Menuju konten utama

BNPB Luncurkan Portal Kajian Risiko Bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meluncurkan inaRISK, sebuah portal kajian risiko bencana, perangkat dilengkapi dengan pengamatan pengurangan indeks risiko bencana di Indonesia, data populasi penduduk yang tinggal di daerah terpapar ancaman bencana, dan perhitungan kemungkinan kerugian.

BNPB Luncurkan Portal Kajian Risiko Bencana
(Ilustrasi) Foto udara kondisi rumah warga yang tergenang banjir di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Rabu (26/10). ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin.

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meluncurkan inaRISK, sebuah portal kajian risiko bencana pada Kamis (10/11/2016). Sesuai rilis yang dikeluarkan BNPB, inaRISK dilengkapi dengan perangkat pengamatan pengurangan indeks risiko bencana di Indonesia. Di dalamnya terdapat akses terhadap data populasi penduduk yang tinggal di daerah terpapar ancaman bencana dan perhitungan kemungkinan kerugian per provinsi, kabupaten, dan kota.

Risiko-risiko yang termasuk di dalamnya dikategorikan BNPB pada 10 ancaman bencana yaitu gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, dan gelombang ekstrem.

“Semua pihak bisa menggunakan data pada portal ini sebagai rujukan bersama, sebagaimana Kementerian Agraria dan Tata Ruang menggunakannya untuk rencana tata ruang wilayah (RTRW)," ucap Kepala BNPB Willem Rampangilei, seperti dilansir dari Antara.

Portal inaRISK dibangun dengan basis server GIS yang memungkinkan aktivitas monitoring indeks bencana kawasan Indonesia dilakukan oleh pengguna dari seluruh dunia. Portal ini juga mudah digunakan karena pengguna tidak perlu memahami GIS terlebih dahulu dan bisa langsung menggali informasi sesuai kebutuhan.

Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja menambahkan bahwa identifikasi risiko bencana merupakan langkah awal dari penanggulangan bencana. Data risiko bencana ini nantinya dapat menjadi peringatan dini atas bencana, seperti yang sedang dikembangkan BNPB menjadi sistem peringatan dini multibencana.

Menurut Wisnu, upaya BNPB membangun portal inaRISK memerlukan waktu tujuh tahun, dimulai dari pengumpulan data dan menyepakati metodologi yang digunakan. Portal ini menjadi penting mengingat pada 2009 masing-masing instansi masih menggunakan metode yang berbeda-beda dan rumit dalam memetakan dan melakukan kajian risiko bencana.

Portal inaRISK juga sangat membantu mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan bencana. Kajian terhadap kemungkinan bencana bisa mengurangi kerugian yang dapat terjadi.

Peluncuran inaRISK berkaitan dengan RPJMN 2015-2019 yang dicanangkan pemerintah. RPJMN menargetkan penurunan indeks risiko bencana sebesar 30 persen di 136 kabupaten/kota pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Strategi yang dilakukan adalah memperkuat kapasitas penanggulangan bencana di daerah dan masyarakat, salah satunya melalui portal inaRISK.

Baca juga artikel terkait BNPB atau tulisan lainnya dari Mutaya Saroh

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Mutaya Saroh