Biffy Clyro: Dari Kilmarnock Menuju MTV Unplugged

Biffy Clyro. FOTO/biffyclyro.com
Oleh: Renalto Setiawan - 17 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
Biffy Clyro bukan hanya pengagum Nirvana, tetapi juga berhasil mengikuti jejak band asal Seattle tersebut untuk manggung di MTV Unplugged.
18 November 1993 akan selalu menjadi hari yang penting bagi para penggemar Nirvana. Hari itu, di Sony Studio Music, New York, Nirvana tampil brilian dalam acara MTV Unplugged. Tidak ada amarah, perilaku ugal-ugalan, dan distorsi gitar yang menjadi ciri khas band asal Seattle itu. Dalam balutan musik akustik, mereka membawakan 14 lagu dengan cara yang begitu manis.

Siapa yang bisa lupa saat Nirvana menutup penampilan malam itu dengan lagu “Where Did You Sleep Last Night”? Menjelang lagu itu rampung, Kurt Cobain memperlihatkan momen yang barangkali paling menggetarkan di dalam kehidupannya. Andrew Wallace Chamings, jurnalis asal Inggris, bahkan sampai mengabadikan momen ikonik itu di The Atlantic.

Menurut Chamings, saat menyanyikan baris terakhir “I would shiver the world night through”, suara Cobain melompat satu oktaf, membuatnya tak bisa menahan diri dan harus berteriak. Suara paraunya menggelegar. Musik terdiam. Dan saat menekankan kata “whole” setelah merampungkan baris itu, ia melolong seperti serigala di musim dingin. Cobain lantas melakukan suatu yang sulit dijelaskan tapi sangat mengena: mata birunya tiba-tiba menatap tajam, seolah-olah melihat sesuatu yang tidak diinginkan.

Empat bulan setelah penampilan itu, Kurt Cobain bunuh diri. Pada 1 November 1994, penampilan melegenda Nirvana di panggung MTV Unplugged itu lantas dirilis ke pasaran dalam bentuk album berjudul yang MTV Unplugged in New York. Nirvana selesai, tapi album itu berhasil menginspirasi banyak orang untuk bermain musik.

Satu tahun berselang, pada 1995, Biffy Clyro lahir karena para personelnya tergila-gila pada Nirvana. Kelak, band asal Skotlandia tersebut bahkan berhasil mengikuti jejak Nirvana untuk tampil di panggung MTV Unplugged.

Baca juga: 25 Tahun Nevermind

    Sekelompok Pemuda yang Ingin Keren

    Seperti kebanyakan pemuda di Britania Raya, Simon Neil muda bercita-cita menjadi seorang pesepakbola profesional. Namun, dalam perjalanan piknik sekolah, mimpi Simon tiba-tiba berubah. Kevin, teman sekolahnya, memutarkan lagu Nirvana yang lantas terus menghantui Simon. Seketika dia jatuh cinta dan ingin menjadi pemain musik.

    Katanya, “Musik menyeretku dan aku tak pernah kembali.”

    Suatu kali, dalam channel YouTube majalah DIFFUS, Simon Neil pernah menyebut bahwa MTV Unplugged versi Nirvana merupakan yang terbaik di antara MTV Unplugged lainnya. Alasan Simon, “Orang-orang tahu bahwa itu adalah penampilan spesial... [penampilan] Itu mengajarkan kepada kita bahwa musik bagus seharusnya tetap enak didengar meskipun tanpa distorsi atau hal-hal yang berkaitan dengan itu semua.”

    Setelah kerasukan Nirvana, Simon mengajak dua teman masa kecilnya, Ben Johnston dan Barry, untuk mendengarkan “ceramah” Cobain. Mereka lalu bersepakat untuk mulai bermusik. Simon menjadi gitaris dan vokalis, Ben menggebuk drum, dan Barry bermain bas. Garasi rumah Ben pun menjadi ajang berlatih bagi mereka.

    Pada Januari 1996, mereka kemudian mendapatkan kesempatan manggung untuk pertama kalinya. Mereka ditunjuk untuk menjadi artis pendukung Pink Cross dalam salah satu acara di East Kilbride, Skotlandia, dan manggung dengan nama Screwfish.

    Dari situ, sekelompok pemuda asal Kilmarnock itu memutuskan untuk terus berkarya. Namun, tantangan-tantangan berat langsung menghadang. Pertama, Barry memilih cabut – digantikan oleh James Johnston, saudara Ben. Kedua, mereka memilih menjadi pemuja music rock saat Britania Raya sedang dilanda demam Britpop. Ketiga, dan ini yang paling menyulitkan, Simon, Ben, dan James mengganti nama Skewfish menjadi Biffy Clyro.

    Konon, nama Biffy Clyro berasal dari nama seorang pemain sepakbola yang berasal dari Finlandia yang bermain di kesebelasan lokal, Ayr United, pada abad ke-17. Selain itu, ada juga yang menyebutkan nama tersebut terinspirasi dari sebuah pulpen memorabilia dari Cliff Richard, salah satu penyanyi besar asal Inggris. Versi manapun yang benar, nama Biffy Clyro tetap terdengar aneh.

    Pada 1999, saat Biffy Clyro merilis single pertama mereka, “Iname, sebenarnya ada beberapa orang dari perusahaan rekaman datang untuk menawarkan kontrak. Namun, tawaran tersebut selalu disertai dengan satu syarat: nama Biffy Clyro harus diganti karena terdengar aneh dan tidak menjual.

    Mereka menolak dengan alasan menarik. Kata Simon, “Kami sudah menggunakan nama ini selama tiga tahun dan kami sudah memiliki 10 penggemar dan kami tidak akan mengubah nama itu!”


    Pada tahun 2002, Biffy Clyro merilis album pertama mereka, Blackened Sky. Dirilis di bawah naungan label indie Beggars Banquet, album itu mendapatkan respons yang beragam. MusicOMH dan PopMatters menyukainya. Namun, Dean Carlson dari AllMusic menyebut,Blackened Sky adalah aspek kurang menarik dari grunge Amerika yang dirilis secara terlambat," dan memberi rating 1,5 bintang untuk album tersebut.

    Respons jelek juga datang dari salah satu staf Beggar Banquet. Ia mengatakan, “Tidak ada orang yang tertarik dengan sekelompok pemuda Skotlandia bertato yang bermain musik rock dengan cara seperti itu.”

    Setelah merilis The Vertigo of Bliss (2003) dan Infinity Land (2004) dengan gaya musik yang sama dengan Blackened Sky, Biffy mulai mengubah gaya musiknya saat merilis Puzzle pada 4 Juni 2007. Mereka memilih bermain dengan nada-nada yang lebih sederhana, tapi tetap sesuai dengan ciri khas mereka. Selain itu, Biffy juga mulai bermain-main dengan lirik.

    Lagu “Folding Star” bisa menjadi contoh. Dalam lagu tersebut, Simon mengenang mendiang ibunya dengan bait lagu yang cukup emosional: “Eleanor, Eleanor, I would do anything for another minute with you”.

    Puzzle ternyata meledak di pasaran. Majalah Kerrang! menobatkan album tersebut menjadi album rock terbaik 2007. Popularitas Biffy Clyro pun terus meningkat. Simon, Ben, dan James yang hampir selalu bertelanjang dada setiap kali tampil, mulai manggung di acara-acara besar seperti Glastonbury, Reading and Leeds Festival, hingga di T in the Park. Selain itu, mereka juga sering menjadi pembuka band-band besar semacam Muse, The Who, Red Hot Chili Papper, hingga The Rolling Stones.

    Setelah itu, Biffy semakin menjadi-jadi. Only Revolutions, yang dirilis pada tahun 2009, menjadi album paling laris dalam sejarah band asal Skotlandia tersebut. Di Inggris, Only Revolutions meraih double platinum alias terjual sekitar 2 juta kopi. “Mountain” pernah nangkring di urutan 1 tangga musik Skotlandia. “The Captain”, selain pernah nongkrong di peringkat 1 tangga musik Inggris, juga mendapatkan Best Music Video versi NME pada 2010.

    Lantas, orang Inggris bagian mana yang tak tahu lagu “Many of Horror”, sebuah lagu yang dilabeli NME sebagai “rock ballad yang paling sempurna”? Lagu itu selalu mengundang kor massa setiap kali dibawakan secara langsung.

    Menuju Panggung MTV Unplugged

    Dalam Five Questions For Biffy Clyro, BBC bertanya kepada Biffy: Apa momen paling surealis yang pernah kalian alami?

    Ben Johnston lantas mengingat-ingat ketika mereka bertemu dengan Courtney Love, istri mendiang Kurt Cobain. Kala itu, Courtney mengatakan bahwa France Bean Cobain, anak gadis Cobain, adalah penggemar berat Biffy Clyro. Kepada BBC, Ben lalu mengatakan, “Itu tentu mengejutkan mengingat dia adalah anak Kurt Cobain.”



    Yang menarik, pada November 2017 lalu, Biffy ternyata mengalami momen yang lebih surealis daripada itu: mereka tampil di atas panggung MTV Unplugged, sama seperti Nirvana pada tahun 1993 silam. Kala itu, Biffy Clyro seperti mengulang penampilan Nirvana di New York. Di Roundhouse, London, Simon, Ben, dan James tampil kalem. Gairah dan energi mereka tetap terasa tapi tidak meledak-ledak. Merek juga tampak necis, tidak bertelanjang dada seperti biasanya.

    Penampilan Biffy malam itu jelas mendapatkan pujian. Salah satunya dari majalan Genre Is Dead!. Mereka menulis, “ Entah bagaimana mereka [Biffy] bisa menemukan cara sempurna untuk membawakan lagu ke level akustik tanpa mengkompesasikan pancaran energi mereka dalam penampilannya itu... Hanya dengan bakat mentah dan kemampuan menulis lagu, mereka bisa tetap berdiri tanpa harus bersembunyi di balik dinding elektronik dan aksi panggung. Sesusatu yang Biffy Clyro benar-benar tahu bagaimana cara mengatasinya, tidak seperti band-band lainnya.”

    Penampilan Biffy di Roundhouse tersebut kemudian dirilis dalam bentuk album pada 25 Mei 2018 lalu. Selain itu, karena sukses, Biffy juga melakukan tour album MTV Unplugged tersebut. Dari 3 September 2018 hingga 3 Oktober 2018 lalu, mereka tidak hanya tampil di Britania Raya, tapi juga singgah di kota-kota besar Eropa seperti Berlin, Milan, Paris, hingga Amsterdam.

    Mon The Biff!

    Baca juga artikel terkait NIRVANA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
    (tirto.id - Musik)

    Penulis: Renalto Setiawan
    Editor: Nuran Wibisono
    DarkLight