Periksa Fakta

Betulkah Fenomena Aphelion Sebabkan Cuaca Lebih Dingin?

Penulis: Fina Nailur Rohmah - 26 Jul 2022 15:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Peristiwa Aphelion tidak berperan pada kenaikan maupun penurunan suhu di permukaan bumi.
tirto.id - Narasi mengenai fenomena "Alphelion" tersiar di media sosial Facebook melalui sebuah unggahan akun bernama Nova Siringo Ringo Nova (tautan). Unggahan dengan gambar matahari dan bumi itu menyatakan klaim bahwa mulai 23 Juli – 22 Agustus 2022 cuaca akan lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya.

Akun Nova Siringo Ringo Nova juga menyematkan deskripsi berbunyi, “Ini disebut fenomena Albelian, dimulai besok pagi jam 5:27 kita tidak hanya akan melihat tetapi juga mengalami efek dari Fenomena Alphelion.”

Akun itu pun menyebarkan informasi bahwa kita akan mengalami cuaca dingin yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mana cuaca di siang hari terasa panas tapi tidak menyengat. Kemudian pada malam hari langit berbintang tapi suhu terasa dingin seperti akan terjadi hujan.

Berikutnya, unggahan tersebut menjelaskan bahwa fenomena Alphelion atau disebut juga dengan Albelian adalah saat di mana jarak jauh antara matahari dan bumi menjadi 152 juta kilometer (km), dari yang biasanya berjarak 90 juta km.

Fenomena ini diklaim dapat mengakibatkan badan pegal-pegal, tenggorokan tersumbat, demam, batuk dan masalah pernapasan. Dengan demikian, akun itu menyebut, sebaiknya sistem kekebalan tubuh diperkuat dengan vitamin dan produk makanan sehat.

Periksa Fakta Betulkah Fenomena Aphelion
Periksa Fakta Betulkah Fenomena Aphelion Sebabkan Cuaca Lebih Dingin?. foto/hotline periksa fakta tirto


Unggahan ini telah mencuat sejak 22 Juli 2022 dan telah dibagikan sebanyak 1.900 kali, memperoleh 155 komentar serta disukai 515 warganet per 25 Juli 2022.

Informasi serupa rupanya bukan sekali ini tersebar. Unggahan lainnya juga dapat dijumpai di sini, sini, dan di sini.

Namun, benarkah Alphelion menyebabkan cuaca lebih dingin? Apa sebetulnya fenomena Alphelion itu?

Penelusuran Fakta

Tirto menelusuri fenomena Alphelion yang diklaim seperti dalam unggahan. Alhasil, kami menemukan bahwa penyebutan yang sebenarnya adalah Aphelion. Menurut ensiklopedi Britannica, peristiwa itu dikenal dalam istilah astronomi sebagai keadaan ketika titik pada orbit planet, komet, atau benda lain berada paling jauh dari matahari. Pada laman ensiklopedi Britannica pula, disebut bahwa bumi berada di titik Aphelion pada awal Juli, ketika bumi berjarak 4,8 juta km lebih jauh dari matahari dibanding ketika bumi dekat ke matahari di awal Januari (Perihelion).

Nama Aphelion juga disebut berasal dari Bahasa Yunani kuno, yakni ‘Apo’ yang berarti jauh dan ‘helios’ yang artinya matahari.

Kendati terletak jauh dari matahari, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui akun Twitter resminya pada 3 Januari 2022 menjelaskan bahwa Aphelion tidak berpengaruh signifikan terhadap suhu bumi.

Menurut PLT Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko, lewat cuitan akun Twitter resmi lembaga tersebut, hal itu termasuk pada periode letak bumi di dekat matahari, yang disebut pula dengan Perihelion.

Urip bilang bahwa periode puncak fenomena astronomis Aphelion terjadi pada Juli, sedangkan Perihelion adalah Januari.

"Saat Aphelion, posisi matahari memang berada pada titik jarak terjauh dari bumi. Kendati begitu, kondisi tersebut tidak berpengaruh banyak pada fenomena atmosfer permukaan," katanya.

Ia menyimpulkan cuaca dingin dalam beberapa hari terakhir bukan karena Aphelion tetapi karena faktor-faktor lain di luar sebab bumi berada di jarak terjauh dari matahari. Pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim penghujan dengan masa puncak terjadi pada Februari 2022. Hal ini menyebabkan seolah Aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia.

Padahal pada faktanya, penurunan suhu di masa pergantian tahun banyak disebabkan faktor di luar itu, tulis Urip melalui cuitan di akun Twitter BMKG tersebut.

Peristiwa Aphelion memang telah terjadi pada Senin (4/7/2022) sekitar pukul 3 pagi EDT (07.00 GMT), dilansir situs berita seputar luar angkasa Space. Saat peristiwa tersebut, jarak bumi menjadi 152,1 juta km dari matahari.

Lebih lanjut mengenai fenomena Aphelion dan Perihelion, Tirto menemukan artikel bertanggal 7 Januari 2022 dari website Edukasi Sains Antariksa (Edusainsa), yang dikelola Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Menurut Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Andi Pangerang dalam laman tersebut, tanggal Perihelion dan Aphelion cenderung berubah-ubah setiap tahunnya lantaran adanya perturbasi atau gangguan dari gravitasi planet yang lebih besar, seperti Jupiter. Ia pun menyebut bahwa Perihelion dan Aphelion tidak terjadi dalam waktu yang cukup lama, melainkan pada tanggal-tanggal tertentu saja.

Laman tersebut juga mengonfirmasi bahwa Perihelion dan Aphelion tidak berdampak pada kenaikan maupun penurunan suhu di permukaan bumi. Menukil dari laman Edusainsa, faktor klimatologis atau iklim turut berperan besar dalam perubahan suhu di suatu wilayah.

Narasi yang sama persis nampaknya beredar pula pada tahun 2018 dan 2021 dan telah dibantah oleh BMKG. Pada Juli 2018, BMKG menyatakan, penurunan suhu kala itu lebih dominan disebabkan oleh sedikitnya kandungan uap di atmosfer, khususnya di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain itu, pada bulan Juli wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia semakin signifikan, yang juga dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia. Hal itu kemudian berimplikasi pada penurunan suhu udara pada malam hari utamanya di wilayah-wilayah tersebut.

Terakhir, BMKG sempat menerbitkan rilis pada 7 Juli 2021 yang memuat tips hadapi suhu lebih dingin atau disebut BMKG dengan fenomena “bediding.” Pada masa pandemi, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup.

Selain itu, masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas yang berlebihan dan membuat lelah. Namun begitu, perlu diingat sekali lagi, cuaca dingin pada bulan ini tidak secara signifikan dipengaruhi oleh Aphelion.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusruan fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa peristiwa Aphelion tidak berpengaruh signifikan terhadap suhu bumi dan tidak berdampak banyak pada fenomena atmosfer permukaan. Fenomena Aphelion sendiri adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli, di mana posisi matahari berada pada titik terjauh dari bumi.

Narasi mengenai cuaca dingin akibat Aphelion juga telah dibantah beberapa kali oleh BMKG sejak 2018. Dengan demikian, unggahan yang beredar bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Fina Nailur Rohmah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty

DarkLight