Menuju konten utama

BKPM Sebut Investasi Tak Sebabkan Unicorn Indonesia Dikuasai Asing

Thomas mengatakan, investasi yang diberikan para pemodal asing ke Unicorn tak akan sampai mengambil alih kepemilikan.

BKPM Sebut Investasi Tak Sebabkan Unicorn Indonesia Dikuasai Asing
Ilustrasi unicorn bisnis Indonesia. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memastikan derasnya investasi asing ke Unicorn atau startup dengan valuasi di atas 1 miliar dolar AS tak perlu dikhawatirkan.

Sebab, Kepala BKPM, Thomas Lembong mengatakan, investasi yang diberikan para pemodal asing ke Unicorn tak akan sampai mengambil alih kepemilikan.

Selain itu, menurut Thomas, model investasi Unicorn memang berbeda dari biasanya karena pada umumnya investor tak mengambil kendali Unicorn.

“Di dalam investasi ini ada perbedaan nilai yang disetorkan dengan porsi kendali usaha. Di ventura kami tidak ingin kendali atas usaha yang kita modali. Kami jadi investor yang pasif,” ucap Thomas dalam forum bertajuk “Investasi Unicorn untuk Siapa?” di Kementerian Komunikasi dan Informatika pada Selasa (26/2).

Thomas mengatakan, aset Unicorn juga terletak pada pendiri atau founder startup tersebut. Menurut Thomas, setiap pemodal ventura ingin agar penanggung jawab Unicorn terus termotivasi untuk mengembangkan usahanya.

“Jadi aset utama perusahaan yang bergerak di wilayah inovasi adalah inovatornya,” ucap Thomas.

Senada dengan Thomas, Menteri Kominfo, Rudiantara memastikan bahwa dalam dunia startup memang disyaratkan agar seorang pendiri atau founder tak boleh meninggalkan bisnisnya.

Menurutnya, hal ini yang membedakan Unicorn dengan model bisnis konvensional yang kepemilikan modalnya dapat menentukan siapa yang duduk pada posisi manajemen.

“Di startup tidak terjadi (dikuasai). Orang investasi ke startup itu ke orang (pendirinya). Founder-nya disyaratkan enggak boleh keluar. Sampai nanti listed di saham,” ucap Rudiantara.

Baca juga artikel terkait STARTUP atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Alexander Haryanto