Periksa Fakta

Bisakah Parasetamol Mengobati Patah Hati?

Oleh: Irma Garnesia - 16 Maret 2021
Dibaca Normal 3 menit
Bagaimana sebetulnya dampak dari konsumsi parasetamol terhadap rasa sakit yang dialami secara mental, seperti patah hati?
tirto.id - Pada awal Maret lalu, sebuah akun Twitter bernama @febrinasugianto mengeluarkan cuitan mengenai konsumsi parasetamol yang diklaim dapat membantu sakit yang ditimbulkan akibat patah hati. Cuitan Febrina ini menjadi viral, dan telah di-retweet hingga lebih dari 10 ribu kali, dikomentari melalui quote tweet hingga 2,9 ribu kali, dan mendapat likes sebanyak 42,8 ribu. Tirto mengarsipkan cuitan tersebut di sini.

Menurut Febrina, hal ini karena bagian otak yang teraktivasi pada saat patah hati sama dengan ketika merasakan sakit fisik. Ia mengutip studi yang dipublikasikan tahun 2011 oleh Ethan Kross, yang menemukan bahwa subjek yang meminum obat bermerek Tylenol, yang berisi parasetamol, mengalami level rasa sakit yang lebih rendah dibandingkan dengan subjek yang diberi pil plasebo. Hal ini juga menurutnya terbukti dari hasil pemindaian otak.

Namun, Febrina tidak menunjukkan referensi di cuitannya. Febrina pun melanjutkan utas dengan penjelasan mengenai respons tubuh terhadap patah hati, termasuk produksi hormon kortisol, hormon yang dihasilkan tubuh sebagai respons dari stres, yang selanjutnya meningkatkan aliran darah ke beberapa otot, termasuk di area kepala dan leher. Menurutnya pula, inilah yang menyebabkan nyeri di leher dan dada yang seperti tertekan.

Bagaimanakah sebetulnya dampak dari konsumsi parasetamol terhadap rasa sakit yang dialami secara mental, seperti patah hati? Apa saja yang harus diperhatikan dalam mengonsumsi obat yang dengan mudah ditemui di apotek ini?

Penelusuran Fakta

Febrina mengutip studi Kross dalam cuitannya. Berdasarkan penelusuran, Kross memang melakukan studi yang dipublikasikan dengan judul “Social rejection shares somatosensory representations with physical pain” pada tahun 2011. Ethan Kross sendiri merupakan seorang profesor di departemen Psikologi di University of Michigan.

Namun, penelitian Kross tidak berhubungan dengan parasetamol. Penelitian Kross hanya mendemonstrasikan bahwa ketika rasa sakit karena ditolak timbul di dalam diri seseorang, area di bagian otak yang berhubungan dengan komponen sensoris rasa nyeri fisik menjadi aktif. Aktivasi di kedua bagian otak tersebut, yakni korteks somatosensoris sekunder dan dorsal posterior insula, disebut merupakan prediktor positif rasa sakit secara fisik.

Dalam penelitian tersebut, 40 partisipan yang merasa ditolak karena baru saja mengalami putus cinta, diminta untuk melihat foto mantan kekasih mereka, dan sebagai perbandingan, juga foto teman baik mereka. Sementara itu, peserta di kelompok eksperimen lainnya diberikan eksperimen fisik seperti merasakan rangsangan panas di bawah lengan mereka, serta rangsangan hangat. Para partisipan juga dipantau dengan pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) selama menjalani eksperimen.

Penelitian lanjutan yang meminta partisipan untuk mengonsumsi Tylenol dilakukan oleh C. Nathan DeWall dari University of Kentucky pada tahun 2011. Di penelitian tersebut, sebanyak 62 partisipan diminta mengonsumsi Tylenol, yang berbahan dasar asetaminofen atau parasetamol, sebanyak 1.000 miligram selama tiga minggu. Sementara peserta lain mengonsumsi plasebo atau obat kosong.

Seluruh partisipan diminta memberi skala “perasaan sakit hati” untuk mengukur tingkat rasa sakit. Setelah hari ke-9, orang yang meminum pil penghilang rasa sakit melaporkan tingkat rasa sakit yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan mereka yang menggunakan plasebo.

Selanjutnya dari utas Febrina, ia mengutip studi Durso, G. R dkk berjudul “Over-the-Counter Relief from Pains and Pleasures Alike: Acetaminophen Blunts Evaluation Sensitivity to Both Negative and Positive Stimuli”. Studi tersebut dilakukan pada 2015 terhadap 167 partisipan untuk mengetahui efek Tylenol dan plasebo. Penelitian tersebut menemukan bahwa partisipan yang mengonsumsi asetaminofen atau parasetamol menilai rangsangan tidak menyenangkan dengan tidak terlalu negatif dan stimulasi menyenangkan dengan tidak terlalu positif, dibanding partisipan yang mengonsumsi plasebo.

Menurut Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Jiemi Ardian, dalam wawancaranya dengan Tirto pada hari Minggu (14/3/2021), ada tahapan dari sebuah penelitian menemukan manfaat atau dampak sebuah pengobatan sampai akhirnya pengobatan tersebut bisa digunakan secara umum atau dalam populasi klinis.

“Satu atau dua penelitian yang mengonfirmasi tidak bisa langsung masuk ke dalam tata cara pengobatan dalam gangguan kejiwaan atau pada gangguan medik secara umum. Perlu konfirmasi lain atau tahapan lain sampai sebuah cara bisa digunakan untuk mengobati, termasuk misalnya dalam studi parasetamol yang menemukan manfaat adanya penurunan skor nyeri emosional dengan penggunaan parasetamol ini,” ujar Jiemi lewat pesan suara.

Ia juga menyampaikan catatan bahwa parasetamol tidak bisa dibilang secara langsung bermanfaat menyembuhkan sakit emosional, sebab studi lain masih mengaitkan adanya sifat-sifat lain yang dibutuhkan, parameter emosional lain yang dibutuhkan, atau keterampilan emosional lain yang dibutuhkan untuk parasetamol agar bekerja pada kasus nyeri emosional.

Menurut Jiemi, tidak tepat juga kalau dikatakan obat penghilang rasa sakit dapat digunakan untuk mengobati masalah kesehatan jiwa. Seperti penjelasannya, “Jika kita lihat penurunan skornya, itu nggak signifikan besar juga, sehingga tak bisa dikatakan bisa digunakan untuk mengobati masalah kesehatan jiwa.”

Ia juga mengingatkan perlunya penelitian mengenai dampak jangka panjang dari konsumsi parasetamol.

“Parasetamol tidak untuk digunakan terus-menerus dalam jangka panjang. Apalagi jika melihat beberapa penelitian yang melakukan penelitian ini kan pemakaian dosisnya lumayan, 1.000 mg per hari. Kalau digunakan jangka panjang, saya tidak yakin itu aman bagi tubuh, sehingga tidak tepat juga kalau kita gunakan langsung,” tambahnya.

Tirto juga meminta pendapat dari Psikolog Klinis dan peneliti relasi interpersonal, Pingkan C. B. Rumondor pada hari Minggu (14/3/2021) terkait penelitian mengenai dampak parasetamol atau asetaminofen terhadap rasa sakit yang dialami secara mental.

“Memang ada indikasi bahwa mengonsumsi pain killer (asetaminofen/parasetamol) dapat mengurangi reaksi emosional seseorang terhadap sesuatu. Bukan hanya sesuatu yang negatif, tapi juga yang positif,” katanya melalui pesan singkat.

Ia menambahkan contoh bahwa orang yang patah hati dan melihat mantan kekasihnya mungkin tidak bereaksi terlalu negatif setelah mengonsumsi parasetamol. Akan tetapi, ia juga mungkin cenderung merasakan lebih sedikit perasaan positif ketika melakukan kegiatan menyenangkan seperti makan es krim kesukaannya.

Namun, Pingkan menuturkan bahwa kesimpulan yang bisa diambil dari penelitian Durso sampai di sana saja. “Belum bisa dibilang ‘bisa menyembuhkan sakit emosional akibat patah hati/penolakan sosial’,” katanya.

Penjelasan dr. Jiemi menjawab pertanyaan soal keamanan parasetamol digunakan dalam jangka panjang dalam dosis tinggi. Sementara penjelasan Pingkan memberi tahu kita bahwa asetaminofen dapat mengurangi reaksi emosional seseorang baik dalam rangsangan negatif maupun rangsangan positif.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan, parasetamol terindikasi memiliki dampak untuk mengurangi sakit yang dialami secara mental. Namun, penelitian lebih lanjut tetap dibutuhkan. Penggunaan jangka panjang juga dinilai tidak aman bagi tubuh. Cuitan akun @febrinasugianto bersifat Missing Context (konten dapat menyesatkan tanpa tambahan catatan tertentu).


==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id. Apabila terdapat sanggahan ataupun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca juga dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty
DarkLight