BI Bikin Standardisasi, Integrasi Fintech & Perbankan Dijamin Aman

Oleh: Hendra Friana - 27 Mei 2019
Dibaca Normal 1 menit
Aktivitas open API harus memiliki standar tersendiri, terutama mengenai kontrak antara perbankan dengan penyedia API.
tirto.id - Bank Indonesia (BI) bakal menstandardisasi interkoneksi data antara perbankan dengan perusahaan penyelenggara financial technology (fintech).

Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Erwin Haryono mengatakan, standardisasi tersebut akan menyasar ke teknologi interkoneksi atau Application Programming Interfaces (API). Hal itu perlu dilakukan agar tukar menukar data antara bank dan fintech bisa berjalan dengan aman.

"Sesuai survei yang dilakukan oleh BI, standardisasi API memang perlu dilakukan. Kami sudah berbicara dengan pelaku usaha dan sudah membicarakan mengenai timeline standardisasi ini," ujar di kompleks BI, Senin (27/5/2019).

Erwin juga mengatakan, aktivitas open bank antara perbankan dan fintech melalui API sebenarnya sudah dilakukan sejak lama.


Salah satu, kata dia, adalah pengisian saldo uang elektronik yang dikelola fintech lewat ATM atau internet banking.

Namun, kata dia, bila ingin mengikuti standar internasional, open API harus memiliki standar tersendiri, terutama mengenai kontrak antara perbankan dengan penyedia API.

Selain alasan keamanan, standardisasi API dibutuhkan lantaran sistem pembayaran ekonomi digital bakal berkembang semakin pesat.

Oleh karena itu, kata dia, standardisasi API dijadikan sebagai salah satu langkah strategis menuju visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025 mendatang.

Sinergi antara fintech dan perbankan perlu dilakukan untuk memperluas akses pembiayaan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Terutama, lanjut Erwin, karena dapat menekan tarif transaksi dalam sistem pembayaran elektronik.

"API ini banyak di Indonesia tapi belum standardized. Ada rencana bicara dengan OJK untuk standardisasi API, agar ada kolaborasi terjadi secara cepat," ujar dia.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan, open API yang tidak dimanfaatkan dengan optimal hingga saat ini jadi salah satu penyebab persaingan monopolistik dan shadow banking masih mengintai.

"The banking itu salah satu yang punya data, tetapi selama ini tidak dijadikan komoditas, digital banking adalah satu upaya menjadikannya komoditas, to gather the need of people, isunya bagaimana gunakan data ini," ucap dia.



Baca juga artikel terkait FINTECH atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Zakki Amali
DarkLight