Menuju konten utama

BMKG Imbau Masyarakat Tetap Waspada Aktivitas Gempa Swarm Jateng

Meskipun aktivitas swarm sudah luruh secara signifikan, terkadang masih bisa muncul lagi dan meningkat lagi.

BMKG Imbau Masyarakat Tetap Waspada Aktivitas Gempa Swarm Jateng
Ilustrasi gempa bumi. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai adanya aktivitas gempa swarm yang terjadi di beberapa wilayah Jawa Tengah.

Menurut Daryono, berdasarkan hasil monitoring BMKG selama hari Senin 25 Oktober 2021 sampai tengah malam tadi pukul 24.00 WIB terjadi 3 kali gempa swarm di Banyubiru, Ambarawa dan sekitarnya. Aktivitas gempa swarm terjadi pada pukul 5:05:59 WIB M2.5 kemudian pukul 14:43:18 WIB M2.7 dan pukul 21:29:16 WIB M2.6.

Sehingga total aktivitas gempa swarm yang terjadi pasca gempa magnitudo 3,0 pada Sabtu 23 Oktober 2021 sudah mencapai 36 kali gempa.

Ditinjau magnitudonya, aktivitas gempa swarm Banyubiru, Ambarawa dan sekitarnya didominasi oleh aktivitas gempa kecil dengan magnitudo kurang dari 3,0 sebanyak 30 kali dengan magnitudo terkecil 2,1. Sedangkan gempa dengan magnitudo di atas 3,0 terjadi sebanyak 6 kali dengan magnitudo terbesar 3,5.

Menurunnya frekuensi aktivitas swarm dari hari pertama; 24 kali, hari ke-2; 9 kali, hari ke-3; 3 kali dan hingga hari ini Selasa siang 26 Oktober 2021 belum terjadi gempa.

"Tentu patut kita syukuri semoga ini menjadi petunjuk bahwa aktivitas swarm akan segera berakhir. Namun yang patut diwaspadai adalah prilaku swarm yang bersifat kambuhan," katanya.

Meskipun aktivitas swarm sudah luruh secara signifikan, menurut Daryono, terkadang masih bisa muncul lagi dan meningkat lagi seperti pada kasus aktivitas swarm di Jailolo Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara dan Swarm Mamasa Sulawesi Barat.

Selain kedalaman hiposenter gempanya yang sangat dangkal, efek tanah lunak setempat (local site effect) di zona swarm Banyubiru, Ambarawa Salatiga dan sekitarnya dapat menyebabkan terjadinya resonansi gelombang gempa sehingga makin membuat guncangan gempa kecil terasa lebih kuat oleh warga.

Terkait beberapa bangunan rumah warga yang sudah mengalami kerusakan ringan, munculnya retakan dinding tembok akibat swarm menurut Daryono, hal ini menunjukkan kulitas bangunan tembok yang kurang bagus.

"Jika makin besar retakan maka untuk sementara sebaiknya tidak ditempati karena jika guncangan lebih besar terjadi dan berulang akan semakin meningkatkan kerusakan dan berisiko bagi keselamatan penghuninya." tegasnya.

Bangunan-bangunan rumah yang mengalami kerusakan ringan dampak gempa swarm saat ini maka harus dilakukan penguatan (retrofitting) mengingat di wilayah Banyubiru, Ambarawa, Salatiga dekat atau terdapat jalur sesar aktif seperti Sesar Merapi Merbabu, Sesar Rawapening, Sesar Ungaran dan sesar lain yang belum teridentifikasi, dan semua dapat memicu gempa suatu saat nanti.

"Saat terjadi aktivitas swarm, agar mewaspadai lereng tebing, karena swarm yang terus terjadi dapat mengganggu kestabilan lereng hingga mudah longsor," katanya.

Daryono menambahkan, dampak swarm bukan saja melemahkan struktur bangunan yang sudah lemah, tetapi juga dapat memicu terjadinya longsoran (landslide) dan runtuhan batu (rockfall) di wilayah perbukitan, sehingga selama dalam masa aktivitas swarm untuk sementara waktu diimbau tidak melakukan pendakian dan jika tidak sangat penting agar menghindari jalan bertebing terjal dan berbatu.

Baca juga artikel terkait APA ITU GEMPA SWARM atau tulisan lainnya dari Nur Hidayah Perwitasari

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Iswara N Raditya