BPOM: Penjualan Kosmetik Ilegal Via Online Sentuh Rp17 Miliar

Oleh: Haris Prabowo - 14 November 2018
Kosmetik ilegal yang dijual online banyak mengandung bahan berbahaya.
tirto.id - Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito mengatakan pihaknya menemukan penjual kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya secara online total senilai Rp17 miliar. Ia mengatakan kebanyakan penjualan dilakukan lewat sistem e-commerce.

"Sekarang sudah sampai Rp17 miliar satu operasi. Bagaimana itu isinya ada obat tradisional, obat langsing, obat kuat, semua diperdagangkan secara online. Dan itu semua ilegal dan ada juga yang mengandung bahan berbahaya," katanya saat konferensi pers, Rabu (14/11/2018) pagi.

Penny mengatakan pihaknya akan terus melakukan pengawasan di ranah penjualan online oleh pihak deputi masing-masing.

Terkait dengan banyaknya penjualan di online, Penny mengaku bawa hal tersebut terjadi akibat adanya salah satu regulasi tertentu.

"Sekarang ini ada peraturan yang terkait dengan pemasukan yang tidak dilakukan border, tapi dilakukan di post-border, ternyata itu menimbulkan satu potensi bahaya, karena produk tanpa izin edar yang akhirnya beredar. Produk tanpa izin edar itu ada kemungkinan pasti berbahaya. Kemungkinan tidak aman. Akhirnya mereka kemudian dijual melalui online," katanya.

Penny juga mengaku telah meminta asosiasi yang menaungi para perusahaan e-commerce untuk mengawasi para anggotanya.

"Yang sekarang jadi tugas kita semua karena e-commerce semakin berkembang. Ada asosiasi yang punya kewajiban menata para anggotanya. Dan memeriksa produk yang dijual itu apa. Karena ada potensi bahaya," katanya.

Ia mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan para pengusaha e-commerce, kendati belum ada perjanjian khusus terkait pengawasan ini.

"Hingga saat ini mungkin belum ada MOU. Kedepannya sedang kita coba, sudah komunikasi, kok. Harus dilanjutkan dengan MOU," kata Penny.


Baca juga artikel terkait KOSMETIK ILEGAL atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Yantina Debora
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live