Piala AFF U-22

Berkaca dari U-19, Kesuksesan Timnas U-22 Bukan untuk Dikomersilkan

Oleh: Renalto Setiawan - 28 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Timnas U-22 tidak punya banyak waktu untuk merayakan Kemenangan. Setelah sukses di Piala AFF U-22, mereka harus bersiap untuk Kualifikasi Piala Asia U-23 2020.
tirto.id - Indra Sjafri, pelatih timnas Indonesia U-22, tak bisa menutupi kebahagiaannya setelah timnas U-22 berhasil mengalahkan timnas Thailand U-22 2-1 dalam laga final Piala AFF U-22 2019, Selasa (26/2/2019). Senyum terus mengembang dari wajah pelatih yang dalam satu dekade terakhir sudah mempersembahkan dua prestasi membanggakan itu.

“Saya sangat bersyukur, ini gelar kedua bagi saya setelah Piala AFF U-19 2013. Ini membuktikan bangsa Indonesia bisa berdiri dengan kaki sendiri, dengan pemain-pemain muda kita,” kata Indra.

Di Kamboja, penampilan timnas U-22 memang tak se-fenomenal timnas U-19 saat menjuarai Piala AFF U-19 2013. Penampilan mereka terkesan biasa saja: tidak ada umpan dari kaki ke kaki yang rancak, dan nyaris tidak ada pemain yang tampil menonjol secara individual.

Namun, usia mereka ternyata lebih banyak berbicara. Berbeda dengan timnas U-19 yang selalu meledak-ledak pada 2013 silam, anak-anak U-22 mampu memperlihatkan kedewasaan dalam permainan, dan itu adalah salah satu kunci keberhasilan mereka di Kamboja.

Menyoal kedewasaan dalam bermain, penampilan Garuda Muda dalam laga final tentu bisa menjadi contoh. Sempat tertinggal terlebih dahulu dari Thailand, Oslvaldo Haay dkk. tidak tampak grasak-grusuk dalam melakukan serangan. Sebaliknya, mereka tetap memilih menjalankan keinginan Indra Sjafri: melakukan build-up serangan dari lini belakang, memainkan umpan-umpan pendek, dengan sesekali pamer kecepatan.

Hebatnya, saat pendekatan itu gagal diterapkan, daripada bermain secara serampangan, mereka akan terus mencobanya hingga mendapatkan jalan ke luar. Alhasil, meski pemain-pemain tengah seringkali kesulitan mengalirkan bola ke depan lewat umpan-umpan pendek, nyaris tidak ada umpan-umpan lambung dari lini belakang yang langsung mengarah ke lini depan.

Cara bermain timnas U-22 tersebut tentu saja sangat menyenangkan. Bagaimana pun, terutama bagi pemain junior, bermain dengan cara yang benar adalah tujuan utama. Garuda Muda mampu melakukan itu, sehingga pada akhirnya mereka mampu membawa pulang bonus kemenangan.

Dengan begitu, mereka tentu sudah memiliki bekal berharga untuk menghadapi tantangan selanjutnya: Kualifikasi Piala Asia U-23 2020.



Belajar dari Pengalaman Timnas U-19 Tahun 2014


Timnas U-22 tidak mempunyai cukup waktu untuk bersenang-senang. Setelah sukses di Kamboja, anak asuh Indra Sjafri itu harus segera mempersiapkan diri untuk menjalani Kualifikasi Piala Asia U-23 2020 yang akan berlangsung di Hanoi, Vietnam, dari 22-26 Maret 2019 nanti. Berada di Grup K, Indonesia akan bergabung bersama Thailand, Vietnam, dan Brunei Darussalam.

Untuk itu, Indra Sjafri pun sudah mempunyai rencana matang. “Kami akan memulai TC pada 2 Maret. Akan ada tujuh pemain lagi yang akan kami panggil. Pemain akan istirahat pada 28 Februari dan 1 Maret. Pada 2 Maret, kami akan mulai berlatih lagi,” kata Indra Sjafri.

Agar dapat lolos ke Piala Asia U-23 2020, timnas punya dua cara; pertama, menjadi juara Grup K. Dan kedua, menjadi salah satu dari lima runner-up terbaik. Mengingat Indonesia pernah mengalahkan Thailand dan Vietnam, anak asuh Indra Sjafri tentu punya peluang besar untuk lolos.

Kemudian, seandainya timnas benar-benar berhasil melangkah ke Piala Asia U-23 2020, apa yang sebaiknya dilakukan untuk mempersiapkan diri?

Piala Asia U-23 2020 baru akan digelar pada Januari 2020. Itu artinya, timnas U-22 punya waktu jeda sekitar 10 bulan untuk mempersiapkan diri. Namun, apa pun yang dilakukan Garuda Muda agar dapat bersaing dalam turnamen tersebut, mereka jelas tidak boleh mengulangi persiapan konyol yang dilakukan timnas U-19 pada 2014: kala itu, menurut Pandit Football, timnas U-19 justru dikomersialisasi oleh PSSI.

Laiknya rombongan sirkus, timnas U-19 harus melahap Tur Nusantara yang melelahkan. Mereka akan bertanding dari kota ke kota, bahkan harus menghadapi tim-tim antah barantah: dari tim Pra-PON DIY, tim Pra-PON Jateng, hingga Persikoba [Malang United].

Yang mengerikan, Tur Nusantara itu juga dilangsungkan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, timnas U-19 melangsungkan 13 pertandingan dari 3 Februari-17 Maret 2014. Pada tahap kedua, timnas U-19 juga harus menghabiskan bulan Juni 2014 untuk bertandingan di Jawa Barat dan Pulau Sumatera.

Alhasil, timnas U-19 pun tinggal ampas saat bertanding di Piala Asia U-20. Tergabung bersama Uni Emirat Arab, Uzbekistan dan Australia di Grup B, Indonesia hanya menjadi bulan-bulanan: Evan Dimas dkk selalu kalah, hanya mampu mencetak 2 gol dan kebobolan 8 kali dalam 3 pertandingan.

Dari sana, jika timnas U-22 ingin berprestasi maksimal dalam gelaran Piala AFC 2020 nanti, kesalahan yang dilakukan timnas U-19 jelas tidak boleh kembali diulang.

Baca juga artikel terkait PIALA AFF U-22 2019 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Mufti Sholih