanda kematian akibat gantung diri dan dicekik.

Mengapa perusahaan asuransi tidak menggandeng investigator untuk melacak deretan kasus bunuh diri yang dirasa ganjil? Masih dikutip dari Japan Times, proses identifikasi dan investigasi kasus bunuh diri atau pembunuhan bisa memakan waktu berhari-hari. Di sisi lain, jenazah biasanya dikremasi sehingga barang bukti pun hilang.

Surat kabar Sankei Shinbun melaporkan bahwa pada Juni 2012, asosiasi Asuransi Jiwa Jepang sepakat bermitra dengan polisi dalam mengusut tiap kasus kematian nasabah asuransi yang dinilai mencurigakan. Sayangnya, kesepakatan ini tak banyak membantu investigasi.


Seorang pemeriksa medis di kepolisian wilayah Kanto mengatakan bahwa pihak keluarga sering meminta polisi untuk tidak melaporkan kematian anggota keluarganya sebagai tindakan bunuh diri alih-alih mati wajar. Polisi pun cenderung mematuhinya.

"Orang yang ingin mewariskan polis asuransi jiwa untuk keluarga lebih lihai dalam bunuh diri sehingga terlihat seperti mati wajar. Karena mereka tahu, jika kematian mereka dilabeli bunuh diri, keluarga sebagai ahli waris tak akan mendapat apa-apa."

Ken Joseph menilai sistem asuransi di Jepang sangat lemah ketika berhadapan dengan kasus bunuh diri.

"Jadi ketika semuanya gagal (beberapa orang merasa), Anda bisa bunuh diri dan asuransi akan membayar," ujar Ken, sebagaimana dilansir dari BBC.

"Kadang-kadang ada tekanan yang tidak dapat ditoleransi pada orang tua bahwa hal yang paling dapat menunjukkan rasa cinta yang dapat mereka lakukan adalah mengambil nyawa sendiri dan dengan demikian mampu menyediakan uang bagi keluarga mereka (yang sedang dibelit kesusahan)," Tambah Ken yang bekerja di Japan helpline, organisasi yang telah melakukan pendampingan terhadap orang-orang yang rentan bunuh diri selama 40 tahun.

Baca juga artikel terkait BUNUH DIRI atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight