Zen RS
Berkarier sebagai penulis dan jurnalis selama hampir dua dekade. Pendiri Pandit Football Indonesia....

Betapa Brengseknya Singapura

Senin, 8 Agustus 2016 12:17 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Singapura itu tetangga menyebalkan. Saat pemerintah Indonesia sedang mencoba menarik uang yang ditanam di luar negeri, salah satunya melalui tax amnesty, mereka dikabarkan menyiasatinya dengan beragam program. Intinya: bagaimana caranya agar uang orang Indonesia di Singapura tidak di-repatriasi.

Bambang Brodjonegoro, yang saat itu masih menjabat Menteri Keuangan, menganggap upaya Singapura itu sebagai hal biasa. "Itu berita basi," kata Bambang. Kendati pemerintah Singapura sudah membantah, namun sentimen negatif kadung muncul. Presiden Jokowi sendiri segendang sepenarian dengan Sang Menteri dengan alasan: "Iya dong karena uang yang terpakir di negara mereka dibawa kembali ke Indonesia. Siapa yang senang?"

Urusan dengan Singapura terkait tax amnesty dan repatriasi dana ini hanyalah urusan paling belakangan. Sudah banyak perkara yang nyangkut dengan Singapura ini. Dikombinasikan dengan perasaan sebagai bangsa yang besar, urusan dengan Singapura memang akhirnya terasa menjengkelkan.

Di hadapan Indonesia, yang selalu percaya kemerdekaannya diraih dengan darah dan keringat sendiri, Singapura terlihat tak ada apa-apanya. Mereka tidak punya sejarah (baca: kejayaan masa silam), sebagaimana leluhur Indonesia pernah punya Sriwijaya, Majapahit hingga Kesultanan Aceh yang gagah berani di laut. Apalah itu Singapura! Hanya bikin-bikinan Thomas Stamford Raffless, doang!

Negara yang tak punya kebanggaan sejarah sajalah yang memungkinkan pemimpinnya menaburkan bunga di makam orang yang secara resmi dianggap sebagai musuh negara. Dua prajurit Indonesia, Usman dan Harun, yang menyusup ke Singapura dan meledakkan Gedung MacDonald, dihukum gantung oleh Singapura di fase transisi kepemimpinan dari Sukarno ke Soeharto. Usman dan Harun dianggap teroris. Namun karena sedang berkepentingan dengan Indonesia era Soeharto, mau-maunya Lee Kuan Yew pergi ke Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk menaburkan bunga di pusara Usman dan Harun.

Saat Indonesia berencana menamai salah satu kapal perang dengan nama Usman-Harun beberapa tahun lalu, Singapura lagi-lagi bertingkah rewel. Status Usman-Harun sebagai teroris di mata (pengadilan) Singapura kembali diungkit-ungkit. Masalahnya, terus ngapain Lee Kuan Yew tabur bunga di makam Usman-Harun di Taman Makam Pahlawan? Mestinya kelar urusan sejarah satu itu.

Indonesia mustahil melakukan hal serupa. Jin-jin dari semua museum Indonesia akan mengutuk siapa pun presiden Indonesia yang, misalnya, pergi ke kuburan Westerling dan menaburkan bunga apalagi jika ikut memanjatkan doa-doa. Hanya bangsa yang tak punya sejarah membanggakan sajalah yang bisa membiarkan pemimpinnya bertingkah seperti Lee Kuan Yew.

Sampai kapan pun Singapura tidak punya nilai sejarah dalam soal “djoang-berdjoang” ini. Dihancurkan Majapahit ya tidak berkutik. Dibumihanguskan Portugis juga tak bisa apa-apa. Diduduki Kesultanan Johor pun ya manut-manut wae. Kalau Raffles, bocah yang lahir di geladak kapal itu, tidak mentas dalam panggung sejarah, Singapura ini, mungkin loh ya, hanya akan berstatus setingkat kabupaten saja.

Sebagai "jajahan" pun ya cuma jadi pangkalan militer. Mau dikeruk apanya? Boro-boro emas atawa cengkeh, lada dan pala, lha wong cabe rawit saja entah ada entah tidak di sana. Kalau pun kemudian Singapura menjadi ramai, ya pada mulanya sekadar jadi tempat sandar kapal-kapal yang "monggo mampir mas", "monggo mimik-mimik dulu".

Sudah jelas duduk perkara "antek Inggris", yang dimulai dengan campur tangan sejarah melalui keputusan yang diambil Raffles. Tentang Singapura sebagai "antek Israel", juga sama jelasnya, bahkan lebih jelas belakangan ini. Singapura adalah negara yang tegap berdiri di Asia (Tenggara) dengan -- tidak bisa tidak-- backing-an para adikuasa Barat.

Pada 19 April 2016, kurang dari setengah tahun yang lalu, Perdana Menteri Lee Lee Hsien Loong bisa-bisanya dengan enteng menjamu Benjamin Netanyahu dan kemudian berkata: "Israel dan Singapura punya hubungan yang panjang dan lama. Tapi segalanya dimulai dengan hubungan (urusan) pertahanan. Angkatan Bersenjata Israel (IDF) membantu kami membangun Angkatan Bersenjata ketika negara-negara lain menolak membantu."

Pembaca hanya perlu sedikit meriset, tentu saja yang paling gampang melalui mesin pencari, sejarah hubungan Israel dan Singapura untuk memahami pentingnya andil "negara bintang enam" itu dalam pembentukan sejarah modern Singapura sebagai negara berdaulat (dari federasi Malaysia). Hasilnya niscaya membuat Indonesia semakin jengkel: saat Israel punya nama yang sangat busuk di Indonesia, ini kok ada jiran yang dengan bangganya berterimakasih kepada Israel.

Kelicikan ala Israel pula yang dengan senang hati dipelajari Singapura untuk menyikapi posisinya sebagai negara kecil di antara negara-negara besar yang berada di sekitarnya. Lee Kuan Yew, penerus Raffles dari jalur yang berbeda, dengan cerdiknya menggunakan cara Israel -- tentu dengan masukan dari negaranya Youssi Benayoun itu-- untuk berdiri dengan tegap dalam kepungan para jiran yang penuh syak wasangka. Sama-sama berukuran kecil, sama-sama dicurigai, sama-sama dikepung negara-negara mayoritas muslim, Singapura dengan mudah kemudian menjadi semacam "Israel-nya Asia Tenggara", bahkan "Israel-nya Asia".

Kelicikan Israel, atau kecerdikan dalam bahasa yang lebih ber-vetsin Timur, membuat mereka tahu apa yang mesti menjadi prioritas, salah satunya persetujuan untuk melatih tentara di wilayah Indonesia. Singapura yang luasnya mirip dengan luas Jakarta memang tidak punya ruang udara yang memadai untuk melatih pasukan udaranya berlatih. Baru terbang beberapa menit sudah pasti jet tempur mereka sudah keluar dari teritori sendiri. Percuma punya banyak pesawat tempur yang canggih-canggih -- dan Singapura punya itu-- jika latihan saja sulit.

Maka menjadi penting bagi mereka untuk dapat menggunakan ruang udara tetangganya, khususnya Indonesia. Mereka bukan hanya bisa mendesakkan kebutuhan untuk diizinkan menggunakan wilayah perbatasan untuk latihan tempur, bahkan -- bagi Singapura itu berarti hak untuk -- mengendalikan.

Dalam buku Quo Vadis Kedaulatan Udara Indonesia?, Chappy Hakim mengisahkan pada 1991 pesawat Angkatan Udara Indonesia yang membawa tamu VIP dilarang mendarat di Kepulauan Natuna yang merupakan wilayah kedaulatan Indonesia. Pilot AU dan pihak Singapura berdebat bermenit-menit di udara. Persoalan ini masih berlarut-larut hingga saat ini. Singapura berdalih mereka hanya berada di wilayah "military training area" (MTA), zona udara milik Indonesia yang bisa dipakai Singapura untuk latihan militer.

Perjanjian soal MTA ini sebenarnya sudah berakhir pada 2001, tapi Singapura tetap ngotot menggunakan MTA. "Mereka beralasan 'MTA itu danger area jadi harus dioperasikan oleh saya, Singapura Airforce'. Makanya setiap hari mereka latihan di sana sampai hari ini," kata I Ketut Wahyu Wijaya pada 2015, kala itu menjabat sebagai Komandan Lapangan Udara Tanjungpinang.

Bagaimana tidak menyebalkan! Ketika pemerintah Indonesia mencoba menarik uang para koruptor yang disimpan di Singapura, berikut berusaha mengekstradisi para pelakunya, mereka malah mengeksploitasi situasi tersebut untuk bernegosiasi. Apa lagi jika bukan memanfaatkan situasi untuk urusan kepentingan militer mereka.

Pada 2007, di masa Presiden SBY, diteken perjanjian ekstradisi yang menyebutkan jenis-jenis kejahatan yang pelakunya dapat diekstradisi, salah satunya korupsi. Hanya saja, itu baru awal, karena Singapura mengajukan banyak persyaratan yaitu agar militer mereka dapat di wilayah Indonesia. Rincian persyaratannya yang diminta mereka benar-benar menakjubkan: militer Singapura dapat berlatih selama 15 hari setiap bulan (padahal TNI hanya mau empat atau enam kali setahun) dan diizinkan mengerahkan 25 kapal dan 20 pesawat tiap kali latihan -- jumlah yang sangat besar.

Urusan ekstradisi hingga kini masih tersendat. Itu dalam urusan korupsi, perkara koruptor Indonesia yang "kemping rasa VIP" di Singapura. Namun tukar-tukaran yang lain lancar betul. Secara berkala Indonesia mengirim asap. Ini urusan pelik juga. Okelah jika asap dari hutan-hutan di Sumatera-Kalimantan itu disebut mengganggu aktivitas sehari-hari, merusak kesehatan, dan lain-lain. Okelah juga jika misalnya Singapura menganggap Indonesia tak becus mengurus persoalan lingkungan.

Tapi setidaknya urusan asap tidak membuat wilayah bertambah atau menyusut, tidak seperti perkara pengisapan pasir Indonesia. Pertama, pasir-pasir yang diangkut ke Singapura terbukti membuat wilayah mereka meluas. Dari yang mulanya hanya 580an km persegi pada 1960-an, luas Singapura kini menjadi 700an km persegi. Ini jelas urusan sangat sensitif, karena luas wilayah ini menyangkut soal kedaulatan. Kedua, kalau mereka mengeluhkan Indonesia yang tak becus mengurusi lingkungan karena “ekstradisi” asap, memangnya sedot-sedotan pasir ini tidak merusak lingkungan? Memangnya mereka tak pernah “mengekstradisi” limbah ke wilayah Indonesia?

Sebagai tetangga, mereka bukan sekadar tetangga yang ngeselin. Singapura seperti bocah tetangga sebelah yang rese, tapi tiap kali diresein balik si bocah tetangga ini selalu siap dibela satpam-satpam kompleks. Sialnya, satpam yang jadi bekingan badannya gede-gede: semacam Inggris, Amerika sampai Israel.

Dibandingkan Indonesia yang hingga hari ini tetap merasa tidak aman terhadap bahaya asing, Singapura justru tak pernah lolos dari citra sebagai "antek asing", mereka tidak malu-malu mengakuinya: dari antek Inggris, kemudian antek Amerika, sampai antek Israel. Dalam cita rasa kebanyakan orang Indonesia, kombinasi ketiganya itu paket combo yang lebih dari sekadar menyebalkan. Kafir semua itu!

Sentimen negatif sebenarnya juga rutin diarahkan kepada Malaysia dan Australia, dua tetangga yang lain. Namun terhadap Singapura rasanya begitu lain. Mereka terasa lebih menyebalkan, kadang terlihat brengsek, justru karena – salah satunya-- mereka hanyalah negara dengan ukuran kurcaci dibanding Indonesia. Justru karena luas wilayahnya hanya seuprit, justru karena mereka begitu kecil!

Dari sanalah sekonyong-konyong muncul pertanyaan: siapa, sih, yang sebenarnya kecil dan kerdil?

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight