BI Siapkan 1.000 Titik Penukaran Uang di Seluruh Indonesia

Oleh: Damianus Andreas - 23 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
BI sebut tidak ada biaya tambahan menukarkan di tempat resmi.
tirto.id - Bank Indonesia (BI) meminta masyarakat agar menukarkan uang untuk menyambut Lebaran di tempat-tempat yang resmi. BI sendiri telah bermitra dengan 15 bank serta memandatkan 46 kantor cabang dan kantor kas titipan maupun kas keliling agar bisa melayani penukaran uang.

Menurut rencana, akan ada 1.000 titik di seluruh Indonesia yang dapat berfungsi untuk melayani masyarakat dalam menukarkan uangnya dengan pecahan yang lebih kecil. Untuk di wilayah Jabodetabek sendiri, setidaknya akan ada 160 titik pelayanan yang tersebar.

“Dengan menukarkan di tempat resmi, tidak ada biaya tambahan yang dikenakan. Lalu belum pasti juga uang yang ditukarkan di pinggir jalan itu asli. Jangan mengambil risiko,” kata Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi di Monumen Nasional (Monas), Jakarta pada Rabu (23/5/2018).

Nantinya, titik-titik pelayanan yang resmi itu bakal beroperasi hingga H-3 libur Lebaran, yakni pada 5 Juni 2018. Setelah itu, layanan pun bakal beralih ke wilayah-wilayah mudik, seperti tempat peristirahatan dan jalur arteri.

Terhitung sejak Senin (21/5/2018) hingga Jumat (25/5/2018) mendatang, BI menggelar layanan kas keliling yang menyediakan uang rupiah dengan pecahan kecil di Monas. Dengan berlangsungnya kegiatan tersebut, Rosmaya berharap masyarakat dapat beralih untuk menukarkan uangnya di tempat yang resmi ketimbang di pinggir jalan.

Berdasarkan pantauan Tirto di lokasi hari ini, masyarakat terlihat sudah mulai mengantre sejak pukul 08.00 WIB. Untuk bisa menukarkan uang, masyarakat harus mengambil nomor urut sebelum dipersilakan mengunjungi salah satu booth dari bank-bank yang bermitra.

Adapun syarat yang dibutuhkan untuk menukarkan uang cukup dengan membawa KTP. Satu KTP warga memperoleh kesempatan untuk menukarkan uang hingga Rp3,7 juta.

“Untuk satu KTP hanya bisa satu kali penukaran saja dalam satu hari. Misal dia dari mobil Bank Mandiri ke mobil BCA tidak bisa. Tidak ada penggandaan,” ujar salah seorang petugas bernama Dharu Bima.

Lebih lanjut, Dharu menyebutkan bahwa syarat dengan KTP itu hanya berlaku untuk penukaran uang di kas keliling. Apabila hendak menukarkan uang di kantor cabang suatu bank, warga harus merupakan nasabah di bank tersebut serta membawa buku tabungan dan KTP.

Dalam pelaksanaannya, penukaran uang menggunakan sistem paket. Bank-bank yang bermitra dengan BI akan menyediakan penukaran uang dengan pecahan Rp20 ribu, Rp10 ribu, Rp5 ribu, dan Rp2 ribu. Penukaran uang pun hanya boleh dilakukan dengan komposisi masing-masing pecahan mata uang tersebut sebanyak 100 lembar.

Apabila seorang warga menukarkan uang sebanyak Rp3,7 juta, maka ia akan mendapatkan masing-masing pecahan mata uang sebanyak 100 lembar. Kendati demikian, warga juga bisa hanya menukarkan beberapa pecahan mata uang yang dikehendaki saja.

Tirto pun sempat bertemu seorang warga Jakarta bernama Sella yang baru pertama menukarkan uang di layanan kas keliling ini. Sella mengaku tertarik dan mengetahui informasi tentang penukaran uang resmi ini dari pemberitaan di televisi.

“Kalau di pinggir jalan mahal. Untuk menukarkan uang sebanyak Rp100ribu, dijualnya Rp110 ribu. Katakanlah kalau mau menukarkan Rp1 juta kan jatuhnya mahal juga. Jadi mending di sini,” ucap Sella.

Selain Sella, seorang warga lain bernama Muhammad Anshori juga menyebutkan tidak adanya tambahan biaya menjadi alasannya datang ke tempat penukaran uang yang resmi. Kendati menurutnya proses penukaran sudah berjalan cepat dan efisien, namun berlakunya sistem paket membuat dirinya tidak bisa leluasa memilih pecahan uang yang diinginkan.

“Karena sudah dipaketin jadi kita nggak bisa pilih, misalnya mau pecahan Rp10 ribu semua. Ada pecahan-pecahan yang harus ikut, mulai dari Rp20 ribu sampai dengan Rp5 ribu,” ucap Anshori.


Baca juga artikel terkait HARI RAYA IDUL FITRI atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Yantina Debora