Bertaruh Nyawa di Zona Merah COVID-19: Kisah dari Dalam Wisma Atlet

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 28 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Inilah kisah-kisah dari garis depan pertempuran lawan COVID-19, yang dituturkan para perawat di Wisma Atlet Jakarta.
tirto.id - "Tiiittt.. Tiiitt.. Tiiitt..."

Suara mesin monitor pasien itu memenuhi ruangan High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. Di sana pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang dianggap membaik namun masih perlu pengawasan khusus dirawat.

Semula tempat ini adalah hunian sementara atlet Asian Games dan Asian Para Games 2018, namun sejak 23 Maret lalu disulap jadi fasilitas medis karena terbatasnya ruang perawatan untuk pasien COVID-19 di rumah sakit Jakarta. Kini, per Selasa 28 April pukul 8 pagi, RS itu menangani 824 pasien positif, 57 orang dalam pemantauan (ODP), dan 56 pasien dalam pengawasan (PDP).

Ibu kota jadi episentrum penularan COVID-19: dari 9.096 kasus secara nasional per 27 April, nyaris separuhnya atau 3.835 berada di sini.

Jumlah kasus yang terus meningkat, ditambah adanya kebijakan pelambatan aktivitas warga lewat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berlaku efektif sejak 10 April dan diperpanjang hingga 22 Mei sejak 24 April, menjadikan rumah sakit lebih padat daripada jalanan.

Subuh itu situasi RSD Wisma Atlet lengang. Sebagian perawat dan dokter jaga tertidur dengan posisi duduk. Ada yang lelap di kursi roda pasien yang tak terpakai, ada pula yang di kursi kantor. Mereka kerap tersentak karena posisi tidur membuat kepala tak bisa dikontrol dan memberat. Setiap itu terjadi mereka akan bergegas menyiagakan kembali posisi duduk. Alat Pelindung Diri (APD) selalu melekat pada tubuh: dari mulai baju hazmat, pelindung wajah, kacamata goggles, penutup rambut, masker, sarung tangan, hingga sepatu bot.

Di hadapan para petugas medis ini tempat tidur berjajar rapi dan sebagian besar tak ditempati pasien. Mereka dapat sejenak tidur karena pasti tak ada pasien baru atau terbangun di waktu sela seperti ini.

Seorang perawat bernama Anggraini Charisma yang sedang giliran jaga merekam momen sunyi ini. "Gantian jaga, mas. Kalo tidur semua, bahaya. Khawatir ada apa-apa," kata Anggraini kepada reporter Tirto, Senin (20/4/2020).

Perempuan berusia 25 tahun itu menjadi relawan yang diseleksi Kementerian Kesehatan (Kemkes). Ia ditugaskan di Wisma Atlet sejak 4 April lalu, persisnya di HCU lantai 2 tower 7. Terkadang HCU juga diisi para pasien dari IGD.

"Di HCU RS Darurat COVID-19, kami menyebutnya sebagai IGD kedua. Karena di saat ruang IGD penuh, pasien-pasien tersebut dipindah sementara ke sini," ujarnya.


Di ruangan terpisah, di bangsal, Tiara Rumondang Siahaan bersama seorang perawat lain menangani 60 pasien. Satu kamar ditempati dua atau tiga pasien rawat inap. Kepada reporter Tirto, Senin (20/4/2020), ia mengatakan "harus semangat" dan "enggak boleh menyerah" meski melayani cukup banyak orang.

"Sebab mereka butuh kami di sini," ujar Tiara, yang kerap disapa Butet.

Perempuan 23 tahun ini ditugaskan di lantai 20 tower 7 sejak 3 April lalu. Pola pelayanan pasien sangat berbeda dibanding tempat kerja lamanya sejak 2017, RS Harapan Pematang Siantar, Sumatera Utara. Di tempat sebelumnya ia tidak perlu pakai APD lengkap, dan yang paling jelas jauh dari risiko kematian.

"Di sini yang ditangani virus yang sangat cepat penularannya dan ini emergency. Jadi penangannya darurat semua," tuturnya.

Saat paling riskan, kata Butet, ialah ketika harus meraba vena pasien positif. Ia harus seteliti mungkin agar pasien tak tersakiti dengan penusukan jarum suntik yang terpaksa berulang.

Butet sadar betul kalau COVID-19 adalah virus mematikan yang belum ditemukan obatnya sampai sekarang. Tapi ia tetap bertekad menjadi relawan meski keluarga sempat melarang karena ini panggilan hati. Selain itu, menurutnya inilah waktu yang paling tepat untuk berbakti terhadap negara dan sesama.

"Demi pemulihan bumi. Supaya berjalan normal lagi semua," ucapnya.

Susah Bernapas, Panas, lemas

Meski Anggraini dan Butet sepenuh hati melayani pasien, namun bukan berarti mereka tidak pernah mengeluh sama sekali.

Sejak menjadi relawan, jam tidur Anggraini rata-rata hanya 5 hingga 6 jam setiap hari. Menurutnya itu tak cukup, tapi tidak ada pilihan lain karena tetap harus sigap melayani pasien. "Di sini segala pengawasan kami terima, dari yang hanya sekadar pemantauan infus saja kami awasi." tuturnya.

Ia juga kadang kesulitan menahan buang air kecil. Selama memakai APD, seorang petugas harus menahan buang air kecil apalagi besar. Ia mengaku biasa pakai diaper atau penampung kencing. "Tapi risih," katanya.

Butet juga mengeluh dengan APD lengkap setiap kali bertugas. Ia biasa pakai satu masker N95 yang dilapisi lagi dengan dua sampai tiga masker bedah, kemudian dua lapis sarung tangan berbahan dasar lateks, pelindung wajah, kacamata goggles, penutup rambut, masker, baju hazmat, hingga sepatu bot.

Segala 'peralatan perang' ini sebenarnya sangat menyiksa, katanya. "Susah bernapas. Panas dan lemas. Belum lagi pakai kacamata (goggles). Kadang berembun jadi susah untuk melihat."

"Apalagi kalau visit ke ruangan [pasien]. Ngos-ngosan," tuturnya.

Pernah APD itu membuat kulit hidung Butet lecet dan berdarah karena masker dan kacamata goggles harus dipasang ketat. "Dikasih cream biar cepat sembuh dengan resep dokter," ucapnya, mengobati dampak APD bagi kulit.

Saat Ramadan, sif kerja Butet menjadi pukul 3 pagi dan harus sudah berangkat 30 menit sebelumnya, atau ketika sebagian orang lain masih terlelap.

Hari-harinya semakin melelahkan dan panjang karena ia harus bekerja hingga 10 jam setiap hari, meski standarnya adalah 8 jam. Selama 10 jam itu pula dia harus menahan haus dan lapar. Dua jam tambahan biasanya dihabiskan untuk berbagai keperluan seperti koordinasi persiapan sebelum dan pergantian sif, membersihkan peralatan, hingga membuka APD.

Meski demikian, toh Butet tetap berdedikasi. Ia bahkan sempat berbagi keceriaan dengan mengajak para pasien positif COVID-19 untuk bermain Tiktok.


Berbeda dengan Anggraini dan Butet, perawat lain bernama Achmad Imron, usia 29 tahun, memilih melapisi lagi hazmat dengan baju operasi. Sadar risiko penularan virus dari pasien tinggi, ia mengaku sangat mematuhi prosedur kesehatan. Misalnya, harus mandi dulu sebelum dan setelah menggunakan APD, tak peduli jam berapa pun itu.

"Sebelum melepas [APD]," kata Imron, "disemprot air disinfektan atau air sabun sebelum disiram air bersih."

Karena alasan risiko penularan yang tinggi itu pula para sukarelawan tak diizinkan berinteraksi dengan orang-orang di luar Wisma Atlet. Mereka diberikan ruangan khusus untuk rehat, di tower terpisah dari tempat perawatan pasien.


Hapus Stigma Perawat COVID-19

Achmad Imron melayani pasien dari beragam negara, mulai dari Arab Saudi, Sri Lanka, Nigeria, hingga India. Seluruh pasien mendapatkan perlakuan yang sama. Imron bercerita kalau pasien-pasien ini kerap meminta masakan dari negara asal mereka, yang untungnya dapat dipenuhi oleh tim gizi RSD Wisma Atlet.

Ia berinteraksi dengan pasien-pasien ini pakai bahasa Inggris. Tapi "kalau ada yang tidak bisa, saya panggil rekan saya yang bisa bahasa mereka."

Saat berbincang dengan pasien, ia kerap menyelipkan dukungan psikis: bahwa mereka bisa sembuh. Seorang pasien yang pernah ia rawat dan sekarang sudah sembuh adalah Andrea Dian Indria Sari Setiawan, seorang aktris.

"Saya merawat Mbak Andrea sampai akhirnya dinyatakan negatif COVID-19," katanya.


Para perawat ini sedang mempertaruhkan nyawa di zona merah COVID-19. Jasanya besar bagi masyarakat. Tidak ada yang bisa membantah itu.

Namun ada beberapa perawat yang saat meninggal karena menolong pasien COVID-19, jenazahnya malah ditolak warga saat akan dimakamkan. Salah satunya mendiang perawat NK, perempuan berusia 38 tahun yang meninggal dunia di RSUP Dr. Kariadi Semarang, Jawa Tengah. Jenazah mereka dianggap dapat membawa virus dan menularkannya ke yang masih hidup--meski faktanya seluruh pasien terkait COVID-19 (baik positif maupun PDP) dimakamkan sesuai protokol kesehatan.

Imron berharap hal-hal seperti itu tak terulang. "Saya yakin dengan ilmu yang saya miliki, bisa merubah stigma negatif yang berlebihan di masyarakat," katanya mantap. "Dan mampu membantu penderita untuk tetap optimis dan sembuh."


Hormat untuk Perawat

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mengatakan para perawat bisa meninggal dunia karena buruknya kualitas dan tipisnya stok APD, serta pasien yang tak jujur telah mengidap COVID-19.

Hingga kini, terdapat 16 perawat yang tutup usia karena melawan virus mematikan itu.

11 perawat di antaranya bekerja di rumah sakit non rujukan. Terbanyak berada di Jakarta (7 perawat), Jawa Tengah (3), Banten, dan Jawa Timur (2). Sedangkan dari RS rujukan COVID-19, terdapat dua perawat yang meninggal di tempat Menkes Terawan pernah bekerja, RSPAD Gatot Subroto dan RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Ketua Satgas COVID-19 DPP PPNI Jajat Sudrajat mengatakan saat meninggal, sebagian perawat ini masih berstatus PDP alias belum ketahuan positif COVID-19 atau tidak. "Baik yang belum keluar swab-nya maupun tidak sempat di-swab karena keburu meninggal," tuturnya.

Sementara jumlah perawat yang dinyatakan positif dan masih berjuang untuk sembuh tidak jelas. Pemerintah tidak memberikan data spesifik soal itu setiap kali memperbarui informasi pasien positif. Namun World Health Organization (WHO) pernah mengatakan per 7 April lalu ada lebih dari 3.000 perawat di seluruh dunia dinyatakan positif COVID-19.

Atas semua dedikasi tersebut, pada 7 April lalu, bertepatan dengan hari kesehatan dunia, WHO memberikan apresiasi setinggi langit kepada perawat.


==========

DPP PPNI membuka layanan pengaduan atau informasi melalui: 0813 9302 8936 (Call, SMS, Whatsapp). Sedangkan untuk berdonasi, bisa melalui Rekening Bank BNI a.n. Persatuan Perawat Nasional Indonesia Peduli 0992099929.

Baca juga artikel terkait UPDATE CORONA atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Rio Apinino
DarkLight