Bukele Presiden Baru El Salvador: Muda, Kanan, Berdarah Palestina

Presiden terpilih El Salvador Nayib Bukele berbicara kepada wartawan di Istana Nasional Meksiko setelah bertemu dengan Presiden Andres Manuel Lopez Obrador di Mexico City. Bukele berjanji pada hari Selasa, 18 Juni 2019. AP / Marco Ugarte
Oleh: Tony Firman - 1 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Nayib Bukele menjadi presiden El Salvador termuda dan presiden kedua dari keturunan Palestina.
El Salvador punya presiden baru. Nayib Bukele, seorang keturunan Palestina resmi dilantik menjadi presiden ke -45 negeri itu pada 1 Juni 2019.

"Saya akan menjadi presiden untuk semua orang Salvador," ujar pria berusia 37 tahun ini setelah dilantik di ibukota San Salvador, dilansir dari Al Arabiya. Kerumunan orang yang menyaksikan pelantikan Bukele riuh bertepuk tangan dan berterika, "Kita berhasil!"

Orang-orang berdarah Palestina adalah salah satu kelompok minoritas di negeri yang terletak di Amerika Tengah itu. Jumlahnya hanya sekitar 100.000 orang dari total jumlah penduduk 6,1 juta jiwa.

Bukele tak pernah menutupi identitas dan asal-usulnya keluarganya. Times of Israel menyebut, Bukele mendaku seorang Kristen mengikuti jejak kakek nenek dari pihak bapaknya yang Kristen Palestina dari Yerusalem dan Betlehem. Ayah Bukele, Armando Bukele Kattán, masuk Islam di usia dewasa dan menjadi imam komunitas Muslim El Salvador. Istri Bukele disebut-sebut punya darah Yahudi Sefardim.

Presiden termuda dalam sejarah El Salvador ini mengaku bukanlah orang yang saleh. "Ada lebih banyak doa yang tulus di lorong-lorong rumah sakit ketimbang di gereja," ucapnya masih dari Times of Israel.

Setelah berkarier sebagai seorang pebisnis, Bukele terjun ke dunia politik. Awalnya ia bergabung dengan Front Pembebasan Nasional Farabundo Martí (FMLN), organisasi politik berisi bekas kelompok gerilyawan sayap kiri yang menonjol saat Perang Sipil El Salvador (1980-1992).

Bersama FMLN, Bukele sukses menjadi Wali Kota Nuevo Cuscatlán (2012-2015) dan San Salvador (2015-2018). Sayang, kebersamaannya dengan FMLN harus berakhir pada 2017. Ia dikeluarkan dari keanggotaan lantaran dianggap banyak mengkritik kepemimpinan partai kiri tersebut.

Bukele lantas bergabung dengan Aliansi Besar untuk Persatuan Nasional (GANA) yang berhaluan kanan-tengah dan baru berdiri pada 2010. Ia maju dalam bursa calon presiden di pilpres El Salvador 2019.

Hasilnya, pada 3 Januari 2019 Bukele sukses mengantongi 53 persen suara mengungguli dua kandidat lainnya. Kini ia menggantikan presiden sebelumnya, Salvador Sanchez Ceren, mantan gerilyawan sayap kiri dari FMLN.

Kemenangan Bukele juga menandai kekalahan dua partai lawas yang silih berganti memerintah El Salvador sejak 1992, yaitu Aliansi Republik Nasionalis (ARENA) yang konservatif dan FMLN.

Bukele mengampanyekan program anti-korupsi dan kerap menyapa pendukungnya melalui Twitter dan Facebook. Penampilannya juga khas: ia sering mengenakan jaket kulit, celana jins biru, kadang-kadang topi baseball putih. Ia mencitrakan dirinya sebagai sosok muda yang membawa pembaruan.

Banting Setir ke Kanan

Setelah menyeberang ke kanan, Bukele menyatakan ingin membuat El Salvador lebih dekat dengan Amerika Serikat. Ia menggambarkan Paman Sam sebagai "sekutu alami" El Salvador, terutama dalam urusan ekonomi.


Dalam beberapa tahun terakhir El Salvador memang sedang berada dalam titik krisis hebat. Negara itu digerogoti kemiskinan parah, angka kriminalitas dan pembunuhan yang tinggi, korupsi, dan nepotisme. Banyak warganya yang ramai-ramai hijrah ke Paman Sam. Dalam sehari, sekitar 200 warga El Salvador menuju AS untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kini, ada 2,5 juta warga Salvador yang bermigrasi AS.

Bukele menyalahkan pemerintahan Sánchez Cerén yang dinilai mewariskan Salvador dalam keadaan hancur. Kebijakan luar negeri Cerén yang mempertahankan aliansi erat dengan penguasa sayap kiri Nikaragua, Venezuela, dan Kuba kini ditinggalkan oleh Bukele. Ia juga sempat mengkritik keputusan Cerén menjalin hubungan diplomatik dengan Cina. Tetapi, belakangan ia mendukung keputusan itu lagi meski telah diperingatkan oleh Washington.

Mike Allison, profesor ilmu politik di University of Scranton, menyatakan kepada CNN, "Sulit untuk melihat di mana dia (Bukele) cocok dengan politik Amerika Latin saat ini."

"Bukele dianggap populis, kandidat dari luar yang mencoba melawan sistem. Dia mengatakan bahwa dia berasal dari kiri, tetapi dia bergabung dengan partai politik kanan," jelas Allison yang pernah belajar di El Salvador.

Terlepas dari afiliasi politik dan tantangan negaranya, Bukele bukanlah keturunan Palestina pertama yang menjadi orang nomor satu di El Salvador. Sebelumnya ada mantan presiden Antonia Saca González (2004-2009) yang juga keturunan Palestina dan kini tengah diadili karena skandal korupsi.


Di negara tetangga, Honduras pernah dipimpin keturunan Palestina bernama Carlos Robert Flores (1998-2002). Lebih luas lagi, banyak keturunan Arab di Amerika Latin yang juga pernah menjadi presiden seperti Michel Temer (Brasil, 2016-2018), Carlos Menem Akil (Argentina, 1989-99), Abdalá Bucaram (Ekuador, 1996-1997), Jamil Mahuad (1998-2000), dan Julio César Turbay (Kolombia, 1978–1982).


Migrasi Palestina ke Amerika Latin


Jejak migrasi orang Palestina ke Amerika Tengah mulai tercatat sejak akhir abad ke-19. Manzar Foroohar dalam “Palestinians in Central America: From Temporary Emigrants to a Permanent Diaspora” (2011) mencatat, para imigran Palestina ini dijuluki Turcos (Turki) lantaran datang dengan membawa identitas paspor Turki Utsmani.

Para sejarawan menduga merosotnya perekonomian di bawah Kekaisaran Turki Utsmani, peperangan, dan penetapan wajib militer mendorong orang-orang Palestina hijrah dari tanah airnya mencari kehidupan yang lebih baik. Imigran Palestina umumnya didominasi lelaki usia 15 hingga 30 tahun.

Mayoritas imigran Palestina di Amerika Tengah beragama Kristen, berasal dari daerah Betlehem dan Yerusalem. Meski begitu, ada pula para imigran muslim Palestina yang tak jarang menikah dengan wanita lokal. Umumnya, para imigran Palestina bekerja di sektor perdagangan. Pada akhir abad ke-19, mereka menjajakan cinderamata religi kepada para orang Kristen Amerika Tengah yang hendak berziarah ke Yerusalem dan sekitarnya.



Honduras tercatat pernah menjadi negara Amerika Tengah yang paling banyak menampung migran Palestina. Sekitar 90 persen imigran Arab yang datang ke Honduras adalah orang Palestina. Sebagian besar berasal dari kota-kota Kristen seperti Betlehem, Bayt Jala, dan Bayt Sahur.

Kini, ada 250.000 orang keturunan Palestina di Honduras, 500.000 di Chili, dan 200.000 di Guatemala. Secara keseluruhan, populasi keturunan Arab di Amerika Latin mencapai sekitar 8 juta jiwa (2017). Angka ini adalah kisaran minimal. Pasalnya, banyak orang keturunan Arab yang menyangkal garis keturunan mereka dan lebih suka mengaku orang lokal.

Negara-negara di Amerika Latin juga vokal mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Antara 2008 sampai 2018, semua negara Amerika Latin Kecuali Meksiko dan Panama mengakui Palestina sebagai negara yang berdaulat.


Namun, dukungan kuat itu mulai kendor beberapa tahun terakhir. Dalam catatan Aljazeera, sejak Trump memutuskan untuk memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem sebagai langkah politis mengabaikan Palestina, beberapa negara di Amerika Latin seperti Paraguay, Guatemala dan Honduras mengikuti langkah Washington.

Bagaimana dengan Bukele? Pada 2015, Duta Besar Israel untuk El Salvador pernah memuji Bukele dengan sebutan “mitra kerja sama”. Selebihnya, pandangan Bukele soal konflik Israel-Palestina tidak jelas.

Bukele pernah terbang ke Israel dan mengunjungi Yerusalem pada Februari 2018 untuk memenuhi undangan Konferensi Wali Kota Internasional ke-32. Ia bertemu Wali Kota Yerusalem, Nir Barkat dan berdoa di Tembok Ratapan. Bukele juga menyempatkan diri mengunjungi museum Holocaust Yad Vashem.

Setahun berselang, tak lama setelah memenangkan pemilu pada Februari 2019, Bukele me-retweet gambar yang menunjukkan kesan khidmat tentang Tembok Ratapan, sekaligus mengunggah video kunjungannya ke Tembok Ratapan di akun Instagram pribadinya.

Selain itu, pada awal 2019, ia mengunggah tulisan di Facebook tentang pandangan keagamaannya. Ia menyatakan bukan seorang yang saleh namun menghormati semua agama. Unggahannya itu disertai foto yang menampilkan dirinya berdiri menatap Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Baca juga artikel terkait IMIGRAN PALESTINA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight