BMKG: Infastruktur Bandara Akan Diperkuat untuk Hadapi Gempa

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari - 20 November 2019
Dibaca Normal 1 menit
Menurut BMKG penguatan infrastruktur dibutuhkan agar fasilitas penting di pesisir seperti bandara dan pelabuhan siap menghadapi kemungkinan bencana alam seperti gempa dan tsunami.
tirto.id - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan saat ini beberapa infastruktur bandara yang berada di pesisir akan dan sedang diperkuat untuk menghadapi kemungkinan becana alam seperti gempa dan tsunami, Rabu (20/11/2019).

"Saat ini di sudah ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, selain itu tentu ada provinsi-provinsi lain seperti Bali yang sudah memulai dan relatif yang paling siap. Kemudian Sumatera Barat, Aceh dan Makassar dan nanti menyusul beberapa daerah lain secara bertahap," ujar Dwikorita seperti dilansir dari laman Antara.

Menurut Dwikorita, penguatan beberapa bandara tersebut saat ini sudah mulai berjalan, sedangkan bandara-bandara yang berada di daerah lain akan menyusul sesuai dengan koordinasi bersama Kementerian Perhubungan.

Penguatan infrastruktur dibutuhkan agar fasilitas penting di pesisir seperti bandara dan pelabuhan yang diperlukan untuk pembangunan perekonomian dapat siap menghadapi kemungkinan bencana alam seperti gempa dan tsunami.

Dwikorita mengatakan infrastruktur yang sudah siap dengan sistem peringatan dini dan kuat menghadapi bencana saat ini adalah Bandara Internasional Yogyakarta yang terletak di Kulon Progo.

Bandara itu sudah dirancang sedemikian rupa untuk menghadapi gempa hingga berkekuatan magnitudo 8,8 dan tsunami setinggi 10-15 meter.

Tidak hanya itu, menurutnya bandara di Jogja ini juga dirancang untuk menjadi shelter bagi warga sekitar ketika terjadi bencana.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Harkunti Pertiwi Rahayu mengatakan hal itu dilakukan setelah tim pakar, termasuk BMKG, melakukan studi ke beberapa bandara di Jepang untuk menyempurnakan desain bandara di Kulon Progo agar tahan bencana,

"Jadi itu sebetulnya bukan suatu hal yang perlu kita takuti asal kita bisa berikhtiar dengan baik. Engineering adalah salah satu solusi dan social engineering adalah solusi terbaik yang bisa kita kolaborasi bersama," ujar akademisi Institut Teknologi Bandung itu, yang juga menghadiri workshop yang diadakan BMKG.



Baca juga artikel terkait BMKG atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Agung DH
DarkLight