Bisakah Kasus Pelecehan Seksual Lengserkan Donald Trump?

Infografik Trump Epstein
Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersenyum sebelum penandatanganan perintah eksekutif tentang penguatan keamanan pensiun di America at Harris Conference Center di Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat, Jumat (31/8/2018). ANTARA FOTO/REUTERS/Yuri Gripas
Oleh: Joan Aurelia - 31 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Jawabannya sulit, berkaca dari kasus Bill Clinton pada 1998.
tirto.id - Sebuah video yang dilansir NBC pada 17 Juli lalu menunjukkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Jerrey Epstein tengah asyik bercanda di Mar a Lago, rumah peristirahatan Trump di Palm Beach dalam sebuah acara pesta privat yang hanya didatangi sang presiden dan Epstein. Pesta itu dimeriahkan puluhan cheerleader perempuan yang didatangkan Epstein.

Washington Post menuliskan bahwa selama pesta berlangsung, Trump tak henti menyentuh dan membelai para perempuan muda dan tak jarang pula sang presiden mendekap para perempuan dengan erat.

Epstein adalah orang luar biasa bagi Trump hari itu. Berkat Epstein, kolam renang rumah peristirahatan miliknya bisa jadi kawasan bermain para cheerleader--sebuah pemandangan yang menurut Trump menakjubkan. Oleh sebab itu, ia tak segan mengakui dirinya punya persamaan penting dengan Epstein: sama-sama suka (dan tergila-gila) perempuan.


Bagi Epstein, mencari perempuan-perempuan muda untuk memeriahkan pesta adalah perkara mudah. Pria ini dikenal sebagai perencana keuangan Leslie Wexner, pengusaha retail The Limited atau L Brands yang menaungi beberapa label seperti Victoria’s Secret, Bath and Body Works, dan Abercrombie and Fitch.

Laporan berjudul "How Jeffrey Epstein Used the Billionaire Behind Victoria’s Secret for Wealth and Women" yang dipublikasikan New York Times pada 25 Juli menyebut perkenalan Wexner dan Epstein terjadi pada akhir 1980-an saat Wexner berniat mengembangkan bisnis properti dan seni. Ia ingin bisnis barunya itu berbasis di Ohio, tempat kelahiran Epstein.

Epstein pun membantu memenuhi berbagai kebutuhan Wexner saat membangun bisnis baru. Lama kelamaan, relasi mereka kian erat. Wexner memberi Epstein wewenang untuk merekrut pegawai, menandatangani cek, meminjam uang, dan melakukan jual-beli properti atas nama Wexner.

Kuasa tersebut membuat para petinggi di perusahaan L Brands heran. Di mata mereka, Epstein bukan pria istimewa dengan segudang prestasi. Sampai hari ini hanya Wexner yang tahu alasan persis mengapa dirinya begitu percaya dengan Epstein. Sayangnya, ia tidak mau memberitahu alasan tersebut kepada media. Si pengusha retail menolak permohonan wawancara yang diajukan New York Times.

Wewenang besar akhirnya bikin Epstein berani mengajukan diri sebagai penyeleksi model pakaian dalam Victoria’s Secret tapi usulan ini langsung ditolak pimpinan perusahaan.

Ditolak jadi penyeleksi model ternyata tidak menjauhkan Epstein dari perempuan. Beberapa waktu setelah penolakan itu, tersiar kabar bahwa Epstein melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan 14 tahun. Ia terbukti membayar perempuan di bawah umur untuk berhubungan seks dan meminta anak itu mencarikan teman-teman sebaya yang mau diajak tidur bersama.

Kemampuan berjejaring Epstein membuat dirinya tidak dihukum. New York Times bahkan menyebut popularitas atau sentimen positif terhadap Epstein malah meningkat karena ia kerap menyelenggarakan acara yang mengundang kaum intelektual seperti Stephen Hawking dan membangun berbagai yayasan kesehatan.

Saat ini pihak kepolisian AS tengah memeriksa para saksi terkait kasus-kasus Epstein. Tidak ada yang tahu pasti apakah Epstein tetap kebal hukum atau tidak.

Pada Januari lalu, Vox melaporkan bahwa di AS ada 263 selebritas, politisi, pemimpin perusahaan yang terbukti melakukan tindak kekerasan seksual sejak April 2017. Informasi yang terus diperbaharui itu berisi keterangan dari nama, jabatan, hingga jenis pelecehan yang dilakukan oleh orang-orang berkuasa dan berduit.

Trump tercatat dalam daftar itu.



Menurut rangkuman New York Magazine yang dipublikasikan pada 26 Februari 2019, Trump pernah dilaporkan atas tuduhan meraba alat kelamin, membelai seluruh bagian tubuh tanpa izin, pemerkosaan, pemaksaan untuk berhubungan seksual, mencium tanpa izin, mengucap kalimat bernada pelecehan, dan menerobos ruang ganti perempuan dalam acara kontes kecantikan.

Laporan terbaru datang dari E. Jean Carroll, seorang jurnalis dan penulis buku yang menuding Donald Trump telah melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya pada 1996.

The Hill mencatat bahwa Trump pernah meminta saran Carroll soal hadiah yang cocok diberikan kepada seorang perempuan. Mereka berdua lantas pergi ke pusat perbelanjaan. Sesampainya di sana, Carroll menyarankan Trump membeli tas atau topi. Tapi sang presiden malah mengarahkan langkah ke ruang ganti area penjualan pakaian dalam.

“Trump mendorongnya ke tembok, mencium Carroll, dan membuka busana perempuan itu,” catat The Hill.



Carroll bungkam selama puluhan tahun karena merasa tindakan tersebut tidak termasuk pelecehan seksual. Di samping itu, ia tidak cukup percaya diri untuk melaporkan kasus ini. Tapi setelah gerakan #MeToo gencar dibicarakan selama beberapa tahun terakhir, Carroll berubah pikiran.

Sampai hari ini Trump tak kunjung mendapat panggilan dari pengadilan dan terus menyangkal perbuatan itu dengan mengatakan, “Carroll bukan [perempuan] tipeku”.

Kasus-kasus tersebut membuat sebagian anggota partai demokrat mendapat angin untuk melengserkan Trump. Menurut laporan Vox yang terbit pada 26 Juli, 100 dari 236 anggota partai demokrat menganggap partai perlu melakukan tindakan untuk memulai mekanisme pemakzulan (impeachment) terhadap Trump.

Salah satu orang yang mengampanyekan ide tersebut adalah Jackie Speier, anggota kongres yang juga dedengkot gerakan #MeToo. Sebagaimana dilaporkan Vox, Speier gencar menuntut Kongres agar menyelidiki kasus-kasus pelecehan seksual yang melibatkan Trump.

Jamie Raskin yang juga merupakan anggota partai menyatakan bawa kini partainya tengah melakukan investigasi agar bisa melakukan pemakzulan.


Partai demokrat butuh waktu berbulan-bulan untuk memastikan agar pemakzulan berhasil. Mereka harus menuruti pendapat komite yudisial soal layak atau tidaknya proses tersebut dijalankan. Setelah itu, partai harus meminta persetujuan seluruh anggotanya, dan kemudian seluruh anggota Senat.

Pemakzulan terkait pelecehan seksual bukan hal baru di AS. Pada 1998, Presiden Bill Clinton terancam dimakzulkan atas dasar sumpah palsu dan menghalangi proses investigasi terhadap dirinya. Politikus Partai Demokrat itu bersumpah tak melakukan pelecehan terhadap Paula Jones dan berusaha mempengaruhi kesaksian Monica Lewinsky. Jones dan Lewinsky adalah korban pelecehan seksual yang dilakukan Clinton, masing-masing saat ia menjabat gubernur Arkansas dan presiden AS. Clinton lolos dari pemakzulan karena Senat gagal meraih suara mayoritas untuk mendukung proses tersebut.

Kegagalan mencapai suara mayoritas itu membuat banyak pihak pesimis jika Trump bisa dimakzulkan dengan tuduhan yang sama. Kegagalan itu, tulis Vox, "bisa mencoreng citra Partai Demokrat".

Baca juga artikel terkait AMERIKA SERIKAT atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Politik)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight