Boros Paket Data di Bulan Puasa

infografik peningkatan aktivitas online selama ramadan
Ilustrasi. FOTO/Istock
Oleh: Ahmad Zaenudin - 22 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Konsumsi video berbasis internet selama Ramadan meningkat saat sahur hingga menjelang berbuka puasa.
tirto.id - Aktivitas selama Ramadan bukan hanya soal ibadah yang meningkat. Aktivitas di dunia maya, terutama sebagai pengisi waktu selama berpuasa juga meningkat. Konsekuensi ini berimbas pada penggunaan data pengguna smartphone.

Data yang dipublikasikan Statista, rata-rata pengguna internet di seluruh dunia, pada 2018 menghabiskan 4,1 GB data internet tiap bulan. Pada masa Ramadan, kebutuhan data internet meningkat. Indikatornya, tiga media sosial, YouTube, Facebook, dan Twitter, melaporkan bahwa terjadi kenaikan perilaku konsumsi video selama Ramadan.


Dalam laporan “Tren dan Insight: Perilaku Masyarakat Indonesia Selama Ramadan” yang digelar Google Indonesia, terungkap perbedaan perilaku pengguna YouTube selama Ramadan. Di bulan suci, waktu menonton alias watch time pengguna YouTube di Indonesia meningkat hingga 50 persen. Salah satu alasannya, adanya penambahan prime time di Ramadan. Jika di bulan-bulan biasa prime time terjadi selepas pukul 7.00 WIB, di Ramadan waktunya bergeser ke pukul 03.00 WIB hingga 04.00 WIB atau waktu sahur.

Selain prime time di saat sahur, pada pukul 11.00 dan jam makan siang waktu sibuk menonton video di YouTube juga terjadi. Yudistira Nugroho, Industry Analyst Google Indonesia, dalam pemaparannya mengatakan puncak menonton video di YouTube pun terjadi di jam-jam menjelang berbuka puasa atau ngabuburit, tetapi tak setinggi jam makan siang, yang menurutnya sukses “diganti dengan menonton video.”

Media sosial video yang didirikan Jawed Karim, Chad Hurley, dan Steve Chen tersebut, selama Ramadan memiliki beberapa tema video khusus yang mengemuka. Tema itu antara lain tentang lagu rohani, ceramah, hingga tutorial hijab. Tema-tema tersebut mengalami peningkatan pencarian hingga 1,5 kali lipat di YouTube.

Di jagat Twitter pun mengalami tren yang sama. Dalam rilis berjudul “#Ramadan2018 Indonesia” secara umum terjadi peningkatan aktivitas penggunaan Twitter per menit hingga 19 persen. Para pengguna Twitter, selama bulan Ramadan, mencuit lebih banyak 32 persen dibandingkan bulan-bulan lainnya. Para pengguna Twitter, sebut rilis tersebut, mengkonsumsi konten video lebih besar hingga 157 persen.

Dalam laporan berjudul “Ramadan on Facebook: in Indonesia,” media sosial yang sempat terkena skandal Cambridge Analytica itu pun mengalami hal yang sama. Lebih dari 96 juta pengguna Facebook yang berasal dari Indonesia, selama sebelum dan sesudah puasa para pengguna Facebook menonton konten video lebih banyak hingga 23 persen. Selain mengonsumsi, para pengguna Facebook pun tak lupa berbagi. Dari laporan itu disebut bahwa ada peningkatan 2,8 persen unggahan yang memuat konten video di Facebook.

Konsumsi video yang tinggi, yang terjadi di tiga media sosial di atas, mewajibkan para pengguna internet memiliki paket data yang mumpuni. Yudistira mengatakan bahwa ada korelasi antara fenomena meningkatnya aktivitas menonton video dengan pencarian hal-hal terkait paket internet melalui Google. Menurutnya, “pencarian tentang paket online video naik tiga kali lipat atau 400 persen dibandingkan bulan biasa.”

“Kita nonton video, butuh paket data. Orang Indonesia rela keluar duit banyak buat paket video. Orang banyak mencari paket video streaming. Sementara itu para provider banyak menawarkan paket-paket video secara free. Ini yang men-drive kenaikan konten video saat Ramadan,” kata Yudistira.

Apa yang diungkap Yudistira memang beralasan. Di Ramadan, provider telekomunikasi ramai-ramai menawarkan paket internet yang menarik hati pelanggannya. XL Axiata misalnya, mereka membuat program #JadiLebihBaik. Beberapa penawaran yang ada di program ini adalah diskon 60 persen bagi pelanggan pascabayar. Ada pula paket Parsel, paket internet sahur dan ngabuburit bagi pelanggan Axis, sebagai merek di bawah naungan XL Axiata.

Indosat Ooredoo menawarkan paket “Unlimited,” yang menawarkan akses tanpa batas pada YouTube dan aplikasi populer seperti Go-Jek dan WhatsApp, yang bisa ditebus pelanggannya mulai dari Rp5 ribu.



Bukan Cuma Video


Secara umum aktivitas online memang meningkat. Jakpat, dalam survei berjudul “Indonesian Ramadan Habit 2017” menyebut bahwa 86,68 persen responden mengatakan bahwa aktivitas yang dilakukan selama Ramadan ialah berselancar di dunia maya menggunakan perangkat mobile. Dalam rentang usia yang lebih spesifik, dengan umur antara 16-19 tahun, atau 20,61 persen responden mengatakan bahwa mereka beraktivitas berselancar di dunia maya lebih banyak dibandingkan di bulan-bulan lainnya.

Tingginya aktivitas maya selama Ramadan dibenarkan oleh provider telekomunikasi. Deva Rachman, Head of Corporate Communication Indosat Ooredoo, dalam rilis yang ia sampaikan mengatakan bahwa layanan data Indosat, mengantisipasi Ramadan, telah ditingkatkan menjadi 11.394 Terabyte per hari. Diperkirakan, lalu-lintas data akan meningkat 83,7 persen dibandingkan tahun lalu.

Denny Abidin, General Manager (GM) External Communication Telkomsel, melalui pesan instan mengatakan "selama bulan puasa pasti ada kenaikan". Selama Ramadan dan sesudahnya, hari Lebaran merupakan momen paling tinggi pemanfaatan data oleh pelanggan Telkomsel. Pada 2017 lalu, ada lonjakan layanan data hingga 136 persen, atau berada di angka 6.000 Terabyte. Lonjakan data dipengaruhi terutama oleh media sosial, yang menyumbang 36 persen lalu-lintas, dan video streaming sebanyak 29 persen.


Meningkatnya aktivitas internet mewajibkan para penggunanya menghabiskan dana lebih besar. Mengutip data yang dipaparkan Statistic Brain, rata-rata setiap orang di seluruh dunia menghabiskan uang senilai $19 untuk memperoleh akses internet setiap bulan. Di bulan Ramadan, khususnya bagi umat Muslim, angka tersebut diprediksi meningkat, tak kecuali di Indonesia pada Ramadan kali ini.

Baca juga artikel terkait INTERNET atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight