Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami 11 kali gempa guguran pada Kamis (25/4/2019).

Hal itu dikatakan Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida dalam keterangan resmi BPPTKG seperti dikutip dari Antara.

Hanik menyebutkan total 11 kali gempa guguran yang terekam pada dua periode pengamatan mulai pukul 00.00 WIB hingga 12.00 WIB.

Pada periode pengamatan mulai pukul 00:00 WIB hingga 06:00 WIB, gempa guguran di Gunung Merapi memiliki amplitudo 19-50 mm dengan durasi 40-100 detik.

Sedangkan pengamatan mulai pukul 06:00 WIB hingga 12:00 WIB gempa guguran tercatat memiliki amplitudo 3-35 mm dengan durasi 31-80 detik.

Selain gempa guguran, menurut BPPTKG juga mencatat dua kali gempa hembusan dengan amplitudo dua hingga tiga mm dengan durasi 15-16.5 detik, serta gempa hybrid satu kali dengan amplitudo tiga mm selama enam detik.

Hasil pengamatan visual pada pukul 06:00 hingga 12:00 WIB, asap kawah tidak teramati. Cuaca di gunung itu berawan dan mendung.

Angin bertiup lemah ke arah timur laut dengan suhu udara 18-29 derajat celsius, kelembaban udara 63-76 persen, serta tekanan udara 568-707 mmHg.

Hingga saat ini BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada.

BPPTKG sementara juga tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sehubungan semakin jauhnya jarak luncur awan panas guguran Merapi, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat juga diminta tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi, kantor BPPTKG, serta melalui media sosial BPPTKG.