Blue Bird Perkenalkan Mobil Listrik, Mempercepat Pergeseran Tren?

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 24 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ada sejumlah hal yang perlu dibuat terlebih dulu agar mobil listrik bisa masif. Di antaranya mendirikan stasiun pengisian sebanyak mungkin.
tirto.id - Mobil listrik sebetulnya bukan barang baru di Indonesia. Importir umum seperti Prestige Image Motorcars, misalnya, rutin menerima pesanan untuk Tesla, jenama mobil listrik asal Amerika. Ketua DPR, Bambang Soesatyo, punya satu unit yang beberapa kali dibawa ke Senayan.

Tapi keberadaannya tak juga masif, kalah jauh dari pertumbuhan mobil listrik yang rata-rata bertambah satu juta unit per tahun.

Di tengah situasi tersebut, Blue Bird maju satu langkah dengan menyediakan armada mobil listrik. Per Mei nanti, mereka akan mengoperasikan 30 mobil listrik, baik untuk layanan eksekutif atau reguler.

Lima unit Tesla Model X 75D dioperasikan untuk taksi Silver Bird, 25 unit BYD e6 A/T (BYD Automobile, asal Cina) untuk layanan taksi reguler Blue Bird.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, langkah ini penting bukan hanya untuk bisnis Blue Bird sendiri, tapi juga industri otomotif secara umum. Langkah Blue Bird bisa menstimulus keberadaan mobil listrik.

Pekerjaan Rumah


Bagi Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Faby Tumiwa, mobil listrik tak akan berkembang selama beberapa hal tidak disiapkan. Salah satunya adalah infrastruktur seperti stasiun pengisian listrik.

Tanpa itu jangan harap ada pabrikan yang serius menjual mobil listriknya di sini.


Hal ini misalnya dikatakan Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia Mukiat Sutikno. Dia bilang Hyundai sebetulnya sudah punya mobil listrik, tapi mereka tak menjualnya di Indonesia karena memang infrastrukturnya belum siap.

"Kalau mobil listriknya Hyundai sudah ada. Masalahnya, kan, terus terang kami harus pastikan dari segi kesiapan infrastrukturnya. Filling station-nya, fuel charging station-nya, gitu," katanya kepada reporter Tirto.

Kemudian perkara lainnya adalah bagaimana membuat harga mobil listrik bisa kompetitif. Faby bilang mobil listrik lantaran teknologi yang dipakai cenderung masih baru dan belum banyak yang memproduksinya.

Harga mobil listrik BYD yang dibeli Blue Bird itu berkisar di angka Rp400-700 juta. Banyak lagi yang lebih dari Rp1 miliar. Sebagai pembanding, salah satu mobil paling populer di Indonesia, Toyota Avanza, harganya berkisar di angka Rp200 jutaan.

Seperti hukum permintaan-penawaran, saat produksi makin banyak, harganya juga cenderung turun. Dan Indonesia berpeluang mengembangkan itu, setidaknya bahan baku utama komponen-komponen mobil listrik.

"Komponen utama mobil listrik adalah baterai, power converter, dan sistem kontrol. Indonesia bisa mengembangkan baterai karena bahan baku tersedia," kata dia.


Selain berharap semakin banyak produksinya, dalam jangka pendek pemerintah juga bisa memberikan sejumlah insentif bagi para pembeli.

Terakhir Faby menilai pemerintah harus sesegera mungkin membikin regulasi. Regulasi jadi penting agar ada kepastian hukum.

Sampai saat ini tak ada satu pun payung hukum yang mengatur kendaraan listrik, termasuk perkara pajak. Pada kendaraan konvensional, pajak ditentukan berdasarkan kapasitas mesin. Makin besar, makin tinggi pajaknya.

"Kendala mobil listrik itu soal kepastian regulasi dan kebijakan pemerintah jangka panjang. Infrastruktur tidak sulit dibangun," lanjut Faby.

Janji Jonan


Jonan datang ketika Blue Bird meluncurkan taksi listrik ini. Saat itu ia bicara beberapa hal terkait tantangan mengembangkan kendaraan listrik.

Jonan bilang pemerintah tahu semua kendala yang tadi disebut serta kini sedang pelan-pelan menyelesaikannya. Misalnya soal stasiun pengisian. Dia bilang pemerintah sudah mempersiapkan itu setidaknya di 1.600 titik.

Sistem Penyedia Listrik Umum (SPLU) ini tersebar di Jakarta saja. Jonan berjanji tahun ini akan dibangun minimal 2.000 SPLU di Jabodetabek.


Kemudian soal insentif. Meski tak bicara soal subsidi pembelian, tapi Jonan menyinggung soal subsidi listrik. Potongan harga sebesar 30 persen diberikan pemerintah jika listrik dipakai pukul 22.00 hingga 06.00. Rentang waktu itu bisa digunakan armada taksi untuk mengisi daya baterai.

"Sudah dicanangkan diskon biaya listrik untuk pemilik kendaraan listrik. Mereka mengisi daya sejak pukul 10 malam sampai 6 pagi ada diskon. Jadi meski beli mobilnya mahal, biaya energinya murah," kata Jonan.

Soal regulasi, bekas Dirut KAI ini juga bilang pemerintah sedang mempersiapkan Perpes.

Pada akhirnya Jonan optimis kalau kendaraan listrik adalah masa depan. Ia, bagi Jonan, lebih ramah lingkungan. Juga berbiaya harian lebih murah.

"Biaya energinya lebih murah," kata Jonan.

Baca juga artikel terkait MOBIL LISTRIK atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Otomotif)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Rio Apinino
DarkLight