Bisnis Kopi

Bisnis Kopi Anak Presiden: Sejenuh Apa Pasar Kopi di Indonesia?

Infografik Bisnis Latah di Indonesia
Ilustrasi kopi. FOTO/iStockphoto
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 1 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bisnis kopi menjamur di Indonesia, putra bungsu Presiden RI Joko Widodo pun merambah bisnis ini.
tirto.id - Harum semerbak bisnis minuman kopi sampai juga ke pintu Istana Negara. Bagaimana tidak, putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, merambah bisnis kopi sebagai portofolio tambahan berbagai lini bisnis yang telah dimilikinya.

Ternakopi by Kaesang, merupakan bisnis minuman kopi dingin atau cold brew yang saat ini digeluti Kaesang. Meski baru menggeluti bisnis ini pada April 2019, namun Ternakopi telah memiliki 12 gerai. Terbaru, gerai bisnis kopi dingin Kaesang ini berlokasi di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Dikemas dalam botol plastik berwarna hitam, Ternakopi by Kaesang menawarkan 10 varian kopi dingin. Mulai dari rasa original, kopi gula jawa, kopi cokelat, kopi vanila, kopi green tea (teh hijau), kopi mint, kopi karamel, kopi avocado, kopi hazelnut, dan kopi taro. Seluruh varian Ternakopi dikemas dalam botol plastik berukuran 250 mililiter dengan harga jual senilai Rp20 ribu per botol.

Kaesang memilih bisnis minuman kopi dingin karena menurut mahasiswa semester delapan Singapore Institute of Management University ini kopi dingin lebih enak serta lebih praktis. Menurut Kaesang, cold brew kemasan botol ini bisa dinikmati lebih lama, bisa disimpan untuk dikonsumsi esok hari. “Selain itu, cold brew juga lebih aman untuk lambung,” kata Kaesang saat pembukaan gerai Ternakopi ke-12 di Tanjung Duren, Jakarta Barat, Sabtu (20/7/2019).

Sebelum menggeluti bisnis minuman kopi yang sedang menjamur di Indonesia, Kaesang telah menjalani pelatihan barista selama setahun. Selama satu tahun itu juga ia kerap meminta pendapat Jokowi yang notabenenya adalah sang Ayah untuk mencicipi kopi racikannya.

Jika rasa kopi sudah disetujui oleh sang Ayah, pria berusia 24 tahun ini memberanikan diri untuk membuat kopi varian baru. “Awalnya dikritik terus sama Bapak, tapi lama-lama suka. Pertama saya buatkan yang original kemudian rasa lain, dan Bapak paling suka kopi gula jawa,” cerita Kaesang tentang awal mula bisnis kopi.

Tren bisnis minuman kopi yang sedang menjamur memang menjadi salah satu alasan Kaesang terjun ke bisnis ini. Meski begitu, Kaesang mengaku dirinya melirik celah pasar yang belum banyak dijamah pengusaha minuman kopi lain yaitu kopi dingin atau cold brew.

Pernah menjalankan pelatihan sebagai peracik kopi atau barista dan memiliki bisnis minuman kopi, ternyata Kaesang bukan termasuk penikmat kopi. “Aku tuh enggak suka kopi. Rasanya aneh buatku,” ungkap Kaesang.


Gandeng Mitra Bisnis

Bisnis gerai minuman kopi dingin besutan Kaesang ini rupanya turut terjamah oleh pendanaan dari investor. Meski begitu, Kaesang irit bicara terkait pendanaan usahanya tersebut. “Rahasia,” sebut Kaesang dihadapan sejumlah media yang meliput.

Ternakopi by Kaesang memang merupakan salah satu dari 16 perusahaan rintisan yang lulus dari program akselerasi startup jilid IV GK Plug and Play Indonesia. Di program ini, perusahaan rintisan melaksanakan sejumlah program dan mendapatkan fasilitas seperti program monitoring, akses kepada pemodal ventura, perlengkapan usaha gratis, penjajakan investasi awal serta koneksi, sampai dengan peluang untuk berkolaborasi dengan enam perusahaan besar yang telah bermitra dengan ekosistem GK PnP.

Melansir Bisnis Indonesia, hingga saat ini seluruh perusahaan rintisan yang didukung oleh GK PnP telah dapat meraih pendanaan dengan nilai total lebih dari $20 juta.

Di usianya yang baru menginjak tiga bulan, bisnis Ternakopi rupanya juga menarik minat mitra kerjasama. Salah satunya adalah PT Global Digital Niaga (GDN), perusahaan bidang digital dengan produk marketplace bernama Blibli.com. GDN sendiri merupakan anak usaha dari PT Global Digital Prima (DGP) Venture, perusahaan investasi yang terafiliasi dengan Grup Djarum.

Kerjasama eksklusif yang dijalin Ternakopi dengan Blibli adalah berupa saluran distribusi penjualan, di mana konsumen dapat membeli Ternakopi secara online hanya di marketplace Blibli.com. Kerjasama eksklusif ini dilakukan agar memberikan keuntungan kepada pengembangan usaha Ternakopi.

“Kami tentu mencari kerjasama yang bisa memberikan benefit terhadap pengembangan usaha dan marketplace yang paling cocok dengan kami kebetulan adalah Blibli.com,” ungkap Kaesang.

VP Galeri Indonesia Blibli.com Andreas A. Pramaditya menyebut, kerjasama eksklusif juga memberikan benefit bagi Blibli.com. Sebab, penambahan mitra kerjasama artinya menambah merchant partner Blibli.com sehingga varian produk yang dijual di Blibli.com juga semakin banyak.

Pemilihan Ternakopi by Kaesang sebagai merchant partner menurut Andreas dikarenakan kedua perusahaan memiliki visi dan misi yang sama. Ternakopi menurut Andreas memenuhi kriteria untuk bekerjasama dalam hal penjualan online dengan Blibli.com. Sebab, Ternakopi merupakan UMKM yang dimiliki oleh pengusaha lokal dan juga menjual produk lokal.

“Kami bangga menjadi mitra e-commerce Ternakopi, karena ini sejalan dengan komitmen Blibli.com untuk memperluas jangkauan pasar bagi para pengusaha kreatif muda yang menciptakan produk khas Indonesia,” imbuh Andreas.


Tren Bisnis Kopi di Indonesia

April tahun lalu, Micko Irawan Pemilik Coffeeland Indonesia menilai pangsa pasar kedai kopi masih terbuka lebar. Sebab, kebutuhan akan kedai kopi masih akan terus tumbuh setiap tahun. Salah satunya karena didorong gaya hidup generasi milenial yang gemar berkumpul.

Senada, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) menilai pangsa pasar yang dapat digarap pelaku kedai kopi masih terbuka lebar, mengingat tingkat konsumsi kopi dalam negeri yang juga mengalami pertumbuhan.

Jika dahulu tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia hanya 0,8 kilogram per kapita, per 2018 angka konsumsi melonjak hingga 1,2 kg per kapita. “Tahun ini mungkin bisa sampai sekitar 1,4-1,5 kg per kapita,” ungkap Pranoto Sunarto, Wakil Ketua Badan Pengurus Pusat AEKI.



Menjamurnya bisnis kopi memang mampu menarik minat siapapun yang bermodal. Ada beberapa alasan yang mendasari fenomena latah berbisnis semacam ini bisa terjadi. Pokok pertama adalah karena keinginan ikut-ikutan atau mengekor untuk mendapatkan keuntungan sama dari capaian keberhasilan pelaku bisnis yang sudah ada.

Penyebab lain adalah keinginan memanfaatkan momen keramaian pasar atau konsumen. Bisnis yang didasarkan pada ikut-ikutan seringkali melupakan aspek kejenuhan pasar. Padahal bisnis yang mengedepankan keramaian ini dianalogikan sebagai "red ocean", alias lautan penuh ikan hiu yang saling berkelahi.

Sedangkan untuk meraih peluang keuntungan dari pertumbuhan pasar bisnis baru, pengusaha perlu menjernihkan bisnis dengan menciptakan strategi yang disebut Blue Ocean. W. Chan Kim dan Renee Mauborgne dalam buku lainnya berjudul Blue Ocean Strategy How to Create Uncontested Market Space and Make the Competition Irrelevant yang dipublikasi oleh Harvard Business Review Press (2015, hlm. 7), mengungkapkan perpindahan dari bisnis yang ramai ke bisnis yang sedikit pelaku usahanya akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan laba masing-masing mencapai 62 persen dan 39 persen.

Jadi, mari kita lihat berapa lama lagi menjamurnya bisnis minuman kopi bisa bertahan.

Baca juga artikel terkait KOPI atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Windu Jusuf
DarkLight