BMW & Mercedes-Benz: Musuh di Depan, Teman di Belakang

Oleh: Dio Dananjaya - 30 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
BMW dan Mercedes-Benz saling klaim jadi yang terbaik di industri otomotif. Seperti apa persaingan keduanya?
tirto.id - Bagi sebagian orang, pensiun berarti istirahat. Bagi sebagian lain, pensiun bisa juga memanen buah dari kerja keras selama hidup, mencoba hal-hal baru, atau hidup tenang bersama pasangan. Namun, dalam iklan 'nakal' yang dibuat olah BMW, pensiun bagi CEO Mercedes-Benz Dieter Zetsche (66) sama dengan menikmati berkendara dengan mobil buatan BMW dengan bebas.

Video iklan yang dibuat BMW untuk mengenang saat pensiun Zetsche itu memang unik dan lucu. Diunggah di akun Youtube BMW pada 22 Mei 2019 lalu, video tersebut memperlihatkan seorang aktor yang berperan sebagai Zetsche, lengkap dengan kumis dan kacamata tanpa bingkai, sedang menjalani hari terakhirnya di tempat ia bekerja, kantor Mercedes.

Zetsche gadungan menyerahkan kartu identitasnya, mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa karyawan, dan melakukan beberapa kali foto narsis, sebelum dibawa pulang oleh sedan hitam Mercedes-Benz S-Class yang dikemudikan oleh sopir. Sang sopir kemudian menurunkannya di halaman rumah.

Tidak ada yang aneh sepanjang 28 detik video itu berjalan. Kejutan baru muncul pada adegan terakhir, setelah layar sempat menggelap beberapa detik. Zetsche palsu itu tiba-tiba muncul dalam adegan yang tidak biasa. Ia mengendarai mobil sport beratap terbuka BMW i8 berwarna tembaga. Seketika mobil meraung, meluncur ke luar rumah, disertai dengan tulisan: Free at Last.


Video berakhir dengan sebuah ucapan yang mengatakan, "Terima kasih, Dieter Zetsche, untuk kompetisi yang menginspirasi selama bertahun-tahun," diikuti dengan logo BMW dan tagline-nya, Sheer Driving Pleasure.

Zetsche memang benar telah turun dari tahta Mercedes setelah 13 tahun memimpin perusahaan itu menghadapi tantangan transisi ke mobil listrik dan teknologi transportasi digital. Ia menerima tepuk tangan panjang dari para pemegang saham pada pertemuan umum perusahaan - yang sekaligus jadi hari terakhirnya bekerja - pada 23 Mei 2019 lalu.

Dilansir dari Autoblog, Zetsche berhasil mengeluarkan Mercedes-Benz dari masalah dengan Chrysler Corp pada 2007. Ia juga mendapat pujian selama bertahun-tahun atas laba perusahaan yang kuat setelah resesi hebat tahun 2009.

Rival tapi Mesra

Walau kini terkesan mulai surut, persaingan antara Mercedes-Benz dan BMW sejatinya telah berlangsung sejak awal abad ke-19. Sebagai catatan, Mercedes-Benz awalnya lahir dari bergabungnya perusahaan Daimler-Motoren-Gesellschaft (DMG) dan Karl Benz pada 1926.


BMW, sementara itu, pada awalnya merupakan perusahaan pesawat terbang Perusahaan ini baru mulai masuk di industri otomotif dengan memproduksi sepeda motor. Mereka pertama meluncurkan mobil di tahun 1932, dan pernah mengalami fase kritis, yakni ketika nyaris mengalami kebangkrutan di tahun 1959.

Dilansir Top Speed, Mercedes-Benz bahkan pernah sampai mencoba untuk membeli BMW sekitar enam dekade lalu. Sejak saat itulah, persaingan menjadi sangat sengit. Bisa diibaratkan, situasi mereka seperti Coke dan Pepsi, atau tokoh kartun Tom dan Jerry.

Pada dekade-dekade berikutnya, kedua pabrikan saling bersaing menerapkan teknologi terkini pada produknya. Fitur yang diluncurkan dalam kendaraan produksi mereka pun berkembang pesat, mengalahkan kelengkapan mobil-mobil keluaran Jepang maupun Amerika Serikat. Hingga kini, jajaran produk BMW dan Mercedes-Benz menunjukkan duel tanpa henti.

Dalam hampir semua cara, kedua produsen mobil asal Jerman itu adalah rival. Semua model yang ditawarkan BMW dan Mercedes-Benz pada berbagai segmen pasti memiliki padanannya satu sama lain. Produsen lain juga ikut bersaing di segmen premium, misalnya Audi, Jaguar, atau Lexus. Namun, tak ada dari mereka yang menjadi pesaing serius dari BMW dan Mercedes-Benz. Selama bertahun-tahun, kedua perusahaan melakukan pengembangan model yang saling mengisi.

Kendati demikian, keduanya tetap punya ruangan untuk saling menghormati satu sama lain. BMW, misalnya, tak memasuki beberapa segmen menarik yang dimiliki Mercedes, meski punya kemampuan untuk memilikinya, begitu pula sebaliknya. Hingga kini, BMW belum masuk ke segmen komersial lewat produk truk maupun bus. Mercedes-Benz, sementara itu, juga belum bermain di industri sepeda motor yang telah dimasuki BMW.


Keduanya juga melakukan sejumlah kerja sama, utamanya untuk mengatasi masalah yang juga dirasakan sebagian besar perusahaan otomotif, seperti kemunculan mobil otonom dan persaingan pada kendaraan listrik. Untuk hal-hal itu, tampaknya BMW dan Mercedes-Benz akan mengesampingkan persaingan sengit dalam mewujudkannya.

"Kami ingin tetap menjadi pesaing. [Tapi] Pada saat yang sama, inilah saat yang tepat untuk melakukan sesuatu bersama," ungkap Dieter Zetsche usai melakukan kesepakatan dengan BMW seperti yang dilansir dari Jalopnik.

Kedua pabrikan disebut telah melakukan pembicaraan untuk berkolaborasi, seperti yang terjadi akhir 2018 lalu. Dilansir Bloomberg, BMW dan Mercedes akan bekerja sama dalam pengembangan sejumlah hal-hal penting dalam industri otomotif, seperti platform kendaraan, baterai kendaraan listrik, hingga teknologi mobil otonom. Artinya, kabar ini sekaligus membuka peluang kendaraan seperti BMW Seri 2 atau Mercedes-Benz A-Class dapat berbagi berbagai macam hal.

Upaya ini diharapkan dapat mengurangi biaya pengembangan untuk kendaraan generasi berikutnya, juga mencegah terlambatnya model konvensional dalam mengikuti tren dan bertahan dari serbuan kompetitor.

Kerja sama ini dilakukan selepas penjualan BMW dan Mercedes-Benz yang mengalami penurunan pada 2018. Situasi perang dagang dan juga biaya pengembangan membuat konsumen sulit mendapatkan mobil yang mereka butuhkan.

Kedua perusahaan ini juga sudah menargetkan akan masuk ke pasar mobil listrik secara bertahap. Mercedes akan menambah 10 model mobil listrik hingga empat tahun ke depan, sementara BMW akan menambah 12 electric vehicle sampai 2025.

Terkait mobil otonom dan masa depan transportasi, Dieter Zetsche, mengatakan bahwa, "Ini adalah bidang di mana kita [BMW dan Mercedes] bisa lebih kuat jika bersama daripada secara terpisah,” katanya seperti dikutip dari The Verge.

"Kita bisa menggabungkan kekuatan dan menjadi juara. Ini adalah visinya," timpal Harald Kruger, Chairman of BMW.

Infografik BMW vs Mercedes benz
Infografik BMW vs Mercedes benz. tirto.id/Nadya


BWM dan Mercedes-Benz disebut telah berniat mengumumkan rencana mereka pada Maret 2018, tetapi rencana tersebut memerlukan persetujuan regulator terlebih dahulu. Melalui kerja sama ini, dua pabrikan Jerman ini nantinya akan membentuk lima perusahaan terpisah.

Yang pertama adalah Reach Now untuk layanan multimodal. Kemudian ada Charge Now untuk layanan pengisian daya kendaraan listrik. Free Now untuk transportasi taksi. Park Now untuk jasa perparkiran. Terakhir, Share Now untuk berbagi tumpangan dengan orang lain. Setiap bisnis nantinya akan memiliki CEO sendiri, sementara kedua produsen kendaraan berfungsi sebagai pemegang saham, yang tidak akan menggangu operasi perusahaan-perusahaan itu.

Sebelumnya, selama bertahun-tahun, kedua perusahaan mengoperasikan bisnis mobilitas mereka masing-masing. BMW dengan Reach Now dan Drive Now, layanan berbagi tumpangan di Eropa dan AS. Mercedes-Benz, sementara itu, memiliki layanan Car2Go, sebuah jaringan untuk berbagi tumpangan mirip dengan Uber. Layanan-layanan itu nantinya akan diganti namanya sesuai ketentuan usaha patungan ini.

Namun, tak semua usaha mobilitas akan tunduk pada ketentuan tersebut. Sebagai contoh, Mercedes telah berencana meluncurkan layanan taksi bersama penyedia komponen Bosch di California, AS, pada semester kedua 2019. Layanan on-demand ini akan dioperasikan lewat perusahaan Daimler Mobility Services.

Begitu pula dengan BMW. Mereka sudah berencana untuk membuat mobil listrik self-driving pada 2021. Selain BMW, para pencetusnya termasuk Intel, Mobileye, Fiat Chrysler. Mereka bekerja sama dalam pengembangan teknologi semi-autonomous dan fully-autonomous.

Baca juga artikel terkait MERCEDES BENZ atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Otomotif)


Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara