Bukan Cukur Rambut Biasa

- 21 Agustus 2016
Dibaca Normal 5 menit
Sejak 2010, gerai-gerai barbershop baru muncul dan berlipat ganda dengan cepat di Jakarta, baik di mal-mal, di tepi jalan, maupun di dalam gang-gang. Dari begitu banyak varian tatanan rambut, kini berkembang pula dengan sebutan Cutbox. Walaupun perkembangan barbershop saat ini tidak sama dengan perkembangan sebelumnya, tetapi konsep barbershop yang sekarang lebih diminati oleh kaula muda.
tirto.id - Ernest Hemingway menulis tentang The Moler Barber College, sebuah gerai pangkas rambut, untuk The Toronto Star Weekly edisi 6 Maret 1920. Ia menyebut tempat itu home of the free and the brave, seperti Amerika Serikat menurut lagu The Star Spangled Banner, yang sesungguhnya. Selain jasa pangkas rambut dan cukur rambut wajah yang masing-masing seharga lima belas dan lima sen, Barber College juga menyediakan layanan istimewa, yang menurut Hemingway, hanya pria-pria tanpa rasa gentar terhadap mautlah yang rela mengalaminya. Layanan itu gratis, tapi ditangani oleh para pemula. Hemingway dicukur oleh seseorang yang baru saja mengiris jarinya sendiri. Ia menulis: “Hasil cukurnya tak buruk-buruk amat, sebenarnya. Para saintis menyatakan bahwa hukuman gantung adalah kematian yang sangat menyenangkan [...] Menunggu tibanya hukuman itulah yang membuat orang sengsara.”

Lebih dari sebelas windu kemudian dan lima belas ribu kilometer dari Toronto, di Jakarta, istilah barbershop beredar dengan makna yang mungkin tak pernah dibayangkan Hemingway. Meski urusan utamanya tetap cukur-mencukur, di kota ini barbershop berbeda dengan pangkas rambut biasa atau salon pria yang lebih dulu menguasai pasar jasa tersebut.
Perbedaan itu bahkan sudah terlihat sebelum Anda memasuki gerai. Di muka bangunan, terpacak tanda berupa tabung berputar dengan garis-garis melingkar berwarna putih, biru, dan merah. Tak jauh dari tanda itu, ada kaca besar yang memungkinkan Anda menonton dari luar. Tampilan interiornya maskulin: tembok bata telanjang atau dinding halus bercat putih kapur, putih tulang, coklat kulit telur, abu-abu semen atau abu-abu gelap, lantai linoleum, poster-poster bergaya Amerika era 1950-an, foto-foto hitam-putih. Tak lupa, hiasan lain sesuai tema tiap-tiap gerai: sepeda motor klasik, replika pompa bensin, rak buku, dan sebagainya.

Tatanan rambut yang paling laris adalah yang berbasis undercut, yaitu cukuran tipis bergradasi di sisi kanan, kiri, dan belakang kepala sementara rambut dibiarkan panjang dan kadang terkesan menumpuk di bagian atas. Para peminat awam biasa merangkum seluruh varian tatanan itu, mulai dari pompadour ala para greaser, bedhead seperti Jon Hamm dalam serial Mad Men, high-and-tight, hingga gaya rambut Brad Pitt dalam film Fury yang membuatnya terlihat seperti seekor ayam, dalam satu istilah saja: gentleman hairstyle. Tatanan rambut pria jatmika.

Gaya itu sebenarnya punya sejarah yang tak mewakili kejatmikaan. Ia mula-mula dipakai oleh para begundal Skotlandia dan Inggris pada awal abad ke-20. Mereka mengaduk rambut sisi atas yang panjang dengan lilin parafin dan menyisirnya ke belakang. Di luar perkara penampilan, gaya itu memungkinkan para penggunanya tak direpotkan oleh rambut masing-masing sewaktu menjalankan kegiatan favorit mereka, yakni adu jotos.

Setelah berkali-kali digemari dan dilupakan, tatanan rambut berbasis undercut kembali populer di seluruh dunia menjelang dekade kedua 2000-an lewat subkultur skate dan musik indie. Popularitasnya mengembang dengan cepat dan peminat baru segera berdatangan dari luar pagar. Sejak 2010, gerai-gerai barbershop baru muncul dan berlipat ganda dengan cepat di Jakarta, baik di mal-mal, di tepi jalan, maupun di dalam gang-gang.

"Rambut dapat menjadi aksesoris andalan seorang pria," ujar Rob McMillen, kepala penata rambut gerai Blind Barber, New York, dalam sebuah liputan CNN Money.



Para pengunjung barbershop, yang sebagian besar berusia belasan hingga dua puluhan tahun, punya kesadaran tersebut. Mereka tidak datang sekadar untuk duduk, menunggu dicukur seperti biri-biri, mengobrol soal banjir, lalu membayar. Mereka ingin tahu, misalnya, kecocokan antara bentuk wajah mereka dengan tatanan rambut tertentu, minyak rambut yang daya aturnya kuat tapi tidak lengket dan tak menjadikan rambut kelewat mengkilap, serta cara menyisir yang pas. Hal itu jugalah yang saya harapkan tapi tak ada atau hanya saya temukan tiruan pucatnya di berbagai barbershop yang saya kunjungi. Sampai kemudian saya datang ke Cutbox, sebuah barbershop di Jalan Kemang Timur, Jakarta Selatan.

Cutbox buka setiap hari, mulai pukul 19.00 hingga tengah malam. Dua kursi cukur, dua cermin tinggi, satu tempat cuci rambut, satu sofa merah untuk orang-orang yang menunggu giliran, satu mesin pendingin udara, dinding bata bercat putih, dan satu rak penuh gantungan kaus-kaus band—mulai dari Kreator hingga Sonic Youth—versi bajakan. Di atas sebuah meja kecil dekat sofa, ada sebuah laptop yang terhubung ke pelantam. Saya datang pada Senin, 4 April 2016, dua jam menjelang Cutbox tutup, bersama seorang teman. Dua pekan silam ia potong rambut di sana dan tampak bersemangat saban menceritakan pengalaman tersebut.

Setelah perkenalan singkat, Yosi, pemilik sekaligus penata rambut satu-satunya di Cutbox meminta saya menonton sebuah video Youtube lewat laptopnya sementara ia menangani rambut seorang pelanggan. Video itu menampilkan Alex Abbad, seorang bintang film dan pembawa acara televisi, yang berbicara tentang Cutbox ditambah Yosi yang menyampaikan visinya sebagai seorang penata rambut. "Di kotak ini, ada semua hal yang saya perlukan untuk menjadi sosok baru," kata Alex merujuk nama sekaligus bentuk ruangan barbershop tersebut.

Saya justru memperhatikan bagaimana Yosi bekerja. Dengan kedua lutut yang sedikit tertekuk, ia berkitar-kitar sambil memainkan gunting dengan amat tangkas di atas kepala si pelanggan. Seperti ketam, tapi sedikit lebih besar.

"Ini bukan pangkas rambut," katanya sambil mendongak ke cermin, sadar sedang diperhatikan. "Ini silat."

Setelah pekerjaan itu rampung, kami mengobrol. "Gue bukan hair stylist, bukan penata rambut," kata Yosi. "Nggak tahu namanya apa, ya. Tapi beberapa teman bilang gue ini seniman. Seniman rambut. Karena gue merancang gaya rambut sesuai muka orang."

Saya menanyakan bagaimana seandainya ada calon pelanggan yang memaksa ingin dicukur dengan gaya yang menurutnya tidak pas. "Ya, batal saja," katanya. Ia lalu menceritakan pengalamannya dengan seorang penyanyi kelompok musik ska/reggae yang relatif beken di Indonesia. Orang itu minta rambutnya dibikin mohawk seperti Travis Barker, drummer Blink 182. "Tapi tampangnya tiga. Kalau gue potong kayak Travis, bukannya jadi enam, bisa-bisa malah jadi satu setengah."

Menurut Yosi, kini di Jakarta ada sekitar seratus gerai barbershop. Angka yang tepat ia tak tahu. Tapi untuk wilayah Kemang, ia yakin saat ini ada tiga puluh dua gerai yang aktif. Ia pernah berkeliling dan menghitung. Lebih dari separuhnya adalah bagian dari kebangkitan barbershop sejak 2010. "Tapi banyak yang tutup karena harga sewa tempat mahal, tiga puluh juta ke atas. Dan walaupun ini bisnis yang pasarnya besar, bikin pelanggan balik itu sulit. Kebanyakan pasti nggak balik," ujarnya.

Cutbox sudah aktif selama delapan tahun dan Yosi sudah dua belas tahun menjadi seniman rambut. Saya bertanya apakah ada gerai yang dijadikan model oleh Yosi dalam mengelola Cutbox, baik dalam hal manajemen, desain gerai, atau keterampilan para pekerjanya. "Ada satu," kata Yosi, "New Cuts on The Block." Teman saya tertawa. Ia tahu, gerai itu adalah tempat kerja pertama Yosi. Saya tertawa juga, tapi karena alasan lain. "Awalnya, Cutbox ini gue namai Cutbox Twenty, tapi akhirnya twenty-nya gue hapus," kata Yosi.

Sambil bicara, Yosi memilih-milih lagu di Youtube. Meski ukuran font di layar laptopnya kelewat besar bagi saya, jari-jari tangan kanannya bergerak di trackpad tanpa kesan kikuk sama sekali. Jari-jari itu, khususnya telunjuk dan jari manis, kapalan. Sewaktu kemudian saya duduk di kursi cukur, saya melihat Yosi mengendalikan gunting dengan dua jari tersebut.

Di meja panjang yang menempel dinding di bawah cermin, memang tak ada mesin cukur yang biasa terlihat di tempat pangkas rambut lain yang pernah saya kunjungi. Hanya ada sebuah mesin pengering rambut, tiga bilah sisir, dan banyak sekali gunting berukuran kecil bermerek Shilla. "Gue pakai mesin cuma pas pegang kepala bule," kata Yosi. Ia mengukur panjang kepala saya dari tulang pipi hingga tepi teratas memakai telunjuk dan jempolnya, lalu menggeser naik jengkal kecil itu. Ibu jarinya berpindah ke bekas tempat telunjuk. "Nah, kepala bule panjangnya segini," katanya, disusul tawa. Menurut Yosi, gerai yang para pekerjanya menangani semua kepala dengan mesin cukur lebih cocok disebut pangkas rambut ketimbang barbershop. "Lo potong di sana, bayar tujuh puluh ribu atau dua belas ribu, hasilnya sama saja."

Yosi memberitahu saya cara merawat dan menata rambut yang tepat untuk jenis rambut saya sekaligus gaya yang ia desain. "Paham, nggak?" tanyanya begitu kelar memberi contoh dan menerangkan fungsi dari tiap-tiap gerakan unik yang dibikinnya. Saya mengangguk. "Kalau nggak, lo datang lagi ke mari bawa air. Nanti gue kobok, habis itu lo minum."

Tapi tentu tak semua perkataan Yosi menarik dan layak kutip. Soal jam buka Cutbox, misalnya. Saya kira ia akan memberi alasan yang eksentrik untuk keputusan yang kurang lazim itu, tapi dugaan saya keliru.

Di Cutbox, Yosi dibantu oleh seorang pemuda sebaya saya yang memperkenalkan diri sebagai Sky. Tugas si asisten antara lain menyapukan sisa potongan rambut dari wajah dan leher para pelanggan, juga mengeramasi kepala mereka. Sewaktu mengeramasi saya, Sky mengajak saya bercakap-cakap. Ia bertanya saya bekerja di mana, berasal dari mana, apakah bentuk mata saya kebetulan belaka atau menandakan etnisitas, dan macam-macam hal lain. Sesekali ia juga berupaya melucu. Sky dan Yosi sama-sama orang Betawi. Mereka bertetangga. Sky sudah bekerja bersama Yosi, atau dalam istilah orang yang disebut terakhir: latihan potong rambut, selama enam tahun.

Setelah dikeramas, saya kembali duduk di kursi cukur. Sky mengeringkan rambut saya, lalu Yosi datang lagi untuk menyempurnakan karyanya. Begitu selesai, ia menunjukkan —atau tepatnya memamerkan—sisi-sisi samping dan belakang kepala saya dengan bantuan cermin kecil. "Seumur hidup apa pernah rambut lo dipotong begini?" tanyanya. Di wajahnya terpacak senyum puas. Meski menahan geli karena membayangkan kepala saya dipajang di museum seni modern, tak urung kepercayaan diri saya naik. "Wah, belum," kata saya spontan. "Aduh, malang betul," balas Yosi. Ia pasti sudah menduga saya akan menjawab demikian.

Sambil mengamati tatanan rambut baru, saya teringat tulisan Hemingway. Cutbox bukanlah home of the free dan jelas tak punya urusan dengan keberanian. Sampai tiba waktu untuk membayar. Ketika saya mengeluarkan dua lembar bergambar I Gusti Ngurah Rai dari dompet, pikiran itu membeku jadi sebuah truisme: semakin jauh kebebasan, khususnya dari bea, semakin besar pula keberanian yang diperlukan.

Baca juga artikel terkait GAYA RAMBUT atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: