BPS: Daging Ayam, Tomat & Tiket Pesawat Sumbang Deflasi Agustus

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 1 September 2020
Dibaca Normal 1 menit
Deflasi Agustus 2020 terjadi karena penurunan harga komoditas seperti makanan, minuman, dan tembakau serta pengeluaran transportasi.
tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Agustus 2020 terjadi deflasi senilai 0,05 persen. Deflasi kedua setelah Juli 2020 ini disebabkan karena penurunan harga komoditas antara lain dari kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau serta pengeluaran transportasi.

“Jadi dari sisi kelompok pengeluaran terjadi deflasi 0,05 persen Agustus 2020 disebabkan turunnya harga daging ayam ras, tomat dan tarif angkutan udara,” ucap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Selasa (1/9/2020).

Secara lebih rinci, kelompok pengeluaran makanan, minuman, tembakau mengalami deflasi 0,86 persen. Andil deflasinya mencapai 0,22 persen lebih dalam dari andil deflasi umum 0,05 persen.

Dari kelompok ini, daging ayam ras menyumbang andil deflasi terbesar sebanyak 0,09 persen. Selanjutnya diikuti bawang merah dengan deflasi 0,07 persen dan harga tomat dengan deflasi 0,02 persen.

Sementara itu, komoditas lainnya umumnya mengalami deflasi 0,01 persen. Antara lain, telur ayam ras, bayam, ketimun, jeruk, pisang, gula pasir. Meski demikian BPS mencatat minyak goreng dan rokok kretek filter masih memberi andil inflasi 0,01 persen.

Kelompok penyumbang deflasi kedua adalah transportasi dengan angka 0,14 persen. Andil deflasinya 0,02 persen. Penyumbangnya, antara lain tarif angkutan udara dengan andil deflasi 0,02 persen.

Penurunan tarif angkutan udara terjadi di 25 kota IHK. Penurunan tarif terbesar di Ternate, Maluku Utara turun 20 persen dan Sintang, Kalimantan Barat turun 17 persen.

Di antara deflasi komoditas ini, BPS tetap mencatat adanya kelompok pengeluaran yang menghambat deflasi. Salah satu kelompok terbesar adalah pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 2,02 persen. Andil inflasinya mencapai 0,13 persen.

Salah satu penyebabnya, kenaikan harga emas dan perhiasan. Kenaikan terbesar harga terjadi di Pangkal Pinang, Bangka Belitung sebanyak 31 persen. Lalu Palangkaraya, Kalimantan Tengah dengan kenaikan 22 persen.

“Sudah banyak diduga kenaikan harga emas perhiasan memberi andil inflasi 0,12 persen. Kenaikan harga emas perhiasan terjadi di seluruh 90 kota pemantauan IHK,” ucap Suhariyanto.

Sementara itu, inflasi juga disumbang oleh kenaikan harga kelompok pengeluaran pendidikan. Inflasinya mencapai 0,57 persen dengan andil 0,03 persen. Kenaikan uang sekolah SD, SMP, SMA, akademi dan perguruan tinggi menyumbang andil inflasi masing-masing senilai 0,01 persen.


Baca juga artikel terkait DEFLASI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Maya Saputri
DarkLight