Bisakah si Tukang Main Serong Berhenti dari Candu Selingkuh?

Oleh: Aditya Widya Putri - 1 Desember 2021
Dibaca Normal 3 menit
Bukan mustahil mendapatkan cinta sejati. Secara saintifik, cinta sejati itu nyata dan manusia bisa jatuh cinta hingga puluhan tahun.
tirto.id - Dalam konstruksi masyarakat monogami, relasi romantis-problematis seperti perselingkuhan dianggap seperti penyakit yang tak bisa diobati. Namun, mungkinkah seorang manusia menghabiskan setengah abad hidupnya hanya dengan satu orang yang sama?

Perselingkuhan bagi sebagian besar orang merupakan dosa besar terhadap komitmen berpasangan. Namun di saat bersamaan, gagasan problematis ini tetap jamak hadir di kehidupan kita. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, kenapa manusia bisa selingkuh dari pasangannya?

Penelitian oleh Justin R. Garcia dkk. dari Binghamton University, Amerika Serikat, mengungkap bahwa struktur gen tertentu berkorelasi dengan fenotipe perilaku serong seseorang. Dalam studinya yang terbit di jurnal PloS ONE (2010), Garcia dkk. menyebut seseorang yang memiliki gen reseptor dopamin bernama DRD4 cenderung tidak setia.

Garcia dkk. meneliti hubungan dan perilaku seksual dari 181 responden (118 perempuan, 63 laki-laki). Para responden umumnya berusia 20-an tahun atau terhitung dewasa muda. Garcia dan timnya juga turut meneliti sampel DNA para respondennya.

Kesimpulan yang mereka peroleh adalah individu dengan susunan genetika “peselingkuh” menunjukkan peningkatan respons terhadap rangsangan sinyal insentif dopamin, seperti mengonsumsi alkohol, opiat, tembakau, dan berjudi.

Ada 50 persen orang dengan DRD4 berselingkuh, sementara hanya 22 persen responden tanpa gen DRD4 yang tidak setia,” demikian ringkasan penelitian tersebut.

Untuk menarik benang merah antara penelitian ini dan literatur lain soal perilaku berselingkuh, Tirto berbincang dengan Zoya Amirin, psikolog yang mendalami ilmu seksologi. Zoya cenderung melihat perilaku serong sebagai “sifat yang dipelajari.”

Ya mempelajarinya secara turun temurun. Misal, pasangan dalam suatu keluarga terlibat perselingkuhan, maka perilaku itu bisa terekam oleh anak-anaknya secara tak sadar,” katanya.

Seturut pengalaman Zoya, faktor terkuat yang membikin orang berselingkuh secara umum dibedakan berdasar gender. Pada pria lazimnya didasari oleh dorongan seksual. Sementara itu, perempuan cenderung mengejar sisi romantis ketimbang seksualitas.

Peluang berselingkuh akan semakin besar ketika seseorang memiliki banyak relasi. Butuh kemampuan individu untuk menahan sifat-sifat sosial-biologis agar seseorang bisa setia dengan pasangannya. Ketika berselingkuh, pelaku bisa dikatakan inkompeten dalam mengelola hasrat sosial-biologisnya tersebut.

Pahami sifat sosial-biologis kita. Jika kita bijak, dorongan biologis bisa dikelola. Manusia, kan, punya pre-frontal korteks, bagian otak yang dapat menilai benar atau salah,” tutur Zoya.

Manusia: Si Makhluk Jelalatan

Tukang selingkuh akan selamanya berselingkuh.”

Ungkapan tersebut langgeng menjadi petuah turun temurun dalam berelasi. Bahwa jangan pernah memaafkan pasangan yang berselingkuh karena dia pasti bakah mengulangi ulahnya lagi di masa depan. Benarkah demikian?

Selingkuh layaknya candu. Peselingkuh punya struktur dalam otaknya yang memberi reaksi nagih, seperti pada narkoba. Ketika merasakan jatuh cinta, otak akan kebanjiran dopamin (hormon kebahagiaan). Produksi dopamin yang berlebih berefek pada peningkatan energi dan sensasi nikmat.

Tahap selanjutnya, giliran oksitosin—kita mengenal zat kimia ini sebagai hormon cinta—membanjiri sistem di hipotalamus. Oksitosin dilepaskan oleh otak selama aktivitas bercinta, seperti memeluk atau mencium. Selama melakukan aktivitas tersebut, otak akan terus memproduksi oksitosin yang akhirnya memunculkan rasa ketagihan dan cinta membuncah.

Untuk menghentikan reaksi kecanduan, seorang pecandu harus berhenti mengakses candunya. Begitu juga dengan perselingkuhan, individu yang berselingkuh mesti siap menghadapi rasa sakit—dengan intensitas setara penarikan heroin.

Jadi, seperti halnya pecandu narkoba, peselingkuh bisa saja "sembuh", meski prosesnya memang sulit.

Dasi sisi psikologis, Zoya membedakan peluang sembuh dari perilaku serong berdasarkan jenis perselingkuhannya. Jenis selingkuh yang dilakukan berulang kali, seperti menggunakan jasa pekerja seks, punya simpanan, kawin kontrak, atau menikah siri tanpa sepengetahuan istri, biasanya cenderung sulit berubah.

Apalagi ada usaha menormalisasi perselingkuhan dengan memberi rasionalisasi, alih-alih mengakui kesalahan. ‘Aku selingkuh karena LDR, kesepian, dll’. Ini tidak menyelesaikan masalah dengan pasangan, tapi melarikan diri, mencari jawaban dari orang lain,” ungkap Zoya.

Sementara itu, jenis selingkuh “beli putus” dan baru dilakukan sekali dengan hanya satu pasangan selingkuh yang sama memiliki peluang sembuh lebih besar. Asalkan pasangan resmi segera memperbaiki pola hubungan dengan membuat batasan, memperbaiki komunikasi, dan kesepakatan.

Harus ngomong berdua, kalau tidak sanggup, tengahi dengan psikolog. Jangan tunggu sampai stres.”

Dari sisi pelaku, Zoya mengingatkan bahwa proses meminta maaf berlaku sepanjang waktu. Pasalnya, korban akan selalu membawa bekas luka perselingkuhan.

Setiap korban ingat, harus minta maaf, tanya ‘bisa bantu apa’ peluk agar oksitosinnya naik.”

Infografik Selingkuh Itu Candu
Infografik Selingkuh Itu Candu. tirto.id/Quita


Hidup Monogami, Bisakah Manusia Setia?

Bosan. Mungkin itulah gambaran di benak sebagian orang tentang pernikahan seumur hidup. Kita harus melakukan seluruh aktivitas mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi bersama orang yang sama. Rasa cinta dan sayang di awal pernikahan sangat mungkin berubah hambar dan tak lagi menyenangkan.

Tapi, nyatanya manusia dapat merasakan cinta seumur hidup hanya dengan satu pasangan. Pernyataan ini sudah teruji secara ilmiah oleh penelitian Helen Fisher, seorang antropolog biologi asal Amerika, dalam bidang perilaku manusia.

Fisher menyebut jenis cinta tersebut sebagai “cinta sejati”. Ia adalah candu perasaan yang mempengaruhi manusia pada tingkat yang lebih pribadi dan intim. Studi Fisher melihat struktur otak pada dua kelompok orang yang tengah jatuh cinta, yaitu kelompok yang baru menjalin hubungan dan kelompok yang telah 21 tahun bersama.

Pemindaian otak (fMRI) menunjukkan respon bagian otak yang sama ketika orang tengah jatuh cinta dengan kecanduan kokain atau obat-obatan lain. Fisher sama-sama menemukan respon candu itu di otak kedua kelompok.

Perbedaannya, di kelompok yang baru saja jatuh cinta terlihat adanya aktivitas di wilayah otak yang terkait dengan kecemasan. Sementara itu, pada kelompok yang sudah menikah 21 tahun, aktivitas otak cenderung memberi ketenangan dan menekan rasa sakit.

Kami menemukan pola spesifik pada cinta sejati ada di korteks frontal yang membikin orang jadi mengabaikan hal negatif, lebih berempati, dan mampu mengendalikan emosi diri,” ungkap Fisher.

Untuk memperkuat argumen soal cinta sejati itu, Fisher juga melakukan survei bersama platform Match.com. Mereka mengajukan pertanyaan sederhana kepada responden tentang kenyamanan terhadap pasangan masing-masing.

Apakah Kamu mau menikah lagi dengan orang yang saat ini menjadi pasanganmu?” dan sebanyak 81 persen responden menjawab “Ya”.

Melihat hasil positif dari studi Fisher itu, kita bisa optimis bahwasanya ada pasangan yang tepat untuk kita bertumbuh dan menghabiskan hidup bersama tanpa dibayangi aksi perselingkuhan.

Baca juga artikel terkait SELINGKUH atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight