BPS Catat Sektor Pertanian Kuartal I 2020 Tak Bertumbuh

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 6 Mei 2020
Dibaca Normal 1 menit
BPS mencatat sektor pertanian tumbuh stagnan alias nyaris tidak bertumbuh sama sekali di kuartal I (Q1) 2020.
tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertanian tumbuh stagnan alias nyaris tidak bertumbuh sama sekali di kuartal I (Q1) 2020. Nilai PDB pertanian pada Q1 2020 hanya tumbuh 0,02 persen melambat dari Q1 2019 yoy yang masih tumbuh 1,82 persen.

Di sisi lain, pertanian memiliki peran penyumbang terbesar ketiga dalam struktur PDB Indonesia dengan porsi 12,84 persen per Q1 2020.

“Pertanian menempati posisi ketiga tapi tumbuhnya stagnan,” ucap Kepala BPS Suhariyanto dalam siaran live di akun Youtube BPS, Selasa (5/5/2020).

Suhariyanto mencatat di tengah stagnansi sektor pertanian, pertumbuhan sektor tanaman pangan mengalami kontraksi 10,31 persen di Q1 2020. Kontraksi ini terjadi lebih dalam dari Q1 2019 yang berkisar 5,93 persen.

Ia bilang penyebabnya adalah pergeseran musim panen raya yang biasanya jatuh pada Maret seperti tahun 2019 lalu. Pada tahun 2020 ini, ia bilang panen raya malah terjadi April 2020.

“Jadi [dampak panen raya] keliatan di Q2. Kita harapkan Q2 bisa kontribusi positif,” ucap Suhariyanto.

Sementara itu, pertumbuhan subsektor lainnya mengalami perlambatan. Subsektor tanaman hortikultura misalnya melambat menjadi 2,55 persen meski sempat tumbuh 6,18 persen pada Q1 2019. Peternakan hanya tumbuh 2,86 persen melambat dari Q1 2019 yang hanya 7,96 persen.



Jasa pertanian dan perburuan mengalami kontraksi 1,39 persen padahal tahun 2019 masih tumbuh 1,82 persen. Perikanan juga sama hanya tumbuh 3,52 persen. Melambat dari Q1 2019 yang masih tumbuh 5,66 persen.

Sektor yang masih tercatat tumbuh positif adalah kehutanan dan penebangan kayu dengan capaian 5,31 persen di Q1 2020. Lebih baik dari Q1 2019 yang kontraksi 2,84 persen. Lalu subsektor tanaman perkebunan yang tumbuh 3,97 persen lebih baik dari Q1 2019 3,36 persen.

“Kehutanan dan penebangan kayu didorong oleh kenaikan produksi kayu tanaman,” ucap BPS.

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo mengeluhkan adanya defisit pangan di berbagai daerah. Ia mencatat stok beras defisit di 7 provinsi, stok jagung defisit di 11 provinsi, cabe besar defisit di 23 provinsi, stok cabe rawit defisit di 19 provinsi, stok bawang merah diperkirakan defisit di 1 provinsi kemudian Stok telur ayam defisit di 22 provinsi.

Ia pun meminta agar berbagai gangguan pengiriman sembako segera dibereskan. Sementara itu, daerah yang kelebihan pasokan bisa membantu daerah yang kekurangan.


Baca juga artikel terkait BPS atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Maya Saputri
DarkLight