BNPB Ungkap Metode Pelaku Pembakaran Hutan

Oleh: Alfian Putra Abdi - 28 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Wisnu Widjaja memaparkan salah satu cara yang digunakan membakar hutan adalah menggunakan tikus yang ekornya diikat dengan tali lalu dibakar dan dilepas.
tirto.id - Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Wisnu Widjaja memaparkan dari beberapa kasus yang terjadi, para pembakar hutan selalu punya cara yang membuat mereka sukar dibekuk.

"Ada yang pakai obat nyamuk kemudian dikasih sumbu. Begitu dua jam, tiga jam habis, sumbunya kena, solar di sana terbakar. Jadi yang membakar sudah tidak ada di situ," ujarnya.

Ia melanjutkan, "Ada yang lebih kejam lagi. Ada yang pakai tikus, ekornya diikat, dibakar dan dilepas."

Sehingga ia mengatakan persoalan kebakaran hutan yang terjadi di Riau tak mudah untuk diatasi.

Sebab menurutnya terkadang ada faktor manusia di dalamnya dan itu yang sukar di untuk atasi, meski tak juga mustahil.

Ia mengibaratkannya seperti bermain cerdik dengan maling yang ingin merampok rumah. Ketika penghuni rumah sudah siap dengan persiapan matang, sang maling jauh lebih siap dengan strateginya yang lain.

"Upaya luar biasa kita lakukan. Ibaratnya kalau kita di perumahan ini urusan kita dengan maling. Kita mencoba seratus persen susah sekali," ujarnya di kantornya, Jakarta Timur, Kamis (28/2/2019).

Terlepas dari itu, faktor kebakaran hutan bisa disebabkan tiga faktor, yakni oksigen, bahan bakaran yang mudah terbakar, dan adanya panas.

"Kalau sudah memenuhi, air tanah sudah turun di bawah 40 sentimeter itu artinya bahan bakaran berupa gambut kering itu berpotensi terbakar sangat mudah. Rokok saja dilepas bisa membakar," ujarnya.

Merujuk data yang dikeluarkan BNPB, dari 1 Januari sampai dengan 26 Februari 2019. Total luas kebakaran hutan di Provinsi Riau mencapai 1178,41 haktare per kabupaten dengan rincian: Rohil 144 ha, Dumai 65,5 ha, Bengkalis 837 ha, Meranti 20.4 ha, Siak 30 ha, Pekanbaru 21,51 ha, Kampar 19 ha, Pelalan 3 ha, dan Inhil 38 ha.

Sedangkan upaya pemadaman melalui udara dengan hujan buatan juga dikerahkan melalui tujuh helikopter, yang masing-masing berasal dari KLHK satu unit, Sinarmas Group dua unit, TNI AU dua unit, BNPB dua unit, dan satu pesawat Casa 212.

"Itulah tantangan yang kita hadapi. Selama tiga tahun ini saya kira kita cukup berhasil untuk menahan itu. Tetap terjadi pembakaran, tetapi tidak meluas. Ini yang kita upayakan mati-matian," tandasnya.



Baca juga artikel terkait KEBAKARAN HUTAN atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari