16 Maret 1941

Bertolucci dan Kekerasan Seksual dalam Film Last Tango in Paris

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara - 16 Mar 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Maria Schneider benar-benar diperkosa oleh lawan mainnya (Marlon Brando) dalam sebuah adegan film Last Tango in Paris (1972).
tirto.id - Pada 24 November 2016, El Mundo de Alycia--organisasi nirlaba yang berfokus dalam advokasi hak-hak perempuan dan berbasis di Spanyol--mengunggah video berdurasi 2:29 menit yang berisi rekaman wawancara dengan Bernardo Bertolucci, sutradara terkemuka kelahiran 16 Maret 1941, yang menjelaskan satu adegan kontroversial dalam film Last Tango in Paris (1972).

Film itu, yang mengisahkan hubungan seksual yang ganjil antara Paul (diperankan Marlon Brando) dan Jeanne (Maria Schneider) di sebuah apartemen di Paris, meraup pujian kritikus termasuk nomine Anugerah Akademi untuk aktor terbaik dan sutradara terbaik. Namun, setelah lama terabaikan dari perhatian publik betapapun bukan rahasia, perasaan jijik lebih mengemuka belakangan untuk kesuksesan film tersebut.

Perkaranya: Bertolucci dan Brando merencanakan adegan di luar skenario dan tanpa persetujuan Schneider. Adegan ini—Bertolucci menyebutnya “sekuens mentega”—memaksa Schneider diperkosa dari bokong oleh Brando dengan elemen mentega sebagai detail yang melumasi bagian paling pribadi Brando. Penonton dapat melihat bahwa Schneider menangis. Ia bukan sedang berakting. Ia sungguh-sungguh mengalami pemerkosaan.

Bertolucci mengatakan bahwa gagasan adegan itu muncul bersama Brando di pagi hari sebelum syuting. Di lantai flat tempat mereka akan merekam, dia dan Brando sarapan lebih dulu, menyantap roti bagel dan mentega, memandang satu sama lain, dan saling tahu atas apa yang mereka kehendaki. Bertolucci berkata bahwa taktik itu diperlukan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkannya dari sang aktris. Ia berdalih, demi mencapai sesuatu yang genting dalam film, terkadang “harus dengan kebebasan yang penuh.”

Rekaman wawancara ini sebetulnya bukan hal baru. Awalnya dilansir tahun 2013, dalam satu acara stasiun televisi Belanda, saat Bertolucci menanggapi pertanyaan si pembawa acara mengenai pernyataan Schneider tahun 2007 yang mengatakan kepada Daily Mail bahwa ia merasa diperkosa.

“Mereka mengatakan kepada saya tentang hal itu hanya sesaat sebelum kami harus syuting adegan dan saya sangat marah,” kata Schneider. “Saya seharusnya dapat menelepon agen saya atau memanggil pengacara saya datang ke lokasi syuting karena Anda tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak terdapat dalam naskah, tetapi saya tidak mengetahuinya pada saat itu.”

Manipulasi dan pemaksaan sangat mungkin. Saat itu Schneider berusia 19 tahun, gadis yang baru merangkak karier. Sementara Brando, 48 tahun, bintang beken yang pasti dituruti.

Apa respons Bertolucci?

“Saya tidak menceritakan apa yang terjadi karena saya ingin reaksinya sebagai seorang gadis, bukan sebagai aktris,” katanya. “Aku ingin dia bereaksi kalau dia dipermalukan, dan dia bisa berteriak, 'Tidak, tidak!' kepada Brando. Saya ingin dia merasakannya, bukan berakting tentang kemarahan dan rasa hinanya.”

“Saya merasa bersalah, tapi saya tidak menyesal,” imbuhnya.

Sesudah dilansir lagi untuk menyoroti pemaksaan adegan seksual dalam sebuah film sebagai kampanye hari anti-kekerasan terhadap perempuan, rekaman wawancara Bertolucci itu mendapat perhatian media berbahasa Inggris, dan segera ramai direspons oleh kaum selebritas via media sosial.

Tanggapannya beragam, tetapi mayoritas aktor dan aktris mengecamnya.


Batas-Batas Akting

Minus relasi asuh antara sutradara dan aktor maupun aktris yang seringkali tergelincir pada siklus manipulasi, spontanitas sutradara sesungguhnya hal lazim di dunia seni pertunjukan. Gunawan Maryanto, aktor dari Yogyakarta yang memerankan penyair Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata-Kata (2016), sempat mengatakan bahwa sutradara selalu memiliki cara-cara tertentu untuk mendorong kemampuan aktor mengerahkan titik puncaknya.

“Apalagi untuk adegan-adegan yang memang aktornya belum memiliki ikatan emosi atas peristiwa [adegan] tersebut,” katanya kepada Tirto beberapa tahun lalu.

“Misalnya ada adegan digantung. Bagaimana kecemasan seseorang menjelang maut, kan, tidak ada yang punya pengalaman itu,” kata Maryanto. Si sutradara, misalnya, minta pemerannya berdiri di atas balkon es.

Karena setiap aktor memiliki kesulitan dalam memaksimalkan titik emosi yang diinginkan sutradara, maka perlakuan terhadap aktor bisa berbeda-beda. “Tetapi harus ada batasnya,” kata Maryanto.

Batas itu berdasarkan kesepakatan antara aktor dan sutradara. Jadi, relasi konsensus itu penting, sekalipun dalam adegan yang sangat emosional, dan tidak cuma berlindung di balik tuntutan peran.


Infografik Mozaik Bernardo Bertolucci
Infografik Mozaik Bernardo Bertolucci. tirto.id/Tino


Sekar Sari, aktris utama film Siti (2014), punya gambaran soal bagaimana pentingnya sutradara memperlakukan pemeranan kembali demi memunculkan emosi secara penuh dan tepat.

Eddie Cahyono, sutradara Siti, meminta Sekar bernyanyi sambil berjoget dangdut yang cukup nakal, sementara tantangannya saat film itu diproduksi, ia tengah belajar tari Jawa yang menuntut kosa gerak santun dan halus.

“Berjoget dangdut itu susah banget. Aku ditunjukin beberapa video referensi, tapi itu juga masih susah,” kata Sekar kepada Tirto. Ia merasa gugup, sementara rentang waktu terbatas.

Di bawah iringan musik dangdut, sekaligus demi mencairkan suasana, Eddie akhirnya memutuskan untuk mematikan kamera, kemudian ikut joget bersama Sekar; adegan itu ditata demi menangkap atmosfer yang mengilustrasikan ruang karaoke pinggiran kota.

Sekar, yang meraih Penampilan Terbaik dalam Festival Film Internasional Singapura, mengatakan bahwa selama proses pembuatan film, proses diskusi dengan sutradara adalah hal vital, tak hanya untuk membicarakan kesepakatan, tapi juga mempertemukan keinginan antara dirinya dan sutradara pada setiap adegan.

“Karena kita melakukan diskusi, kita selalu mencapai apa yang ingin kita sampaikan melalui visual,” katanya. “Kerja sebagai tim. Dan karena itu, kita harus terbuka.”

Sekar benar dan Siti telah membuktikannya. Tanpa perlu perlakuan kontroversial seperti dialami Maria Schenider, Siti berhasil memenangkan sejumlah penghargaan termasuk Piala Citra Festival Film Indonesia 2015.

Sebaliknya Schenider, usai berperan dalam adegan seksual dengan pria bangkotan Brando dalam Last Tango in Paris, hidupnya kacau. Ia cepat tenar, tapi ia juga kecanduan dan overdosis dan pengin bunuh diri. Orang melihatnya semata simbol seks, bukan aktris tulen. Tetapi, sejak dekade 80-an, ia bangkit: menjadi pembela gigih untuk peningkatan kondisi kerja bagi kaum perempuan dalam industri film.

Kisah kelam yang menimpa Schenider boleh jadi hilang seiring kepergiannya pada tahun 2011. Tetapi suara kritis dan rasa tersakitinya, yang eksplisit dalam beberapa kutipan di media, kembali mengingatkan bahwa dalam industri glamor macam sinema, yang buram dan gelap masih bertahan.

==========

Artikel ini terbit pertama kali pada 7 Desember 2016. Redaksi melakukan penyuntingan ulang dan menayangkannya kembali untuk rubrik Mozaik.


Baca juga artikel terkait LAST TANGO IN PARIS atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Film)

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Zen RS

DarkLight