Menuju konten utama

Bukti Sejarah Kerajaan Kutai: Isi 7 Prasasti Yupa Peninggalannya

Bukti sejarah Kerajaan Kutai yang tertua adalah 7 prasasti Yupa. Berikut isi 7 prasasti peninggalan Kerajaan Kutai dari era Raja Mulawarman. 

Bukti Sejarah Kerajaan Kutai: Isi 7 Prasasti Yupa Peninggalannya
Prasasti Kerajaan Kutai. wikimedia commons/free

tirto.id - Bukti sejarah Kerajaan Kutai adalah berupa 7 prasasti Yupa yang berasal dari abad 5 M (berangka tahun 475 masehi). Isi 7 prasasti Kerajaan Kutai tersebut berupa silsilah Raja Mulawarman hingga kisah kebesaran sang penguasa.

Kerajaan Kutai adalah salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Peninggalan kerajaan Kutai yang paling utama ada prasasti 7 Yupa yang ditemukan antara tahun 1879 dan 1940. Tujuh batu prasasti itu sekaligus menjadi bukti sejarah Kerajaan Kutai yang paling utama.

Isi 7 prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai berupa tulisan kalimat bahasa Sansekerta dengan aksara Pallawa. Yupa adalah sebutan untuk prasasti yang terpahat di batu tugu (tiang batu).

Prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai pertama kali ditemukan di bukit Beubus, Muara Kaman, pada tahun 1879. Kawasan tersebut berada di pedalaman Sungai Mahakam yang saat ini termasuk dalam wilayah administrastif Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan timur.

Awalnya hanya ditemukan 4 prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai. Berpuluh warsa kemudian, tepatnya tahun 1940, 3 prasasti Yupa lainnya ditemukan di situs bukit Beubus.

Prasasti-prasasti tersebut sejak zaman kolonial Belanda disimpan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (kini Museum Nasional). Hingga saat ini, 7 prasasti Kerajaan Kutai tadi masih bisa dilihat keberadaannya di Museum Nasional, Jakarta.

Tujuh prasasti Yupa Kerajaan Kutai diperkirakan hasil karya para brahmana yang mendukung Raja Mulawarman di masa ia berkuasa. Maka itu, sebagian isinya pun puja-puji untuk sang Raja.

Isi 7 Prasasti Yupa Peninggalan Kerajaan Kutai

Para ahli sejarah menduga Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur merupakan penanda akhir periode prasejarah di nusantara. Prasasti Yupa pun termasuk batu tertulis yang tertua di Indonesia.

Prasasti Kerajaan Kutai, seperti dicatat Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia II (1993: 31), dibuat pada masa Mulawarman menjadi Raja. Prasasti Yupa menggambarkan pribadi Raja Mulawarman sebagai penguasa penganut ajaran para brahmana.

Nama lain dari Kerajaan Kutai yang dipimpin oleh Mulawarman adalah Kutai Martapura. Kerajaan Kutai Martapura sudah ada sejak abad 4 M, dan berlanjut eksistensinya hingga abad 16 M.

Kerajaan Kutai Martapura berbeda dari Kerajaan Kutai Kartanegara. Sebab, Kutai Kartanegara ialah nama Kesultanan Islam di Kalimantan Timur yang berdiri sejak abad 14 M. Dua kerajaan tersebut kemudian bertikai pada abad 16 M sehingga Kutai Martapura runtuh.

Di prasasti Yupa, terdapat keterangan bahwa pendiri Kerajaan Kutai adalah Raja Kudungga. Lantas, kerajaan ini semakin berkembang pasa era kekuasaan Mulawarman dan Aswawarman. Dua nama terakhir merupakan keturunan Raja Kudungga.

Masa kejayaan Kerajaan Kutai sendiri dicatat dalam Prasasti Yupa terjadi pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Asal-usul penamaan Kutai pun ditemukan keteranannya di salah satu Yupa.

Di Museum Nasional, 7 prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai tersimpan dengan rincian nomor inventaris D.2a, D.2b, D.2c, D.2d, D.175, D.176, dan D.177.

Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, berikut isi 7 Prasasti Yupa yang jadi peninggalan Kerajaan Kutai:

1. Prasasti Yupa 1 (D.2a atau Muarakaman I)

Yupa Muarakaman I berpahatkan 12 baris di salah satu sisinya. Prasasti Yupa pertama ini berisikan tentang silsilah Raja Mulawarman.

Di bagian awal prasasti disebutkan bahwa Sri Maharaja Kundungga berputra Aswawarman memiliki tiga orang anak. Yang terkemuka di antara ketiganya adalah Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan berkuasa.

Selain itu, disebutkan bahwa Mulawarman telah mengadakan upacara selamatan yang dinamakan bauswarnakam. Untuk peringatan upacara itu, tugu batu (yupa) didirikan oleh para Brahmana.

Kini, Prasasti Yupa Nomor Inventaris D.2a disimpan di lantai 1 gedung baru Museum Nasional dan masih terjaga dengan baik.

2. Prasasti Yupa 2 (D.2b atau Muarakaman II)

Prasasti Muarakaman II terdiri dari 8 baris tulisan yang dipahat di sisi depan. Prasasti Muarakaman II adalah yupa yang paling tinggi di antara 7 prasasti kerajaan Kutai.

Prasasti Yupa II berisikan cerita tentang Sri Mulawarman sebagai raja mulia dan terkemuka, telah memberikan sedekah berupa 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

Sebagai tanda kebajikan Sang Raja, tugu peringatan ini dibuat oleh para Brahmana yang datang ke tempat tersebut.

Saat ini Prasasti Yupa D.2b disimpan di lantai 2 gedung baru Museum Nasional, Jakarta.

3. Prasasti Yupa 3 (D.2c atau Muarakaman III)

Prasasti Muarakaman III terdiri dari 8 baris tulisan. Saat ini Prasasti Yupa Nomor Inventaris D.2c berada di lantai 1 gedung baru Museum Nasional, Jakarta.

Isi Prasasti Muarakaman III menyebutkan tentang kebaikan budi dan kebesaran Raja Mulawarman. Ia dipuja sebagai raja besar yang mulia.

Kebaikan sang Raja dibuktikan dengan pemberiannya berupa sedekah yang berlimpah. Atas dasar kebaikan itulah para Brahmana mendirikan tugu (yupa) ini sebagai tanda peringatan.

4. Prasasti Yupa 4 (D.2d atau Muarakaman IV)

Prasasti Muarakaman IV terdiri dari 11 baris tulisan yang dipahat di bagian sisi depan. Hurufnya sudah tidak terbaca lagi karena telah aus. Namun masih terlihat bekas kepala hurufnya.

Di bagian bawah prasasti banyak bercak putih, sedangkan di bagian belakang ada beberapa bercak berwarna kekuningan dan putih.

Saat ini, Prasasti Yupa Nomor Inventaris D.2d berada di sisi selatan dinding gerbang menuju ruang prasejarah bagian belakang gedung lama Museum Nasional.

5. Prasasti Yupa 5 (D.175 atau Muarakaman V)

Prasasti Muarakaman V terdiri dari 4 baris tulisan yang dipahat di bagian depan. Aksaranya masih terbaca.

Namun, terdapat bercak putih di salah satu aksaranya. Di bagian bawah prasasti, banyak terdapat bercak coklat tua.

Berdasarkan isi prasasti, Yupa ini ditulis sebagai peringatan atas dua sedekah yang telah diberikan oleh Raja Mulawarman. Sedekahnya itu berupa segunung minyak kental dan lampu dengan malai (kelopak) bunga.

Saat ini Prasasti Yupa Nomor Inventaris D.175 berada di sisi selatan dinding gerbang yang menuju ruang prasejarah bagian belakang gedung lama Museum Nasional.

6. Prasasti Yupa 6 (D.176 atau Muarakaman VI)

Prasasti Yupa 6 ini berisi tentang seruan selamat bagi Sri Maha Raja Mulawarman yang termasyhur. Ia disebut telah memberikan persembahan kepada para Brahmana berupa air, keju (ghrta), minyak wijen, dan 11 ekor sapi jantan.

Prasasti Muarakaman VI dipahatkan di sisi depan dan terdiri atas 8 baris tulisan. Bagian atas dan sisi kiri prasasti telah pecah sehingga beberapa kata di akhir baris tertentu hilang.

Keadaan prasasti saat ini terawat dengan baik dan aksaranya terbaca jelas. Saat ini, Prasasti Yupa Nomor Inventaris D.176 itu berada di sisi selatan dinding gerbang menuju ruang prasejarah bagian belakang gedung lama Museum Nasional.

7. Prasasti Yupa 7 (D.177 atau Muarakaman VII)

Prasasti Muarakaman VII terdiri dari 8 baris tulisan yang dipahatkan di sisi depan. Inskripsi dalam prasasti ini menceritakan bahwa Raja Mulawarman telah menaklukkan raja-raja lain.

Yupa ketujuh ini memuat keterangan bahwa Mulawarman telah menaklukkan Raja Yudhistira (mirip nama putra tertua Pandawa dalam epos Mahabharata).

Selain itu disebutkan bahwa sang raja juga menggelar sejumlah upacara sekaligus menghadiahkan sesuatu dalam jumlah 40.000 dan 30.000. Tidak jelas apa hadiah atau persembahan Mulawarman.

Informasi prasasti Yupa 7 itu kurang lengkap karena kondisinya saat ini kurang baik dan aksaranya sudah aus saat ditemukan. Di baris ke-4, 5, dan 7 prasasti Yupa 7, ada beberapa aksara yang tidak dapat terbaca lagi.

Saat ini, Prasasti Yupa Nomor Inventaris D.177 terletak di selasar bagian barat laut taman gedung lama Museum Nasional.

Baca juga artikel terkait KERAJAAN atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Addi M Idhom