Black Lives Matter, Upaya Amerika Menghapus Kentalnya Rasisme

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 12 Juli 2016
Dibaca Normal 3 menit
Sosial media bukan lagi sekadar alat untuk saling terhubung di dunia maya. Platform ini sudah berevolusi dalam hal fungsi. Salah satunya adalah sebagai wadah munculnya gerakan perubahan, atau bahkan munculnya bibit sebuah revolusi.
tirto.id - Tanggal 18 Desember 1865 merupakan pasak waktu yang sangat bersejarah bagi Amerika Serikat. Pada hari itu, AS menyatakan diri bebas dari perbudakan orang kulit hitam melalui pengesahan Amandemen Ke-13 sebagai bagian dari konstitusi Negara Adi Daya itu. Lebih dari 150 tahun berselang, AS ternyata belum pernah benar-benar bebas dari rasisme. Bentrokan demi bentrokan atas nama warna kulit masih terjadi di negeri tersebut.

Awal Juli, AS diguncang oleh kejadian yang memilukan. Dua pria Afro-Amerika meninggal dunia akibat tertembus peluru dari pistol yang diletuskan oleh petugas kepolisian setempat. Padahal, kedua pria itu bukanlah seorang kriminal jalanan.

Kedua kasus tersebut kemudian menjadi viral dan menjadi isu nasional sebab petugas yang meletuskan pistolnya kebetulan polisi berkulit putih.

Pria Afro-Amerika pertama bernama Philando Castile. Ia ditembak oleh polisi kulit putih pada hari Rabu (6/7/2016) ketika merogoh kantongnya untuk mengambil lisensi mengemudi serta tanda pengenalnya saat mobilnya diberhentikan oleh pemeriksaan polisi di negara bagian Minnesota. Korban kedua adalah Alton Sterling, seorang penjaja compact disc (CD) di Louisiana.

Keduanya memang membawa pistol ketika itu. Namun, berdasarkan keterangan saksi mata dan video rekaman akan peristiwa tersebut, mereka tidak berada dalam posisi menggunakan pistol tersebut untuk mengancam polisi.

Dua kejadian tersebut kemudian menghangatkan lagi slogan yang selama tiga tahun belakangan menjadi sebuah gerakan melawan tindakan rasisme polisi terhadap warga kulit hitam di Amerika Serikat, Black Lives Matter.

Sebuah pergerakan yang lahir dari rahim sosial media, berangkat dari hashtag atau tagar sederhana dengan nama yang sama #BlackLivesMatter.

Hashtag yang (diharapkan) Membawa Perubahan

Seperti dikutip dari BBC, Black Lives Matter bermula pada tahun 2013 setelah Alicia Garza mem-posting sebuah kalimat di Facebook. "Orang-orang kulit hitam. Aku mencintaimu. Aku mencintai kita," tulisnya. "Nyawa kita berarti."

Hal itu merupakan ungkapan kemarahannya. Ia murka terhadap George Zimmerman yang dibebaskan dari tuduhan pembunuhan seorang remaja kulit hitam bernama Trayvon Martin. George sendiri bukanlah merupakan seorang polisi, tapi kala itu bertugas sebagai seorang relawan untuk skema pengawasan lingkungan penduduk setempat.

Tulisan Garza diunggah ulang oleh Patrisse Cullors. Nama terakhir mengakhiri unggahan itu dengan tagar #BlackLivesMatter.

Layaknya api, unggahan Garza dan Patrisse dengan cepat menyebar disertai oleh tagar #BlackLivesMatter. Tagar itu lalu selalu digunakan ketika ada kasus rasisme atau ketidakadilan terhadap warga kulit hitam.

Garza, Patrisse dan seorang wanita kulit hitam lainnya, Opal Tometi, kemudian memprakarsai pembentukan Black Lives Matter (BLM), sebuah pergerakan yang fokus pada rasisme anti Afrika-Amerika di AS.

Tagar #BlackLivesMatter kembali menggema pada 17 Juli 2014, menuntut keadilan sekaligus menolak rasisme, ketika Eric Garner meninggal di Staten Island, New York. Garner diduga meninggal karena dicekik petugas polisi saat mencoba memasukkannya ke penjara.

Namun, yang menjadi titik tolak dari pergerakan ini adalah peristiwa penembakan yang berujung kematian seorang remaja kulit hitam berusia 18 tahun, Michael Brown, oleh petugas kepolisian bernama Darren Wilson di Missouri pada 9 Agustus 2014.

Wilson diputuskan tidak bersalah dalam pengadilan yang mengatakan bahwa ia hanya melakukan pembelaan diri. Ribuan orang marah dan tergerak untuk berdemo melihat ketidakadilan dalam perlakuan polisi terhadap warga AS berkulit hitam. Tagar Black Lives Matter kembali bergaung di seluruh AS.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh The Guardian, pada tahun 2015, jumlah korban warga kulit hitam yang meninggal dunia di tangan polisi AS mencapai 1,134 kematian. Dengan catatan tersebut, pria muda berkulit hitam memiliki kemungkinan sembilan kali lebih tinggi dibandingkan orang Amerika lainnya untuk dibunuh oleh polisi pada tahun itu.

Meskipun hanya berjumlah total 2 persen dari total penduduk AS, pria Afro-Amerika yang berusia antara 15 dan 34 tahun mengisi lebih dari 15 persen dari catatan semua kematian akibat tindakan petugas kepolisian pada tahun 2015.

Tingkat kematian mereka yang melibatkan polisi lima kali lebih tinggi dibandingkan orang kulit putih pada tingkat usia yang sama.

Sementara laman mappingpoliceviolence.org, mencatat polisi AS setidaknya membunuh 102 warga kulit hitam yang sedang tidak bersenjata pada tahun 2015 silam.



Kontroversi Gerakan Black Lives Matter


Black Lives Matter merupakan gerakan damai, hingga kejadian mengerikan pada Kamis (7/7/2016) pekan lalu.

Protes damai gerakan Black Lives Matter berujung menjadi tragedi berdarah. Seorang pemuda berkulit hitam bernama, Micah Johnson, 25, melakukan penembakan yang menewaskan lima petugas kepolisian Dallas, mencederai tujuh petugas lainnya, serta turut melukai dua pengunjuk rasa.

"Dia mengatakan kesal terhadap Black Lives Matter. Ia mengatakan ia kecewa terhadap penembakan oleh polisi yang terjadi baru-baru ini," kata Kepala Kepolisian David Brown seperti dikutip dari BBC.

"Tersangka mengatakan ia marah pada orang kulit putih. Tersangka menyatakan bahwa ia ingin membunuh orang kulit putih, terutama petugas putih."

Brown menambahkan, tersangka mengatakan ia tidak berafiliasi dengan kelompok manapun dan ia bertindak sendirian.

Sontak Black Lives Matter menjadi perbincangan publik, bukan dalam hal yang positif tetapi lebih kepada sentimen negatif terhadap pergerakan itu.

Pasca kejadian tersebut, tagar-tagar yang lain bermunculan mulai dari "Blue Lives Matter" yang digunakan untuk mendukung polisi hingga "All Lives Matter" yang digunakan orang untuk mengalihkan fokus bahwa orang kulit hitam merupakan satu-satunya "korban."

"Gerakan itu [Black Lives Matter] secara inheren rasis karena, nomor satu, itu memecah belah kita [...] Semua nyawa penting. Nyawa orang kulit putih, kulit hitam, semua kehidupan," kata Mantan Walikota New York Rudy Giuliani kepada Fox News, Senin lalu.

"Yang kedua: Black Lives Matter tidak pernah melakukan protes ketika setiap 14 jam seseorang terbunuh di Chicago, mungkin 70-80 persen [oleh] orang kulit hitam. Di mana mereka ketika itu terjadi? Lalu di mana mereka ketika seorang anak muda kulit hitam dibunuh?"

Presiden Barack Obama bergegas kembali ke Amerika Serikat dari kunjungannya di Spanyol, Eropa, akhir pekan lalu setelah peristiwa ini memanas. Dalam sebuah komentarnya, Obama membela gerakan tersebut dengan mengatakan bahwa gerakan Black Lives Matter pada esensinya adalah pergerakan yang memperjuangkan hak manusia untuk hidup sederajat.

"Ini bukan soal kita membandingkan nilai dari nyawa [manusia]," kata Obama, seperti dikutip dari BBC.

Kepolisian sempat menangkap seorang aktivis Black Lives Matter terkemuka, DeRay Mckesson, pada akhir pekan lalu, meskipun ia akhirnya segera dibebaskan.

Dengan serangkaian peristiwa tersebut, belum jelas bagaimana masa depan dari salah satu gerakan damai paling kuat beserta perjuangan kaum minoritas di Negeri Paman Sam ini untuk memperoleh perlakuan yang sama.

Namun, selama asosiasi warna hitam sebagai warna kejahatan dan putih sebagai warna kesucian masih tertanam kuat di benak manusia – salah satunya seperti yang diajarkan dalam hampir setiap ajaran agama – boleh dikata, perjuangan masyarakat kulit hitam di AS masih jauh dari paripurna.

Baca juga artikel terkait SOSIAL BUDAYA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti