11 Februari 1899

Berondongan Peluru Mengakhiri Siasat Jitu Teuku Umar

ilustrasi mozaik teuku umar. tirto.id/Nauval
Oleh: Iswara N Raditya - 11 Februari 2019
Dibaca Normal 5 menit
Teuku Umar dua kali berpura-pura berpihak kepada Belanda demi menambah kekuatan pasukan Aceh.
tirto.id - Menjelang pagi tanggal 11 Februari 1899, tepat hari ini 119 tahun lalu, kabar duka itu membuat Cut Nyak Dhien tercenung. Suaminya, Teuku Umar, gugur dalam pertempuran mendadak melawan pasukan Belanda di pinggiran Meulaboh.

Cut Nyak Dhien tentu saja amat berduka, namun ia menolak larut dalam kesedihan. Ia pernah mengalami situasi serupa di masa lalu saat meratapi kematian suami sebelumnya, Ibrahim Lamnga, yang juga tewas di tangan penjajah, pada 29 Juni 1878.

Kali ini, Cut Nyak Dhien tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk menangisi orang yang sudah tiada. Ia tak mau pengorbanan Teuku Umar sia-sia. Cut Nyak Dhien bertekad melanjutkan perjuangan suaminya sampai tetes darah terakhir.


M.H. Szekely-Lulofs dalam Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh (1948) menuliskan fragmen ini dengan amat menyentuh. Sambil memeluk Cut Gambang, anak satu-satunya dari Teuku Umar yang mulai menangisi kepergian sang ayah, Cut Nyak Dhien berucap dengan suara gemetar:

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid!”

Cut Nyak Dhien sesungguhnya sempat heran mengapa Umar bisa terbunuh. Ia tahu, suaminya adalah ahli strategi ulung dan jarang bertindak gegabah. Apalagi Meulaboh merupakan kampung kelahiran Umar, pastinya ia sudah amat memahami medan.

Kecurigaan Cut Nyak Dhien pun muncul. Ada pengkhianat yang memberikan bocoran kepada musuh.

Berperang Sejak Belia

Teuku Umar lahir di Meulaboh tahun 1854. Ayahnya, Teuku Achmad Mahmud, adalah seorang uleebalang (kepala daerah). Sementara ibundanya berasal dari lingkungan istana kerajaan di Meulaboh. Dalam buku Ensiklopedi Pahlawan Nasional yang disusun Julinar Said dan kawan-kawan (1995) disebutkan, dari garis ayahnya, Teuku Umar berdarah Minangkabau (hlm. 14).

Antara keluarga Teuku Umar dengan tanah rencong memang terikat terjalin kedekatan sejak dulu. Umar keturunan Datuk Makhudum Sati orang kepercayaan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang diberi wewenang untuk memimpin wilayah Pariaman di Sumatera Barat sebagai bagian dari Kesultanan Aceh kala itu (Ragil Suwarna Pragolapati, Cut Nya Dien, Volume 1, 1982:130).

Sejak 1873, saat Perang Aceh mulai berkobar, Teuku Umar turut mengangkat senjata untuk mengusir kaum penjajah dari Serambi Mekkah. Kala itu, usianya baru 19 tahun. Keberanian dan ketangkasannya membuat pamor Umar muda melejit. Bahkan, pada umur sebelia itu, ia sudah dipercaya menjadi kepala kampung atau keuchik gampong.


Teuku Umar menikahi Cut Nyak Dhien pada 1880. Sebelumnya, Umar sudah punya dua istri, yakni Nyak Sofiah, anak seorang uleebalang yang dinikahinya pada 1874, kemudian kawin lagi dengan Nyak Mahligai, putri salah satu pemimpin rakyat Aceh yang disegani, Panglima Sagi XXV Mukim.

Kendati begitu, Teuku Umar tetap memberanikan diri untuk melamar Cut Nyak Dhien. Muchtaruddin Ibrahim (1996) dalam buku berjudul Cut Nyak Din menuliskan bahwa Umar memang sangat mengagumi sosok perempuan pemberani yang juga masih kerabatnya itu (hlm. 38).

Pernikahan Teuku Umar dengan Cut Nyak Dhien disambut dengan gembira dan dirayakan dengan upacara yang cukup meriah. Kabar ini pun didengar oleh pemerintah Belanda di Kotaraja, Banda Aceh. Mereka menyadari bahwa pernikahan itu sama halnya dengan penggabungan dua kekuatan besar yang berpotensi membahayakan.

Gerak “Liar” Teuku Umar

Teuku Umar bukan hanya pejuang yang tangkas dalam berperang. Ia juga seorang yang sangat cerdas meskipun tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Taktik dan manuvernya yang tak terduga dan mengejutkan seringkali membuat orang heran sekaligus bingung, termasuk istrinya sendiri, Cut Nyak Dhien.

Tahun 1883, Teuku Umar berdamai dengan Belanda. Ia bahkan masuk dinas militer Belanda. Gaya Umar ini bertolak belakang dengan karakter istrinya, Cut Nyak Dhien. Hingga akhir Perang Aceh kelak, Dhien tidak sudi takluk kepada bangsa asing yang telah menginjak-injak tanah kelahirannya. Namun, dengan terpaksa, ia menyetujui langkah Umar kendati terus mengikuti gerak-gerik suaminya itu.

Pada 1884, sebuah kapal milik Inggris terdampar di perairan Aceh. Kapal bernama Nesisero (atau Nisero) beserta kapten dan seluruh awak kapalnya itu disandera oleh penguasa kawasan tersebut, Teuku Imam Muda Raja Teunom (Ibrahim, 1996: 48). Raja Teunom meminta tebusan dalam jumlah besar jika ingin para tawanan beserta kapalnya dibebaskan.

Gubernur Aceh, Laging Tobias, panik karena persoalan ini telah memperburuk hubungan Belanda dengan Inggris. Maka, Teuku Umar diminta untuk segera mengatasi masalah ini lantaran Belanda enggan membayar tebusan. Umar yang sesama orang Aceh diharapkan bisa melunakkan Teuku Imam Muda Raja Teunom.


Teuku Umar pun berlayar dengan 32 orang anak buahnya dan pasukan Belanda ke Teunom. Prof. Dr. M. Dien Madjid (2014) dalam buku Catatan Pinggir Sejarah Aceh: Perdagangan, Diplomasi, dan Perjuangan Rakyat, menyebutkan, dalam perjalanan, para prajurit Belanda itu dibunuh, senjata mereka pun dirampas. Belanda juga semakin berpolemik dengan Inggris karena gagal membebaskan para sandera. Inggris terpaksa membayar 100.000 ringgit sebagai tebusan dan Belanda harus mencabut blokade terhadap Pelabuhan Teunom (hlm. 215).

Lain lagi dengan versi Muchtaruddin Ibrahim (1996). Seperti dikutip dari buku Cut Nyak Din, dalam perjalanan pulang setelah dari Teunom –meskipun belum berhasil membebaskan sandera– terjadi perselisihan antara pihak Umar dengan kapten kapal Belanda yang membawa rombongan itu (hlm. 48).

Setelah kejadian tersebut, Teuku Umar tidak kembali ke kubu Belanda, melainkan pulang ke markas rakyat Aceh yang dipimpin Cut Nyak Dhien. Kepulangan Umar membawa tambahan persenjataan dan barang-barang berharga yang dirampas dari kapal Belanda. Ada kemungkinan, orang-orang Umar juga menghabisi lawan-lawannya di kapal itu.

Belanda Tertipu Lagi

Kembalinya Teuku Umar disambut gembira sekaligus lega oleh Cut Nyak Dhien dan rakyat Aceh yang dipimpinnya. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 14 Juni 1886, Teuku Umar memimpin pasukannya menyergap kapal Hok Canton yang ternyata juga milik Inggris. Umar menyerbu kapal tersebut karena dicurigai mengangkut senjata yang akan dijual secara ilegal.

Inggris pun lagi-lagi dibuat marah dan mendesak Belanda untuk menuntaskan masalah ini. Belanda, demi memperbaiki hubungan dengan Inggris setelah kegagalan sebelumnya, terpaksa bersedia membayar tebusan kepada Teuku Umar sebesar 25 ribu ringgit (Mardanas Safwan, Teuku Umar, 2007: 22).

Kekuatan finansial pasukan Aceh pun bertambah lagi. Namun, pada 1893, Umar dan 15 orang panglimanya tiba-tiba menyerahkan diri kepada Belanda. Tak pelak, Cut Nyak Dhien terkejut sekaligus malu bahkan marah dengan kelakuan suaminya itu. Namun, Umar pastinya sudah punya siasat khusus.

Belanda ternyata masih percaya kepada Umar dan menerimanya kembali. Sosok Umar memang amat berharga dan sangat berpengaruh. Terlebih, menurut Ibrahim Alfian (1987) dalam Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912, dikutip dari tulisan Dr. Razali Muhammad Ali berjudul “Strategi Muslihat Pahlawan Aceh” (Serambi Indonesia, 2016), Umar dan para pengikutnya mengucapkan sumpah setia kepada Belanda.

Teuku Umar pun diperintahkan memimpin ratusan prajurit Belanda bersenjata lengkap untuk menumpas perlawanan rakyat Aceh. Sekali lagi, Umar menunjukkan kepiawaiannya dalam bersiasat. Di depan mata Belanda, ia tampak benar-benar melawan rakyatnya sendiri, namun yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu.

Bahkan, lagi-lagi Belanda dipecundangi. Pasukan Umar membawa lari 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg mesiu, 5000 kg timah, uang tunai, dan peralatan perang lainnya, untuk menambah kekuatan rakyat Aceh (S.M. Dumadi, Mengenal Pahlawan Nasional Kita: Teuku Umar, 1975: 34).

Gugurnya Teuku Umar

Tertipu dua kali membuat Belanda sangat geram terhadap Teuku Umar. Bahkan, perkara ini berujung dengan pemecatan Christoffel Deykerhoff, Gubernur Aceh yang menjabat sejak 1892. Penggantinya, Jacobus Augustinus Vetter, memberikan ultimatum untuk menyerahkan kembali semua yang dilarikan Umar. Namun, peringatan itu tidak digubris.

Pasukan Teuku Umar sendiri semakin kuat setelah bergabung dengan pasukan Panglima Polem pada 1898. Dua pahlawan besar dari tanah rencong ini bersama-sama menghadap penguasa Kesultanan Aceh Darussalam, Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903), untuk menyatakan sumpah setia.


Di kubu lawan, Belanda sedang sibuk menyusun rencana untuk menghentikan sepak-terjang Teuku Umar, sekaligus demi membalas dendam. Gubernur Aceh pengganti Vetter yang bertugas sejak 1898, Joannes Benedictus van Heutsz, memutuskan untuk melancarkan serangan besar-besaran demi menghabisi Umar.

Serbuan membabi-buta yang dilancarkan Belanda membuat pasukan Teuku Umar terdesak dan harus masuk keluar hutan dan naik-turun bukit untuk menghindari serangan. Perjuangan kali ini sangat berat dan melelahkan. Banyak anak buah Umar yang meninggal karena keletihan, kelaparan, hingga sakit. Belum lagi medan yang sulit ditambah gangguan dari binatang-binatang liar nan buas.

Hingga akhirnya, sampailah Teuku Umar dan pasukannya di suatu daerah permukiman. Umar bersyukur karena pasukannya bisa sejenak beristirahat dan mengisi perut. Namun, perjalanan harus segera dilanjutkan. Tujuannya adalah Meulaboh, kota kelahiran Umar.



Ternyata, ada yang berkhianat. Ada yang melaporkan kepada Belanda saat pasukan Umar beristirahat. Berkat informasi itu, van Heutsz memerintahkan pasukannya untuk mengejar Umar, sementara ia sendiri menunggu di Meulaboh dengan pasukan lainnya (Safwan, 2007:72).

Betapa terkejutnya Umar setibanya di Meulaboh tengah malam tanggal 11 Februari 1899 itu. Di kampung halamannya sendiri, ia disambut tembakan gencar. Pasukannya tidak berkutik karena dari belakang pun menyusul rombongan lawan.


Dalam situasi terjepit dan dihujani peluru, Teuku Umar kena tembak, gugur di tempat. Pang La’ot, ajudan setianya, bersusah-payah menyelamatkan jenazah sang pahlawan untuk dibawanya pulang menghadap Cut Nyak Dhien.

Kepada Pang La’ot, di depan jasad suaminya, Cut Nyak Dhien berucap lantang meskipun tetap menahan duka. "Di tempat itu, arwah Umar akan menyertai kita. Dari sana jugalah kita akan memenuhi tugas-tugas kita seperti yang biasa dilakukan Umar. Kita akan memenuhi perintah Tuhan untuk memerangi orang kafir, Pang La’ot!”

Cut Nyak Dhien bersumpah, tidak akan menyerah kepada Belanda demi menuntaskan dendam Teuku Umar dan membebaskan rakyat Aceh dari belenggu penjajahan.

“Selama aku masih hidup, kita masih memiliki kekuatan, perang ini akan kita teruskan! Demi Allah!”


========

Catatan: Naskah ini pernah tayang pada 11 Februari 2018 di Tirto.id, pada edisi Mozaik 11 Februari 2019, redaksi mengunggah ulang dengan minor penyuntingan.


Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight