Bolehkah Puasa Ramadhan Tapi Tidak Sholat Tarawih & Apa Hukumnya?

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif, tirto.id - 12 Apr 2022 18:52 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Bolehkah puasa Ramadhan tapi tidak sholat tarawih? Apa hukum tidak mengerjakan shalat tarawih?
tirto.id - Seorang muslim menjalankan puasa Ramadhan pada siang hari, tapi tidak mengerjakan shalat tarawih pada malam harinya, diperbolehkan dalam Islam. Meskipun demikian, mengingat pahala pada bulan Ramadan dilipat-gandakan, seorang muslim dapat mengisi bulan tersebut dengan banyak amalan, salah satunya dengan menunaikan salat tarawih.

Salah tarawih merupakan ibadah yang khusus dilakukan pada malam hari bulan Ramadan. Mayoritas ulama mengatakan hukum salat tarawih adalah sunnah muakkad (dianjurkan pelaksanaannya namun tidak wajib). Salat tarawih dapat dikerjakan secara berjemaah maupun sendirian (munfarid).

Salat tarawih, pada mulanya disebut qiyam Ramadhan, dikenal sebagai ibadah salat sunah malam yang dikerjakan oleh Nabi. Diriwayatkan, Rasulullah saw. tidak melakukan salat tarawih setiap malam Ramadan, karena khawatir umat Islam menganggap ibadah ini wajib.


Dari jalur Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. memberikan motivasi untuk mengerjakan (shalat pada malam) Ramadlan dengan tidak mewajibkannya. Beliau bersabda, "Barangsiapa yang menunaikan (shalat pada malam) Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni."

Kemudian Rasulullah saw. wafat, sementara perkara itu tetap seperti itu. Demikian pula pada kekhilafahan Abu Bakar hingga permulaan kekhalifahan Umar. (H.R. Muslim)

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, menyaksikan keadaan umat yang shalatnya tidak rapi, shalat tarawih dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Sejak saat itu, salat tarawih dilaksanakan oleh muslim hampir di seluruh dunia secara berjamaah pada malam hari Ramadan.


Hukum Puasa Ramadhan Tapi Tidak Shalat Tarawih


Puasa Ramadan tapi tidak salat tarawih diperbolehkan dalam Islam. Kembali kepada asal hukumnya, salat tarawih hanya sunnah muakkad, bukan wajib, sekalipun banyak dilakukan di masjid, musala, atau tempat ibadah lainnya sepanjang malam hari Ramadan.

Mereka yang berpuasa namun tidak menjalankan salat tarawih juga tidak mendapat dosa. Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadis riwayat Aisyah ra. tidak melaksanakan salat tarawih setiap malam, karena khawatir ibadah ini dianggap wajib oleh umatnya.

“Pada suatu malam, Nabi SAW berada di dalam masjid, beliau salat dan diikuti oleh para sahabat. Di hari berikutnya Nabi salat seperti di hari pertama dan jemaah yang mengikutinya bertambah banyak.


Kemudian, di hari ketiga atau keempat sahabat berkumpul di masjid untuk menanti kedatangan Nabi untuk salat jemaah tarawih bersama-sama. Namun, Nabi tidak kunjung hadir hingga subuh. Beliau menjelaskan perihal ketidakhadirannya di masjid semalam, beliau bersabda:

‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidaklah mencegahku untuk keluar shalat bersama kalian kecuali aku khawatir shalat ini difardukan atas kalian. Perawi hadis menjelaskan bahwa yang demikian itu terjadi di bulan Ramadan.’” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Meskipun seorang Islam yang tidak salat tarawih tidak berdosa, mereka diibaratkan kehilangan peluang untuk menambah pahala dan mendapatkan keutamaan dari shalat tarawih.

Salah satu keutamaann shalat tarawih adalah dihapuskan dosa yang telah lalu bagi pelaku ibadahnya. Hal ini dijelaskan dalam hadis riwayat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang sembahyang malam Ramadhan (tarawih) iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu diampuni,” (HR Bukhari dan Muslim).

Tidak hanya itu, dalam sumber hadis lain dari Abu Dzar dikatakan bahwa pahala salat tarawih setara dengan ibadah qiyam satu malam penuh sebagai berikut.

“Nabi Muhammad SAW pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya, lalu bersabda ‘Siapa yang sholat bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.’”(H,R. Ahmad)

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2022 atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Fitra Firdaus

DarkLight