Bersama God Bless, Rock Memang Tak Pernah Mati

Vokalis grup band God Bless Ahmad Albar (kiri) dan gitaris Ian Antono beraksi pada konser bertajuk "45th God Bless Anniversary eConcert" di Telkom Landmark Tower, Jakarta, Sabtu (3/11/2018). Konser ini digelar untuk merayakan 45 Tahun kiprah God Bless dalam blantika musik Tanah Air. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/kye.
Oleh: Faisal Irfani - 27 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
God Bless dan musik rock ibarat dua senyawa yang saling melekat.
tirto.id - Geliat musik rock di Indonesia selalu menarik untuk dikupas. Rock terus bertahan, terekam, dan pernah berjaya dan mengalami pasang surut. Saat membicarakan dinamika musik rock di Indonesia, maka belum lengkap bila tak mengulas God Bless.

God Bless merupakan persamaan kata dari kebesaran. Bagi masyarakat Indonesia, reputasi God Bless bisa jadi setara dengan The Rolling Stones bagi orang-orang Britania. Perjalanan God Bless terbentang selama 46 tahun—dengan pelbagai pencapaian; album bernas hingga lagu-lagu penuh daya sengat yang kemudian dijadikan inspirasi band-band rock setelahnya.

Namun, perjuangan untuk sampai berada di titik itu tidaklah mudah bagi God Bless. God Bless harus berjibaku dengan bongkar pasang personel, konflik internal, hingga kecenderungan pasar yang lebih menginginkan musik pop untuk dijual ke khalayak. God Bless selalu melaju. Dengan nama rock, mereka melibas semua pagar penghalang. Dan kita tahu, mereka berhasil melakukannya.

Dari Belanda Turun ke Jakarta

Setelah peristiwa 30 September 1965 meletus, Achmad Albar, atau akrab disapa Iyek, memutuskan pindah ke Belanda. Di Negeri Kincir Angin itu, Iyek tinggal bersama keluarga sang paman.

Aktivitas Iyek di Belanda tak jauh-jauh dari apa yang dilakukannya ketika tinggal di Tanah Air. Ia belajar memainkan alat musik, menyanyi, dan beberapa kali mencoba bikin lagu. Iyek bisa dikata tak pernah setengah hati turun ke dunia seni. Ia merasa, seni, terutama musik, adalah jalan hidupnya.

Tekad yang kuat tersebut pada akhirnya memotivasi Iyek untuk turut serta dalam ajang kontes bakat bernama “Talenten Yacht Grand Gala” yang diadakan oleh TV Holland. Tak dinyana, Iyek berhasil menyabet gelar juara.

Prestasi ini membuat nama Iyek melambung. Iyek jadi buruan band-band lokal Belanda, antara lain Take 5 dan Clover Leaf. Bersama nama terakhir, Iyek bahkan mencicipi kesuksesan di daratan Eropa lewat single berjudul “Don’t Spoil My Day.”

Suatu hari pada 1973, Iyek pulang ke Indonesia untuk berlibur. Ia mengajak gitaris Clover Leaf, Ludwig LeMans. Rupanya, liburan ini mengubah jalan bermusik keduanya. Pasalnya, mereka berdua dibikin terkejut dengan keriuhan panggung rock di Indonesia yang begitu terasa euforianya. Keadaan tersebut mendorong mereka lebih lama tinggal di Tanah Air guna mendirikan band rock.


Demi mewujudkan keinginan tersebut, Iyek lantas mengajak sahabat lamanya, Fuad Hasan, yang kebetulan drumer band-band ternama era 1960-an seperti Medenaz, Zainal Combo, serta The Pro’s. Dari Fuad, Iyek kemudian dikenalkan dengan Donny Gagola, yang kelak mengisi posisi pencabik bass. Untuk melengkapi formasi yang ada, Donny mengajak Yockie Suryoprayogo, kibordis cum komposer yang namanya sudah dikenal di scene rock saat itu.

Setelah personel terkumpul, maka Iyek butuh nama untuk identitas band ini. Pemilihan nama, bagi Iyek dan kawan-kawan nyatanya bukan perkara yang mudah. Berkali-kali mereka saling tukar ide soal nama, berkali-kali juga mereka gagal menemukan kesepakatan. Dari The Balls, The Road, The God, sampai Crazy Wheels, dianggap kurang cocok untuk merepresentasikan karakter mereka.

Hingga akhirnya, di pengujung Desember 1972, mereka berhasil mendapatkan nama yang tepat untuk band: God Bless. Inspirasinya: kartu ucapan bertuliskan “May God bless you!” yang tergeletak di meja tamu di rumah Camelia Malik, adik Iyek.

Sejak saat itu, God Bless menjadi identitas yang terus mereka bawa sampai sekarang.

Tetap di Jalur yang Sama

Penampilan perdana God Bless terjadi pada Mei 1973. Saat itu, mereka main di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Di awal kemunculannya, God Bless belum punya materi orisinal. Mereka masih menjadi cover band yang membawakan ulang lagu-lagu Kansas, Easy Beast, Genesis, sampai Deep Purple.

Namun, kondisi tersebut tidak dapat menghentikan mereka untuk jadi terkenal. Mereka dinilai berhasil merepresentasikan musik rock beserta budayanya—anti-kemapanan dan kebebasan—secara paripurna. Gaya busana yang nyentrik dan aksi panggung yang liar membikin orang-orang terpesona dengan kehadiran God Bless. Di saat bersamaan, publikasi tentang mereka di media pun turut melonjak drastis. Wajah Iyek, misalnya, rutin menghiasi sampul-sampul majalah macam Aktuil sampai Tempo.

Nama God Bless makin mekar saat mereka memperoleh sambutan luar biasa dalam konser Summer ’28 yang diselenggarakan di Ragunan pada Agustus 1973. Acara ini dianggap meniru Woodstock ’69 dengan menampilkan total 17 band Indonesia serta negara-negara lain di Asia Tenggara.

Singkatnya, saat itu, God Bless adalah bintang yang baru bersinar sekaligus role model bagi anak-anak muda yang ingin bikin band di era Orde Baru.


Di tengah popularitas yang mereka raih, terpaan muncul kala dua personel mereka, Soman Lubis (pengganti Yockie) dan Fuad, meninggal dunia dalam kecelakaan sepeda motor di kawasan Pancoran, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada 1974. Belum lagi, mereka harus menerima pengunduran diri sang gitaris, Ludwig. Kondisi ini membikin God Bless kelimpungan; tinggal menyisakan sepasang personel, Iyek dan Donny.

Namun, Iyek dan Donny tak ingin lama-lama berkabung. God Bless harus terus jalan, begitu pikir mereka. Maka, untuk mengisi kekosongan yang ada, mereka kemudian mengajak Ian Antono (di posisi gitar), Teddy Sujaya (drum), dan merekrut kembali Yockie.

Dengan formasi itu, pada 1975, God Bless akhirnya melepas debut album yang diberi tajuk God Bless. Album ini melahirkan sederet track bernas seperti “Setan Tertawa,” “She Passed Away,” “Gadis Binal,” hingga nantinya yang menyabet status legendaris, “Huma di Atas Bukit.”

Almarhum Denny Sakrie, dalam tulisannya menyebut album debut God Bless merupakan pertanda idealisme bermusik tak pernah bisa dibeli. Denny bilang, di saat band-band rock seangkatan mereka seperti AKA sampai Freedom of Rhapsodia mulai menghamba pada pop demi memenuhi tuntutan label dan selera pasar, God Bless, sebaliknya, dengan gagah berani menolak berkompromi terhadap kegandrungan masyarakat akan musik pop.



Jelas, album debut God Bless tak laku-laku amat di pasaran. Meski begitu, tambah Denny, debut album God Bless justru mendorong label Remaco, yang dikenal alergi kepada musik rock, untuk memproduksi ragam serupa lewat Hard Beat (Koes Plus, 1976) sampai Pop Rock (Bimbo, 1976).




Album Tanpa Tanding: Cermin

Sekitar empat tahun usai rilisnya album perdana, God Bless kembali masuk dapur rekaman. Kali ini, mereka membikin album tanpa kehadiran Yockie yang memilih keluar dari keanggotaan band. Posisi Yockie digantikan oleh Abadi Soesman, yang sebelumnya turut berpartisipasi dalam proyek Guruh Gipsy ciptaan putra presiden pertama Indonesia, Guruh Soekarnoputra.

Masuknya Abadi ke dalam band sekaligus menandai perubahan warna musik God Bless. Di album kedua, God Bless seperti keluar dari zona nyaman. Mereka menghadirkan aransemen njlimet, terkonsep, dan punya visi artistik yang jelas. Mereka tak sekadar memainkan rock, tapi juga membungkusnya dengan instrumentasi maupun komposisi yang dahsyat.

Selain itu, album kedua mereka juga bisa dibaca sebagai wujud pemberontakan terhadap pasar musik Indonesia yang waktu itu masih didominasi oleh pop yang menye-menye. God Bless seolah ingin menegaskan bahwa rock masih hidup dan sedang berupaya membangun kekuasaannya.

Hasilnya adalah Cermin, album God Bless yang kental dengan corak rock progresif. Sepintas, Cermin mengingatkan kita pada album dari band-band prog-rock macam Yes, Rush, maupun Genesis. Bedanya, Cermin tak kelewat mengekor mereka. God Bless lebih banyak menonjolkan bebunyian elektronik serta sedikit mereduksi kepekatan hard rock.

Dalam Cermin, masing-masing personel memiliki ruang untuk mengeksplorasi kemampuannya. Abadi dengan piawai memainkan bebunyian kibor yang elegan dan melodius. Donny menghadirkan bassline yang seksi, mengisi ruang-ruang kosong di antara gebukan Teddy yang ritmis dan bertenaga.


Sementara Ian, mampu melahirkan riff-riff yang kadang bergerak liar, kadang bergerak teratur mengikuti irama yang diciptakan dari mesin Abadi. Peran Iyek pun tak bisa ditepikan begitu saja. Lengkingan suaranya dengan sangat jelas berhasil menyebarkan pesan-pesan soal spiritualitas, moral-etis, dan komentar sosial yang termaktub dalam Cermin.

Kombinasi tersebut kemudian melahirkan nomor-nomor macam “Anak Adam,” “Musisi,” “Balada Sejuta Wajah,” “Tuan Tanah,” sampai “Ingat” yang memperlihatkan kualitas, keberanian, sekaligus sikap God Bless yang tegas menolak tunduk pada keriuhan musik arus utama.

Memang, Cermin tidak selaku Semut Hitam (1988). Juga tidak sesegar Raksasa (1989) yang sebagian besar komposisinya menonjolkan peran Eet Sjahranie yang masuk menggantikan Ian. Kendati demikian, Cermin bisa dibilang menjadi fondasi God Bless untuk terus menggelinding melibas zaman.

Seperti halnya kredo yang senantiasa diusung rock, dalam Cermin, terdapat kebebasan, pemberontakan, dan keinginan untuk tetap berpijak pada kaki sendiri. Ketiga hal tersebut itulah yang pada akhirnya mampu membikin God Bless bertahan sampai detik ini.

Bersama God Bless, rock memang tak pernah mati.

Baca juga artikel terkait ROCK atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Suhendra
DarkLight