Bergeserkah Pola Konsumsi Masyarakat?

Oleh: Dinda Purnamasari - 9 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Konsumsi masyarakat jadi penopang utama ekonomi Indonesia. Bagaimana bila pola konsumsinya mengalami perubahan? Akankah memengaruhi angka-angka indikator ekonomi?
tirto.id - Pertengahan September 2017, gerai Matahari di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai, Jakarta penuh sesak karena perusahaan retail ini diskon besar-besaran hingga 75 persen. Hal ini dilakukan Matahari karena kedua gerainya akan ditutup pada akhir September 2017.

Selain Matahari, Lotus Department Store yang berada di bawah bendera bisnis PT Java Retailindo, yang 100 persen sahamnya punya PT Mitra Adiperkasa (MAP), juga mengumumkan akan menutup gerainya pada akhir Oktober 2017.

Menyusul Lotus, MAP pun menutup gerai Debenhams secara bertahap hingga akhir tahun ini. Penutupan gerai Matahari, Lotus hingga Debenhams, yang notabene merupakan tempat belanja pakaian ini dianggap sebagai sinyal kuat terhadap pelemahan daya beli yang berakibat pada lesunya konsumsi.

Konsumsi yang lesu tentu saja berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Ini mengingat perekonomian Indonesia masih besar ditopang oleh konsumsi.

Sejak triwulan I 2014, hingga triwulan III 2017, peran konsumsi terhadap PDB Indonesia selalu berada di atas 55 persen. Pada Q1 2014, proporsi pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga sebesar 56,40 persen terhadap total PDB. Sedangkan, pada Q3 2017, proporsinya menjadi 55,68 persen terhadap total PDB.

Infografik Periksa Data Pola Konsumsi Masyarakat



Meskipun porsinya terhadap PDB masih cukup besar, akan tetapi beberapa periode terakhir, peran konsumsi semakin kecil. Pada Q1 2017, proporsi konsumsi rumah tangga terhadap PDB sebesar 57,02 persen dan menurun tajam menjadi 55,68 persen pada Q3 2017. Proporsi ini yang terendah sejak Q4 2015. Hal ini semakin menguatkan indikasi bahwa konsumsi di masyarakat mengalami pelemahan, yang juga menunjukan pelemahan daya beli.

Baca juga: Daya Beli Masyarakat Melemah, Benarkah?

Berdasarkan penggunaannya, porsi konsumsi terbesar masyarakat digunakan untuk pembelian makanan dan minuman selain restoran. Pada Q1 2014, pengeluaran untuk konsumsi jenis ini sebesar 38,1 persen terhadap total konsumsi masyarakat. Porsinya meningkat menjadi 39,01 persen pada Q3 2017.

Infografik Periksa Data Pola Konsumsi Masyarakat


Pengeluaran kedua terbesar pada masyarakat adalah biaya transportasi dan komunikasi. Pada Q1 2014, tercatat porsi pengeluarannya sebesar 23,98 persen terhadap konsumsi masyarakat dan menurun menjadi 23,33 persen pada Q3 2017.

Perumahan dan perlengkapan rumah tangga menempati urutan ketiga sebagai pengeluaran terbesar masyarakat, porsinya sebesar 12,76 persen dari total konsumsi pada Q3 2017. Sedangkan, pengeluaran masyarakat untuk pakaian dan alas Kaki, yang merupakan salah satu kebutuhan primer, rata-rata hanya sekitar 3,5 persen per kuartalnya. Tercatat, pada Q1 2017, porsi pengeluaran masyarakat untuk konsumsi pakaian dan alas kaki sebesar 3,53 persen terhadap total konsumsinya dan menurun menjadi 3,49 persen pada Q3 2017.

Penurunan ini menjadi indikasi penurunan daya beli masyarakat atas pakaian dan alas kaki. Bila kelompok pengeluaran masyarakat dikelompokkan menjadi dua, yaitu primer, yang terdiri dari makan, minuman, pakaian, alas kaki, perumahan, kesehatan dan pendidikan, serta kebutuhan sekunder, yaitu transportasi, komunikasi, restoran, hotel dan lainnya, maka terlihat pada tiga triwulan terakhir, terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat.

Infografik Periksa Data Pola Konsumsi Masyarakat



Pada Q1 2016, proporsi pengeluaran konsumsi untuk kelompok barang primer sebesar 62,48 persen terhadap total konsumsi masyarakat dan menurun menjadi 61,99 persen pada Q3 2017. Sedangkan, untuk kelompok barang sekunder, terlihat ada kenaikan pengeluaran. Dari sebelumnya sebesar 37,52 persen pada Q1 2016 menjadi 38,01 persen pada Q3 2017. Meningkatnya konsumsi barang sekunder ini juga terlihat dari pertumbuhan kelompok barang ini yang cenderung berada di atas rata-rata konsumsi secara keseluruhan.

Pada Q3 2017, pertumbuhan konsumsi transportasi dana komunikasi mencapai 5,05 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Begitu pula dengan pertumbuhan konsumsi hotel dan restoran yang mencapai 4,25 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan kedua kelompok barang ini berada di atas pertumbuhan konsumsi yang tercatat sebesar 3,44 persen untuk periode yang sama.

Infografik Periksa Data Pola Konsumsi Masyarakat


Melambatnya konsumsi barang primer juga terlihat dari pertumbuhan industrinya. Pada Q3 2017, industri tanaman pangan mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar -1,06 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, industri tekstil dan pakaian jadi serta kulit, barang dari kulit dan alas kaki pun menunjukkan pertumbuhan negatif, masing-masing sebesar -1,34 persen dan -6,69 persen untuk periode yang sama.

Infografik Periksa Data Pola Konsumsi Masyarakat


Di sisi lain, penguatan konsumsi barang sekunder juga tercermin dari industrinya. Pada Q3 2017, pertumbuhan industri penyedia akomodasi serta makanan dan minuman tumbuh masing-masing sebesar 1,68 persen dan 1,12 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Selain itu, pertumbuhan industri angkutan udara pun mencapai 12,07 persen dibandingkan periode sebelumnya. Berdasarkan data di atas, saat ini memang masih terlalu umum untuk menyatakan bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser dari kebutuhan yang sifatnya primer dan barang tahan lama menjadi sekunder atau yang berbasis pengalaman (experience based).

Karena, pada triwulan ketiga 2017, pergerakan konsumsi banyak dipengaruhi oleh musim liburan dan hari raya yang memang akan meningkatkan konsumsi barang sekunder. Selain itu, proporsi konsumsi barang primer pun masih jauh di atas barang sekunder. Namun, menguatnya konsumsi barang sekunder di masyarakat ini terindikasi akan bertahan cukup lama.

Karena, konsumsi masyarakat kelas menengah, yang merupakan golongan terbanyak di Indonesia, sangat dipengaruhi oleh tren yang ada, mulai dari pengaruh selebritas hingga yang trending di media sosial. Maka, tak menutup kemungkinan, department store besar lainnya pun akan menyusul Lotus dan Debenhams jika tak mengubah shopping experience-nya menjadi lebih dekat dengan kelas menengah, khususnya generasi milenial dan Z.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Dinda Purnamasari
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dinda Purnamasari
Penulis: Dinda Purnamasari
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight