Seri Pesepakbola Muslim

Bruno Martins Indi: Islam Memberiku Keseimbangan

Oleh: Gilang Ramadhan - 15 Mei 2020
Dibaca Normal 1 menit
Pesepakbola muslim Timnas Belanda, Bruno Martins Indi, sempat terpuruk karena dianggap sebagai penyebab gagal lolosnya De Oranje ke putaran final EURO 2016.
tirto.id - Bruno Martins Indi punya pengalaman tak mengenakkan di tim nasional Belanda. Pesepakbola muslim De Oranje ini disebut 'bodoh' oleh rekan satu timnya, Arjen Robben, karena dianggap menjadi biang kekalahan dari Islandia di Kualifikasi EURO 2016.

Martins Indi diusir dari lapangan setelah menyikut Kolbeinn Sightorsson. Belanda pun kalah 0-1 di kandang. Bek yang kini berusia 28 tahun ini lantas tidak diikutsertakan lagi di sisa laga kualifikasi. Pada akhirnya, Belanda tidak lolos ke putaran final Piala Eropa 2016 yang dihelat di Perancis.

"Sulit bagi pemain muda untuk bangkit dari momen seperti itu. Tentu saja saya tidak senang tetapi orang dapat mengutarakan pendapat mereka. Itu momen aneh di karier saya," kenang Martins Indi yang kala itu masih berusia 23 tahun.

"Untuk waktu yang lama, saya tidak membicarakan hal tersebut saat wawancara. Saya hanya mundur dan menganalisanya kembali. Itu bagus bagi saya," sambung bek yang bermain di klub Inggris, Stoke City, ini.

Sempat Amat Tertekan

Tak hanya Robben, pelatih Timnas Belanda saat itu, Danny Blind, juga menyalahkan Martins Indi. Ia memang sempat dipanggil kembali dalam laga persahabatan kontra Belgia pada November 2016, namun hanya sebagai pemanis bangku cadangan.

"Kami sudah berbicara dengan baik dan saat ini situasi sangat normal, tidak ada perasaan yang berat, bahkan dengan Robben. Saya melakukan hal yang harus saya lakukan," sebutnya dikutip dari The Guardian.


Bruno Martins Indi mengaku amat tertekan dengan pandangan yang menyalahkan dirinya sebagai penyebab gagal lolosnya Belanda ke putaran final EURO 2020. Beruntung, ada sosok yang membantunya memulihkan mental.

Orang itu adalah Julen Lopetegui, mantan pelatih Martins Indi saat masih membela klub Portugal, FC Porto. Menurut Martins Indi, sosok yang nantinya sempat membesut Timnas Spanyol dan Real Madrid itu mengajarkan banyak hal tentang personalitas.

Martins Indi bermain di FC Porto sejak 2014. Bahkan, ia memang kelahiran Portugal, tepatnya di Kota Barreiro, pada 8 Februari 1992. Hanya saja, ia berasal dari keluarga imigran Guinea-Bissau (Afrika bagian barat) yang datang dan sempat menetap di Portugal.

Saat masih bayi 3 bulan, Martins Indi dibawa orangtuanya pindah ke Rotterdam, Belanda. Di kota inilah ia dibesarkan, mengenal sepak bola, memulai karier profesional bersama Feyenoord, hingga akhirnya memperkuat Timnas Belanda sejak level junior.


Bangkit Berkat Islam

Pemahaman tentang ajaran Islam yang didapatnya ternyata sangat membantu Bruno Martins Indi setiap kali diterpa masalah, termasuk terkait gagalnya Belanda tampil di putaran final Piala Eropa 2016.

Islam, kata pesepakbola bernama lengkap Rolando Maximiliano Martins Indi ini, sangat membantu baginya untuk berdamai dengan diri sendiri dan memercikkan kekuatan untuk bangkit.

"Islam membantu saya, memberikan saya kedamaian dan keseimbangan. Keyakinan ini memberikan saya banyak kekuatan," ucap Martins Indi kepada Telegraaf.

"Ketika saya mengamalkan nilai-nilai dalam Islam, saya mendapatkan ketenangan dalam hidup. Saya tidak perlu menujukkannya kepada orang lain, cukup melakukannya dalam kehidupan sehari-hari," imbuhnya.

Atas semua yang ia alami, pemain belakang yang telah mengemas 34 penampilan bersama Timnas Belanda ini percaya bahwa itu ada hikmahnya.


"Pasti selalu ada sisi positif dari segala hal buruk yang menimpa kita. Saya senantiasa yakin bahwa segala sesuatu akan indah pada saatnya. Dari situlah saya bangkit, tetap melangkah ke depan."

"Iman menjadikan saya kuat. Hingga kini saya terus mencoba melaksanakan ibadah dengan benar. Saya selalu berdoa agar tetap dituntun ke jalan yang benar," pungkas Martins Indi.

Baca juga artikel terkait SERI PESEPAKBOLA MUSLIM atau tulisan menarik lainnya Gilang Ramadhan
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Gilang Ramadhan
Penulis: Gilang Ramadhan
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight