Menuju konten utama

Berkah KTT G20 bagi UMKM dan Pedagang Oleh-oleh di Pulau Dewata

Para pedagang dan pengusaha mendapat keuntungan berlimpah jelang perhelatan KTT G20. Diharapkan bisa menjadi pintu berputarnya roko pariwisata di Bali.

Berkah KTT G20 bagi UMKM dan Pedagang Oleh-oleh di Pulau Dewata
Sejumlah pekerja melakukan tahap akhir pembuatan pie susu khas Bali di kawasan Kuta, Bali, Kamis (24/11). Pie susu khas Bali tersebut merupakan salah satu oleh-oleh khas Bali yang banyak diminati oleh wisatawan lokal dan mancanegara. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/pd/16

tirto.id - Pengusaha kuliner, produk kreatif maupun UMKM mendapat keuntungan berlimpah jelang perhelatan KTT G20 di Bali. Asisten Manajer Krisna Oleh-Oleh outlet Jalan By Pass, Kadek Bhuana mengakui banyak wisatawan lokal dan asing selama dua bulan terakhir berbelanja di tokonya.

"Dua bulanan ini, toko kami mencatat kenaikan kunjungan wisatawan asing dan lokal. Mereka juga berbelanja. Toko kembali ramai. Pemandangan ini benar-benar menjadikan semangat optimis bagi kami, Bali bisa bangkit,” kata Bhuana berdasarkan keterangan dari tim komunikasi Grup, Kamis (10/11/2022).

Dia menceritakan Toko Oleh-Oleh Krisna menjadi salah satu penyedia buah tangan selama pelaksanaan G20. Ramai nya pembeli kata Bhuana menjadi berkah bagi para pedagang setelah hampir dua tahun Pulau Dewata sepi dari kedatangan wisatawan asing karena pandemi.

Ada beragam makanan dan minuman pilihan favorit para wisatawan. Mulai dari pie susu, pia, kacang, kopi bubuk arabika, robusta serta biji kopi. Tak hanya itu, lukisan dan pernak pernik dari bambu juga jadi pilihan para pelancong.

"Kami selalu memeriksa ketersediaannya agar jangan sampai kosong dan mengecewakan tamu yang datang,” bebernya.

Tidak hanya Bhuana yang dagangannya laris manis saat perhelatan G20. Supplier kaus Barong dari Gianyar, Ni Wayan Erni Lestari juga merasakan hal yang sama.

Bahkan dia mengaku kewalahan menerima pesanan baju tanpa kerah dengan dasar warna-warni bergambar kepala barong. Dia mengakui kaus khas Bali tersebut menjadi unggulan oleh-oleh di sejumlah outlet. Ni Wayan juga mengakui tidak sedikit rumah produksi hingga ribuan kaos barong mulai memasok baju ke toko-toko penyedia buah tangan.

“Senang sekali dan astungkara (semoga) tetap menjadi favorit oleh-oleh dari Bali,” katanya.

Sama seperti Erni, pengusaha Keben, Zian juga kebanjiran orden. Dia mengakui mendapatkan pesanan mencapai 700 keben dari salah satu hotel tempat delegasi G20 menginap, di Nusa Dua.

“Saya senang sekali ikut dapat berkah dari kegiatan G20 ini. Soalnya, lama saya tidak mendapat pemesanan seperti semenjak terhenti karena pandemi,” kata Zian.

Keben, merupakan kerajinan anyaman dari bambu yang memiliki beragam ukuran. Anyaman ini biasa dipakai masyarakat lokal Bali untuk meletakkan sesaji berupa makanan dibawa ke pura, atau menyimpan barang lainnya. Belakangan, keben mulai bervariasi ukuran, warna dan bergambar. Zian mendapatkan pemesanan keben warna warni dengan ukuran panjang sisi-sisinya 24 sentimeter.

Menurut Zian, keben dipergunakan untuk tempat makanan. Selain keben anyaman bambu, dia juga mendapat pesanan keben berukir berbahan stainless.

Pada kesempatan terpisah, Guru besar Ilmu Budaya Universitas Udayana Dharma Putra menuturkan gelaran Presidensi G20 menjadi harapan dan pintu berputarnya kembali roda pariwisata Bali. Dia pun percaya masyarakat Bali bersedia mengorbankan kepentingannya demi lancar dan suksesnya KTT G20 ini.

"Apa pun hasil dari KTT G20 mendatang, bagi masyarakat Bali dikatakan Dharma akan mampu memberi dampak positif bagi keberlangsungan kehidupan serta kesejahteraan di masa datang," kata Putra.

Baca juga artikel terkait G20 BALI atau tulisan lainnya dari Andrian Pratama Taher

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Intan Umbari Prihatin