Menuju konten utama

Biaya Mahal Mencuci Daerah Aliran Sungai Bekasi

Butuh waktu puluhan tahun untuk memulihkan Sungai Cileungsi dan Kali Bekasi.

Biaya Mahal Mencuci Daerah Aliran Sungai Bekasi
Kondisi tercemar berat di bantaran Kali Bekasi di belakang bendungan Bekasi (15/09/2018). tirto.id/Hadi Hermawan.

tirto.id - Daerah Aliran Sungai Bekasi baik dari hulu di Cileungsi maupun Cikeas sebenarnya masih cukup asri. Di bantaran sungai tak begitu banyak rumah padat penduduk dan belum dibeton seperti Kalimalang. Pepohonan masih cukup rindang memagari sepanjang sempadan.

Sepintas, sungai ini terlihat baik-baik saja. Namun, jika kita mau membuka cuping hidung dan mata lebih lebar, Sungai Cileungsi hingga Bekasi tengah sakaratul maut. Nyawanya ditarik pelan-pelan sembari disuapi limbah dan racun cair.

Profesor Benny Kaukus, Direktur Environment Community Union, sempat menguji sampel air Kali Bekasi di titik Bendungan Bekasi, Pekayon, Bekasi Barat. Hasilnya, ditemukan kandungan timbal, logam berat, merkuri, surfaktan, hingga fosfat di luar ambang batas. Kadar timbal dalam sampel itu mencapai 600 parts per million (ppm), di atas nilai ambang batas 500 ppm. Sementara kadar fosfatnya mencapai 700 ppm.

“Timbal fosfat ini paling berbahaya. Dalam fosfat terdapat senyawa yang mengurangi kandungan oksigen dalam air. Inilah yang merusak biota laut. Mengapa ikan sapu-sapu bisa mati di sana? Karena tidak mendapatkan oksigen,” ujar Benny.

Lantas, dengan penyakit separah itu, bagaimana memulai pemulihan DAS Bekasi?

Peneliti Geoteknologi LIPI Bandung Dyah Marganingrum membandingkannya dengan kondisi kesehatan Citarum. Saat ini Citarum diberikan waktu selama tujuh tahun untuk revitalisasi. Jika paparan limbah dapat disetop sama sekali, target tujuh tahun itu bisa saja terpenuhi.

“Untuk Sungai Cileungsi yang lebih kecil, waktunya bisa lebih pendek. Dengan catatan, limbah sama sekali disetop,” ujar Marganingrum.

Tengku Imam Kobul dari Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Kali Bekasi mengatakan revitalisasi Cileungsi bisa memakan waktu puluhan tahun. Tim membuat kajian analisis pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran, kemudian membaginya dalam tiga interval waktu: jangka pendek (2011-2015), jangka menengah (2011-2020), dan jangka panjang (2011-2030). Termasuk menyertakannya dalam kebijakan operasional pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Ciliwung-Cisadane.

Pada jangka pendek, Tim mendorong agar segera menerbitkan kelas sungai oleh gubernur, mendorong pembangunan instalasi pengolahan air limbah industri, serta memperketat pengawasan pengolahan limbah industri.

Pada periode jangka menengah, Tim berfokus mendorong pemerintah melakukan penegakan hukum bagi pelanggar, baik industri maupun pengusaha, yang terbukti mencemari lingkungan. Sementara jangka panjang: Tim mendorong pengembangan instalasi pengolahan limbah industri serta membangun sanitasi perkotaan.

Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi menjelaskan lebih konkret: Langkah awal lewat membersihkan sampah rumah tangga di sepanjang aliran Kali Bekasi dan mengeruk sungai dari hulu hingga hilir.

Sayangnya, ikhtiar ini perlu kocek tebal.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Jumhana Luthfi mengaku pemerintah daerah tak punya anggaran sebesar itu. Ketika ditanya angka pasti soal bujet, Luthfi menggeleng. “Saya lupa tepatnya berapa, tapi jelas besar sekali,” kata Luthfi.

Sebenarnya, Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane pernah mengemukakan butuh dana sedikitnya Rp500 miliar untuk normalisasi hulu hingga hilir daerah aliran sungai Bekasi. Sementara APBD 2018 Kota Bekasi "hanya" mencapai Rp5,6 triliun; itu pun dilaporkan defisit hingga Rp900 miliar. Artinya, butuh peran pemerintah provinsi dan pusat untuk mewujudkan upaya tersebut.

Infografik HL Indepth Kali Bekashit

Wajah Suram Sungai Indonesia

Polemik aliran sungai Cileungsi-Bekasi mungkin tak sebesar isu pencemaran Citarum. Namun, ia tak bisa dianggap sepele.

Masalah Cileungsi adalah sekeping wajah suram sungai di Indonesia. Hampir sebagian besar sungai sudah divonis tercemar berat, terutama yang melewati kawasan industri dan perkotaan.

Untuk daerah Jawa Barat, Kali Bekasi termasuk paling tercemar. Dalam Atlas Status Mutu Air Tahun 2016, setidaknya ada delapan titik pantau di sepanjang daerah aliran sungai Bekasi tergolong tercemar berat.

Daerah Wanaherang, Cileungsi, adalah yang terburuk dengan skor storet minus 113. Diikuti daerah Marga Jaya, yang dilewati Kali Bekasi dengan skor minus 96. Sisanya tersebar di Cileungsi, Bekasi, dan Cikarang dengan kisaran skor minus 37-66. Skor storet adalah salah satu metode untuk menentukan mutu air berdasarkan kelas, kondisi, dan skor; dari kelas A (baik sekali dengan skor 0 alias memenuhi baku mutu) hingga kelas D (buruk dengan skor ≥ -31 alias cemar berat).

Hanya satu titik sungai di Jawa Barat yang terpantau memenuhi standar baku mutu sungai, yakni di kawasan Cidadap yang dialiri Sungai Cibuni.

Pola masalah di setiap sungai di Indonesia, menurut Dyah Marganingrum, hampir tak ada beda. Penyebabnya didominasi limbah pabrik terutama sungai-sungai di kawasan industri dan perkotaan. Kondisi ini dilanggengkan minimnya pengawasan pengolahan air limbah oleh pemerintah dan penegakan hukum yang loyo; nyaris minim terobosan.

Sementara seiring waktu, ketahanan sungai terhadap limbah semakin lama semakin menurun jika rutin dicemari, persis seperti Sungai Cileungsi dan Kali Bekasi.

“Sebenarnya sungai punya kemampuan pulih sendiri. Namun, kalau terus-menerus dihajar limbah, tentu daya tampung akan menurun,” jelas Marganingrum.

Ikhtiar dari semua pemangku kebijakan, baik regional maupun pusat, untuk pemulihan sungai di sepanjang daerah aliran Kali Bekasi sangat dibutuhkan mengingat sungai ini melewati dua kabupaten dan kota.

“Gubernur harus fokus pada penyelesaian pencemaran, bukan membangun seperti di Korea,” ujar Profesor Benny Kaukus, merujuk pada niatan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang berjanji bakal mempariwisatakan Kalimalang di Kota Bekasi.

Saat bau menyengat Kali Bekasi tak bisa lagi ditutupi-tutupi, sebagaimana rutin terjadi saban tahun terutama pada musim kemarau seperti saat ini, sejumlah pejabat segera "meninjau" lokasi. Mereka di antaranya politikus Fadli Zon, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, dan terakhir Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno.

Menko Luhut Panjaitan sempat menyatakan permasalahan Sungai Cileungsi-Bekasi menjadi perhatian pusat, meski tak jelas benar dalam bentuk apa "perhatian" tersebut, mengingat DAS Bekasi pada tahun ini bukan jadi agenda prioritas pemulihan.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Jumhana Luthfi berkata pihaknya akan turun ke Kali Bekasi untuk bersih-bersih sampah pada Oktober 2018.

“Kami akan kerahkan juga dari TNI untuk operasi ini,” kata Luthfi kepada Tirto, awal September lalu. Langkah ini meniru persis apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo mencuci Citarum dengan menerjunkan personel tentara.

Problemnya, pencemaran ini sudah terjadi selama belasan tahun dan terus berulang.

“Semoga bukan lip service saja,” ujar Benny.

Baca juga artikel terkait PENCEMARAN SUNGAI atau tulisan lainnya dari Restu Diantina Putri

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Restu Diantina Putri
Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Fahri Salam