Menuju konten utama

BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 5,75%

BI kembali menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di 5,75 persen.

BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 5,75%
Calon Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan salam kepada para anggota DPR yang mengikuti Sidang Paripurna DPR ke-19 Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2022-2023 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/3/2023).ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.

tirto.id - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di 5,75 persen. Selain itu, bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility tetap sebesar 5,0 persen persen dan suku bunga lending di 6,5 persen.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 17 dan 18 April 2023 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers Pengumuman Hasil RDG April 2023, di Kantornya, Jakarta, (18/4/2023).

Perry menjelaskan keputusan ini tetap konsisten untuk memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi dan inflasi ke depan. Bank Sentral meyakini suku bunga yang ada saat ini 5,75 persen tersebut memadai untuk mengarahkan inflasi inti tetap berada pada kisaran 3 plus minus 1 persen disisa tahun 2023.

"Dan inflasi indeks harga konsumen IHK akan kembali ke dalam sasaran 3 plus minus satu 1 persen lebih awal dari perkiraan sebelumnya" jelasnya.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) meminta Bank Indonesia (BI) untuk kembali menahan suku bunga acuan di 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2023. Hal ini mempertimbangkan kondisi ekonomi dalam negeri masih cukup baik.

"Dengan kondisi ekonomi yang sedang dalam tren kenaikan dan inflasi relatif terkendali, lebih baik Bank Indonesia tidak menaikkan suku bunga acuan," kata Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Ajib Hamdani kepada Tirto, Senin (17/4/2023).

Dia menjelaskan di momen Ramadan dan Lebaran saat ini likuiditas akan mengalir lebih deras, dan berdampak pada perekonomian di tanah air. Sementara itu, dari sisi konsumen suku bunga yang tetap akan menambah daya dorong mengalirnya likuiditas dan menjaga daya beli masyarakat. Sedangkan dari sisi produksi dan pengusaha, demand yang mulai kembali menjadi hal positif dan harus terus diberikan insentif terbaik.

"Jadi, dari sudut pandang demand dan supply, secara umum lebih positif kalau Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan," pungkas dia.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA ACUAN BI atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Intan Umbari Prihatin