Menuju konten utama

BPS: Deflasi Februari, Kedua dalam Setahun

Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin mengatakan bahwa deflasi pada bulan Februari 2016 sebesar 0,09 persen merupakan yang kedua kalinya dalam setahun terakhir, setelah deflasi Februari 2015 sebesar 0,36 persen.

BPS: Deflasi Februari, Kedua dalam Setahun
Anak-anak bermain sepatu roda di pelataran masjid rusun, Makassar. Makassar termasuk kota dengan deflasi terendah di Indonesia pada bulan Februari 2016. ANTARA FOTO/Dewi Fajrian

tirto.id - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan bahwa deflasi pada bulan Februari 2016 sebesar 0,09 persen merupakan yang kedua kalinya dalam setahun terakhir, setelah deflasi Februari 2015 sebesar 0,36 persen.

“Sebelumnya sejak 2010 hingga 2014, selalu terjadi inflasi pada Februari,” katanya di Jakarta, Selasa, (1/3/2016), seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Lebih lanjut, Suryamin mengatakan, dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), 52 kota mengalami deflasi pada Februari, dan hanya 30 kota yang menyumbang inflasi.

Deflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 2,95 persen, sementara yang terendah terjadi di Sibolga, Bogor, Sumenep dan Makassar, masing-masing sebesar 0,02 persen.

“Inflasi tinggi terjadi di Tanjung Pandan (Belitung) yaitu 1,02 persen,” ujar Suryamin.

Suryamin menjelaskan bahwa harga bahan makanan yang relatif terkendali menjadi penyebab utama terjadinya deflasi pada Februari ini, selain juga diakibatkan oleh faktor turunnya harga listrik dan bahan bakar minyak.

“Harga cukup terkendali pada Februari, terutama pada bahan makanan [...] Selain bahan makanan, deflasi juga terjadi karena pengaruh penurunan harga tarif listrik dan bensin,” katanya.

Dengan demikian, inflasi tahun kalender Januari-Februari 2016 telah tercatat 0,42 persen dan inflasi tahunan (year on year) mencapai 4,42 persen.

Sementara itu, inflasi komponen inti pada Februari tercatat 0,31 persen dan inflasi komponen inti tahunan (year on year) tercatat sebesar 3,59 persen.

Suryamin mengatakan pada bulan Februari ini, kelompok bahan makanan menyumbang deflasi sebesar 0,58, yang diikuti oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,45 persen, dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,15 persen.

Meskipun demikian, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,63 persen, diikuti kelompok sandang sebesar 0,64 persen, kelompok kesehatan 0,26 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebanyak 0,06 persen.

Baca juga artikel terkait BADAN PUSAT STATISTIK atau tulisan lainnya

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara