Bias Gender Bisa Bermula dari Mainan

Anak laki-laki dan perempuan bermain bersama. FOTO/ Shutterstock
Oleh: Aulia Adam - 19 Maret 2017
Dibaca Normal 2 menit
Kebanyak orang tua bertanya-tanya kenapa lapangan kerjaan tertentu diisi banyak sekali oleh laki-laki tapi tidak oleh perempuan. Sebelum dijawab, mungkin para orang tua harus mengecek mainan anak-anaknya terlebih dulu.
tirto.id - Dalam wawancaranya dengan Wanda Sykes, Oktober lalu, Ellen Degeneres bertanya tentang sikap Wanda yang melarang putrinya bermain dengan boneka Barbie. Sebelum mendengar jawaban Wanda, jangan bayangkan ia akan menjawabnya serius. Ingat, kedua wanita ini adalah comic, komedian stand up comedy. Tentu, Wanda menjawabnya dengan gaya kocak.

“Kau melarangnya main Barbie?” tanya Ellen di tengah-tengah wawancara mereka. Kata ganti yang dipakai Ellen merujuk pada Olivia, putri Wanda yang masih balita.

“Enggak, enggak. Pasti enggak dong. Karena aku tahu ini… bagaimana kita (selama ini) memainkan Barbie di rumah-rumahan impian. Pas melihatnya, aku berpikir: apa yang (sebenarnya) dilakukan Barbie?”

Penonton tertawa.

“Beneran deh. Apa yang dilakukan Barbie? Apa yang kita ajarkan pada anak perempuan? Sementara anak laki-lakiku, mainannya bisa melakukan sesuatu. Kayak robot transformernya, diotak-atik, jadi mobil. Dia belajar sesuatu. Mainan itu membuat dia berpikir. Tapi apa yang bisa dilakukan Barbie? (Memangnya) Barbie bertranformasi jadi apa?”

Penonton kembali tertawa.

“Seorang lacur?”

Tawa penonton makin pecah.

Meski bercanda, omongan Wanda terasa ada benarnya. Bukan bagian Barbie yang bertransformasi jadi lacur, tapi bagian bahwa orang tua memang sering mengkotak-kotakkan jenis permainan sesuai gender. Kebiasaan tersebut semakin menjadi-jadi ketika toko mainan langsung membagi outlet mainan anak-anak menjadi warna merah muda untuk perempuan, dan biru muda untuk laki-laki. Lantas memangnya kenapa?

Tanpa sadar, orang tua dan toko mainan memberikan stereotip pada mainan anak-anak. Membagi boneka untuk anak perempuan saja, atau sebaliknya, memberi mobil-mobilan, action figures, pedang-pedangan atau pistol-pistolan pada anak laki-laki saja. Rupanya, pilihan-pilihan mainan ini akan berdampak pada karier anak-anak tersebut.

Hal ini kemudian sempat di permasalahkan pemerintah Kerajaan Inggris, yang kemudian menelurkan kampanye “Let Toys be Toys” pada 2013 silam. Isi kampanye ini mendorong orang tua dan toko mainan untuk tidak lagi memisah-misahkan mainan anak berdasarkan gender, dan berhenti melekatkan label-label tertentu pada mainan. Sebab, menurut Kementerian Pendidikan Inggris, label-label tersebut mengurangi jumlah perempuan yang berkarier di sektor sains dan matematika.



Asumsi itu diperkuat hasil penelitian Badan Pusat Statistik Nasional Inggris (ONS). Lebih dari 80 persen profesional yang bekerja di sektor sains, penelitian, perteknikan, dan teknologi adalah laki-laki. Sementara, 82 persen pekerjaan yang menyangkut “kepedulian, rekreasi, dan layanan publik” serta 78 persen pekerjaan yang berhubungan dengan sekretaris dan administratif adalah perempuan.

Profesor di bidang pendidikan dari Universitas Roehampton, Becky Francis juga meyakini hal sama. Menurutnya, pilihan mainan anak-anak yang diberikan sejak kecil membentuk pesan-pesan tentang apa yang layak dilakukan anak laki-laki dan apa yang layak dilakukan anak perempuan. Salah satu penelitiannya juga menemukan kalau anak laki-laki lebih sering diberi mainan yang melibatkan aksi (atau petualangan), kontruksi, dan yang berbau mesin. Sementara perempuan diarahkan untuk bermain boneka, dan yang berkaitan dengan konstruksi "feminin" di masyarakat, seperti menata rambut.

Pesan yang tak sengaja diselipkan dalam fenomena itu adalah bahwa anak laki-laki harus menciptakan sesuatu dan jadi pemecah masalah, sementara perempuan harus memerankan bagian penyayang dan bersifat mengurusi. “Mainan anak laki-laki lebih memuat informasi-informasi diktatif, dengan instruksi teknis dan merapikan sesuatu saat bermain Lego atau Meccano, sementara mainan anak perempuan cenderung di area imajinatif dan kreatif, yang mengembangkan kemampuan berbeda,” kata Francis pada BBC.

Riset dari Argo, ritel mainan anak terbesar di UK juga menguatkan persepsi di atas. Faktanya, 60 persen orang dewasa yang bekerja di bidang desain, seperti arsitek dan desainer, rupanya memainkan mainan balok-balok bangunan semasa kecilnya. Dan lebih dari 66 persen yang bekerja di bidang yang berkaitan dengan hitung-hitung, seperti akuntan atau bankir, senang bermain teka-teki ketika masih anak-anak.

Penulis buku Parenting Beyond Pink and Blue: How to Raise Your Kids Free of Gender Stereotypes yang juga Profesor di Universitas Kentucky, Cristia Spears Brown mengungkap alasan mengapa mainan sangat memengaruhi karakter anak.

Pada The Guardian Brown menjelaskan, bahwa pola pikir anak-anak cenderung hitam dan putih. Hal ini yang membuat mereka akan sangat spesifik pada gendernya. Pada umur 4 hingga lima, anak-anak mulai konstan terhadap apa yang diberikan atau diajarkan padanya, termasuk jenis mainan apa yang ia boleh mainkan.

Dalam artikel berjudul “Are Gendered Toys Harming Childhood Development?” penulis The Guardian, Olga Oksman mencoba mengurai bahwa sebenarnya bukan jenis mainannya yang menyebabkan stereotip gender juga melekat pada mainan anak. Melainkan ketidakpahaman orang tua yang suka lupa turut melekatkan stereotip-stereotip tersebut, yang kelak menjadi masalah karena perempuan diperlakukan berbeda dengan laki-laki. (Baca: Cara Indonesia Memperlakukan Perempuan)

Selain itu, menurut Brown ada satu hal lagi yang membuat stereotip itu mengakar, yakni cara mainan-mainan itu dipasarkan perusahaan mainan. “Semua mainan sebenarnya netral pada gender apa pun. Yang membuatnya tak netral adalah cara mainan itu dipasarkan,” kata Brown.

Baca juga artikel terkait KESETARAAN GENDER atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Aulia Adam
DarkLight