Bukalapak & Standard Chartered Berduet Luncurkan Bank Digital

Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 8 Juni 2021
Dibaca Normal 2 menit
Standard Chartered Bank Indonesia (Stanchart) menggandeng Bukalapak untuk aplikasi mobile layanan perbankan digital baru.
tirto.id - Pasar bank digital Indonesia akan kedatangan pemain baru yakni Standard Chartered Bank Indonesia (Stanchart) yang menggandeng Bukalapak untuk aplikasi mobile layanan perbankan digital baru. Bank digital baru Standchart dan Bukalapak ini sudah mengantongi izin OJK, dan sedang menunggu izin dari Bank Indonesia.

Dalam siaran persnya yang diterima Tirto, Selasa (8/6/2021), Stanchart mengatakan bahwa layanan perbankan digital miliknya itu memungkinkan para penggunanya melakukan proses onboarding yang sepenuhnya digital dan tanpa verifikasi tatap muka. Stanchart mengklaim teknologi itu sebagai salah satu yang pertama di Indonesia.

Proses KYC (Know Your Client) dilakukan melalui teknologi keamanan dan otomatisasi, sekaligus mendayagunakan kecerdasan artifisial (artificial intelligence), pengenalan biometri wajah dan validasi E-KTP.

"Sehingga membuka rekening di aplikasi ini dilakukan sepenuhnya berbasis teknologi terkini, dan menawarkan layanan perbankan yang aman bagi para nasabah di mana saja dan kapan saja," jelas Stanchart dalam rilisnya.

Dana yang disetorkan ke aplikasi layanan perbankan digital baru ini akan dikelola oleh Stanchart sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku dan sejalan dengan tata kelola perusahaan yang baik.

Solusi finansial digital baru ini merupakan perpanjangan layanan finansial yang ditawarkan di platform Bukalapak dan didukung oleh Standard Chartered Bank Indonesia.

Untuk keamanannya, bank digital ini akan menggunakan teknologi nexus, solusi Banking-as-a-Service (BaaS) dari Stanchat. Aplikasi mobile layanan perbankan digital baru ini mengimplementasikan enkripsi kelas industri (TLS1.2) untuk mengamankan data sensitif yang dalam transmisi dan yang tersimpan, untuk menjaga data tersebut terhindar dari pengintaian.

Autentikasi multi-faktor dalam bentuk identifikasi perangkat yang kuat dan Soft Token PIN, digunakan untuk menjamin validasi identitas nasabah sebelum akses diberikan ke rekening milik nasabah dan ke layanan aplikasi layanan perbankan digital tersebut. Selain itu, strategi ketahanan dunia maya produk ini mencakup penggunaan layanan pencegahan penolakan layanan dan teknologi komputasi awan yang menawarkan daya dan ketersediaan komputasi yang andal.

"Posisi strategis dan pentingnya Indonesia di kawasan ini meyakinkan kami untuk memilih Indonesia sebagai lokasi pertama untuk meluncurkan teknologi baru nexus by Standard Chartered, layanan Banking-as-a-Service dari Standard Chartered," kata Andrew Chia, Cluster CEO, Indonesia & ASEAN Markets (Australia, Brunei, Filipina), Standard Chartered.

"Inovasi ini akan menjadikan layanan perbankan digital ini yang pertama yang menggabungkan manfaat jangkauan platform e-commerce dan Banking-as-a-Service dari lembaga keuangan kelas dunia untuk memberikan akses layanan perbankan digital yang bisa diakses oleh siapa saja termasuk para UMKM, kalangan underbanked dan unbanked yang selama ini sulit mengakses layanan perbankan," jelas Victor Lesmana, President BukaFinancial & Digital.

Standard Chartered Bank Indonesia merupakan salah satu kantor cabang Standard Chartered Bank di wilayah Asia. Bank dimiliki sepenuhnya (100%) oleh Standard Chartered Holdings Limited, Inggris Raya. Sementara Bukalapak yang merupakan anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK), memiliki lebih dari 100 juta pengguna dan 13.5 juta UMKM.

Sebelumnya, ada induk Shopee, Sea Limited membeli Bank BKE pada Februari 2021. Sea Limited selanjutnya mengubah Bank BKE menjadi bank digital. Bank BKE sudah beralih nama menjadi Bank Seabank Indonesia.

Sementara rival e-commerce Bukalapak, Tokopedia sudah resmi merger dengan Gojek menjadi GoTo. Gojek sendiri sebelumnya sudah menjadi "saudara" dari Bank Jago. Pada Desember 2020, Gojek resmi mengakuisisi 22 persen saham Bank Jago.

Unicorn atau start-up dengan valuasi di atas USD 1 miliar dolar mulai mengombinasikan Digital Financial Services (DFS) dengan bisnis utamanya. Mereka dituntut menciptakan sebuah komunitas untuk menjadi super apps. Laporan “Google, Temasek and Bain, e-Conomy SEA 2020” menyebutkan, unicorn-unicorn kini sudah mulai fokus untuk memikirkan cara mencari keuntungan. Ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana mereka masih fokus pada pertumbuhan transaksi.

Bagi unicorn e-commerce, jalan memetik keuntungan dilakukan dengan melanjutkan ekspansi pada Digital Payment Services (DFS), karena konsumen yang melakukan transaksi online meningkat pesat, terutama setelah pandemi.


Baca juga artikel terkait STANDARD CHARTERED atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight