Blue Jeans: Dari Levi's Sampai Operasi Seroja

Oleh: Petrik Matanasi - 9 Desember 2017
Dibaca Normal 2 menit
Celana jeans sering disebut Levi's. Celana ini mendunia dan dipakai musisi, bintang film, anak muda juga serdadu dalam Operasi Seroja.
tirto.id - Nun jauh di dusun Loa Janan, yang letaknya di tepi Kali Mahakam itu, di tahun 1990-an, celana blue jeans masih sesuatu yang langka. Celana berbahan sama seperti yang pernah dirancang Levi Strauss untuk kuli-kuli kasar itu, lebih banyak digunakan untuk mejeng. Apapun mereknya, celana blue jeans akan mereka sebut sebagai celana levis—yang kadang dilafalkan sebagai: lepis. Sebutan levis atau lepis itu, berasal dari merek Levi's. Levi's agak mirip nasibnya dengan beberapa produk macam: Odol, Aqua atau Honda.

Levi's mengacu pada nama Levi Strauss alias Löb Strauß. Laki-laki Yahudi kelahiran Buttenheim, Bavaria (Jerman), 26 Februari 1829 ini, menurut Lynn Downey dalam Levi Strauss and Co (2009:7-10), disebut pergi ke Amerika pada 1847. Dia bergabung dalam bisnis keluarga. Ketika demam emas di pesisir barat Amerika pada dekade 1850an. Pada 1853, Levi dikirim ke California, sebagai wakil dari J Strauss Brother & Co. Menurut buku Inventors and Inventions (2008:1359) yang disunting Doris Simonis, Levi menjadi grosir pakaian, selimut juga sapu tangan.

Sejarah celana jeans yang menggaung nama Levi, menurut Lynn Downey (2009:15) bermula pada Januari 1871. Ketika itu, seorang istri dari pekerja tambang meminta pada penjahit bernama Jacob Davis dari Nevada untuk membuat celana yang kuat, agar tidak mudah rusak. Jacob pun membuat celana tahan lama dengan kain putih tebal. Di bagian kantong, selain dijahit benang, dipakai juga paku keling (rivet) sebagai penguat. Celana itu kemudian dihargai tiga dolar.

Davis berniat mematenkan temuannya. Suatu hari di tahun 1872, ia menulis surat pada Levi Strauss yang menyuplai kain kepadanya. Strauss pun setuju.

Bulan Juli tahun itu pula, mereka mengajukan hak paten. US Patent & Trademark Office menyetujui hak paten mereka dengan nomor 139.121 pada 20 Mei 1873. Hak paten tersebut diberikan atas temuan mereka dalam penggunaan rivet untuk mengikat saku pada celana kerja pria. Belakangan, celana buatan Davis itu dikenal sebagai blue jeans pertama.

Sebelum blue jeans dikenal, denim yang menjadi bahan celana itu sudah lama dipakai sebagai bahan pakaian. “Anggota Angkatan Laut Italia memakai celana panjang dari bahan denim yang diproduksi di Genoa, Italia,” tulis Lauren Friedman dalam 50 Ways to Wear Denim (2016:122). Mereka memakainya sejak 1600an.

Levi Strauss, dengan bendera Levi Strauss & Co, kemudian memproduksi celana itu. Menurut situs Levi Strauss, celana pertama yang diproduksi Levi Strauss dikenal Levis seri 501®. Tahun 1886, brand dua kuda pertama kali dipakai di pinggang. Tahun 1890, paku keling tak hanya dipakai Levis. Belakangan merek blue jeans atau celana jeans tidak berwarna biru dan mereknya sangat beragam.

Infografik Tiada Jeans tanpa levi strauss



Celana jeans juga cukup populer di Indonesia. Saat ini, celana jeans sudah umum digunakan untuk acara-acara formal. Banyak pula pekerja kantoran yang menggunakan jeans. Barangnya pun mudah didapat, mulai dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan mewah. Harganya juga sudah relatif terjangkau, sehingga siapapun bisa memakainya. Tentu saja ini sangat berbeda dengan kondisi zaman dulu.

“Celana panjang model blue jeans yang sekarang umum dipakai anak muda, waktu itu disebut sebagai celana jengki—dari kata Yankee. Pada 1950-an sudah populer di antara remaja Jakarta, namun jarang yang memakainya karena sulit memperolehnya dan harganya mahal,” Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an; Kenangan Semasa Remaja (2008:251). Soal bagaimana pemuda 1950an pakai jeans, tergambar pula dalam film Israel Lemon Popsicle Going Steady (1979) atau Lemon Popsicle 5 Baby Love (1983).

Celana jeans juga sempat muncul dalam catatan sejarah pertumpahan darah di Indonesia. Di akhir tahun 1950an, celana jeans rupanya dipakai pula oleh para pemberontak di Sulawesi Utara. Mantan gerilyawan Permesta dari Sulawesi Utara, Phill Sulu, dalam bukunya Permesta: Jejak-jejak Pengembaraan (1997:89) menceritakan: dari kapal bernama Sea Bird — berganti nama menjadi Black Snake yang memasok barang kebutuhan pemberontak, diangkut pula pakaian blue jeans. Tak disebut Phill apa mereknya.

Memasuki tahun 1970an, celana jeans menjadi celana anak muda. Masa-masa munculnya Generasi Bunga yang generasi rindu perdamaian sejak 1969, para pemuda-pemudi, terutama kaum laki-laki kaum Hippies, memakainya sebagai bawahan dan kaos oblong sebagai atasannya. Begitu catatan Laura B. Edge dalam From Jazz Babies to Generation Next: The History of the American Teenager (2011:71). Anak-anak band dan musisi lain bahkan akrab dengan celana ini. Celana ini bahkan dianggap simbol perlawanan budaya mapan nan formal. Di Indonesia, celana jeans dan kaos oblong juga banyak dipakai anak-anak muda. Setidaknya dalam film-film Roy Marten.

Suatu hari di tahun 1975, masa di mana film-film romantis anak muda Indonesia penuhi pemuda-pemudi kece bercelana jeans, nun jauh di perbatasan Indonesia-Timor Portugal beberapa pemuda Indonesia ada di sana. Mereka adalah Yunus Yosfiah, Tarub, Sofian Effendi juga Sutiyoso. Mereka mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Yunus Yosfiah bahkan sampai gondrong. Seperti Generasi Bunga. Mereka bukan anak band rock. Bukan juga anak-anak Hippies. Mereka adalah perwira-perwira Komando Pasukan Sandiyudha (Kopassandha), yang kini jadi Kopassus. Begitu yang dicatat Usamah Hisyam dalam SBY: Sang Demokrat (2004:232).

Pasukan khusus yang awal-awal diberangkatkan ke sana tidak berseragam. Serdadu-serdadu pasukan komando itu, menurut buku "If You Leave Us Here, We Will Die": How Genocide Was Stopped in East Timor (2011:36) yang disusun Geoffrey Robinson menyebut mereka memakai jeans dan kaos oblong, namun membawa juga senapan otomatis AK-47 dan peluncur roket bikinan Yugoslavia. Bahkan, “Kopassandha dijuluki sebagai the blue jeans soldiers, karena mereka umumnya mengenakan celana,” Hendro Subroto dalam Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur (1996:53)

Baca juga artikel terkait JEANS atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti