BPNB: Lebih dari 10 Ribu Rumah Terdampak Banjir di Sanggau Kalbar

Reporter: - 17 November 2021
Dibaca Normal 1 menit
Banjir di sejumlah wilayah Sanggau, Kalimantan Barat, belum surut sejak 25 Oktober lalu.
tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 10.520 rumah terdampak banjir di Sanggau, Kalimantan Barat. Banjir menggenangi sejumlah wilayah di Sanggau sejak akhir Oktober lalu.

"Sudah lebih dari tiga pekan terakhir wilayah Sanggau terendam banjir, terhitung sejak Senin (25/10/2021) hingga saat ini, 10.520 rumah masih terdampak," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Selasa (16/11/2021) malam.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sanggau, sejumlah wilayah administratif di Kabupaten Sanggau masih tergenang banjir.

Adapun wilayah yang masih tergenang antara lain Kecamatan Kapuas, Kecamatan Mukok, Kecamatan Tayan Hilir, Kecamatan Toba dan Kecamatan Meliau. Sedangkan untuk Kecamatan Jangkang saat ini banjir sudah surut dan tidak ada lagi rumah warga yang tergenang.

Disebutkan ebanyak 10.520 unit rumah warga terdampak dengan ketinggian muka air saat ini terpantau berkisar 10-50 sentimeter.

Sementara itu, dilaporkan juga terdapat 468 kepala keluarga (KK) mengungsi: 405 KK di Kecamatan Kapuas, 41 KK di Kecamatan Mukok, dan 22 KK di Kecamatan Toba.

"Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sanggau dibantu elemen masyarakat dan pemerintah setempat berkoordinasi untuk memberikan penanganan berupa suplai logistik serta melakukan evakuasi pada korban terdampak," kata dia

Selain itu, diimbau melalui perangkat desa di daerah agar melakukan pemantauan dan melaporkan kondisi banjir di setiap kecamatan terdampak.

Berdasarkan peta analisis sifat hujan dasarian I BMKG pada bulan November 2021, sebagian besar wilayah Kalimantan masih berada pada ambang batas normal dengan persentase 85-115 persen.

Meski demikian, BNPB mengimbau untuk tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi fenomena La Nina.

"Pengendalian pemanfaatan ruang terbuka dapat dijalankan agar mampu menekan laju deforestasi serta fungsi lahan maupun hutan dapat dikembalikan sebagai daerah penyerapan air yang optimal," demikian Abdul Muhari.


Baca juga artikel terkait BANJIR KALIMANTAN BARAT atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Sumber: Antara
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight