Beres-beres Rumah: Bikin Tenang Jika Pas, Tanda OCD Bila Berlebihan

Infografik Berantakan Bikin Gelisah
Ilustrasi bersih-bersih rumah. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 6 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Beberapa penelitian menyatakan bersih-bersih rumah bisa jadi aktivitas penawar cemas dan stres.
tirto.id - Anda perlu berpikir ulang bila merasa malas beres-beres rumah. Sejumlah peneliti psikologi dari Eropa dan AS menyebutkan kegiatan membersihkan tempat tinggal mampu menyehatkan mental.

Kegiatan bersih-bersih yang mampu mengusir stres itu bahkan bisa sesederhana aktivitas mencuci piring. Adam Hanley, seorang kandidat doktor dari Florida State University College of Education’s Counceling/School of Psychology Program, penasaran apakah aktivitas yang terkesan sepele bisa punya efek positif terhadap kondisi kejiwaan manusia. Ia lantas mengobati rasa penasaran dengan melakukan penelitian terhadap 51 mahasiswa dengan meminta mereka mencuci piring.

Syaratnya, kegiatan mencuci piring harus dilakukan dengan santai tanpa menggerutu. Si pencuci perlu mengatur napas dengan baik dan melakukan aktivitas dengan penuh konsentrasi sehingga terhindar dari hal-hal ceroboh. Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh Time menyebut, “Orang yang fokus mencuci piring termasuk di dalamnya menghirup aroma sabun dan merasakan suhu air, meras pikirannya terbuka terhadap inspirasi baru dan mengalami penurunan tingkat stres.”


Hal serupa dialami Hilary White, perempuan yang dijuluki ‘si penggila beres-beres’ oleh teman-temannya. Kepada Pop Sugar ia berkata bahwa kegiatan bersih-bersih rumah bisa bikin dia melupakan kegelisahannya. Setelah selesai, perasaannya semakin relaks lantaran melihat tempat tinggal yang kian nyaman untuk jadi ruang beristirahat.

“Menyempatkan waktu di akhir pekan untuk bersih-bersih seluruh rumah bisa punya andil besar dalam menghilangkan rasa cemas karena menghilangkan faktor pemicu stres yang biasa ada di hari-hari yang penuh tekanan. Dan kita akan puas sendiri melihat hasil kerja kita,” kata White.

Asisten Profesor Psikologi University of Southern California, Darby Saxbe bilang “Aktivitas bersih-bersih bisa bikin orang merasa mampu mengontrol situasi. Dalam hidup yang penuh ketidakpastian, perasaan mampu mengontrol sesuatu mampu membuat orang merasa lebih tenang,” kata Saxbe seperti yang dikutip artikel “Why Cleaning Makes Some People Feel Less Anxious” yang terbit di Vice, Oktober 2018.

“Kita ingin tahu hal yang bakal terjadi karena itu membuat kita merasa lebih mampu bertahan hidup. Jadi, pada dasarnya kegiatan yang bersifat ‘mengontrol’ dipandang sebagai jalan untuk menghindarkan manusia dari sesuatu yang dianggap berpotensi membahayakan diri,” tutur Martin Lang, antropolog Masaryk University, Republik Ceko. Ia mengingatkan bahwa memprediksi sesuatu adalah alamiah belaka bagi manusia.

Lang menganggap ritual bersih-bersih bisa mengobati kecemasan akibat hal-hal yang tidak bisa terkontrol.

“Ketika bersih-bersih, orang kerap kali melakukan gerakan atau aktivitas yang berulang. Hal ini saja sebenarnya merupakan bentuk mekanisme kognitif yang mampu membantu orang menanggulangi rasa cemas,” lanjutnya.

Studi tentang efek psikologis beres-beres ini rupanya benar-benar menarik perhatian sejumlah pakar psikologis selama 10 tahun terakhir. Dalam “The Powerful Psychology behind Cleanliness” (2016) yang terbit di Psychology Today, Pengajar di Harvard Medical School Ralph Ryback mencatat beberapa riset penting soal bersih-bersih dan kesehatan mental. Pada 2010, ilmuwan riset dan profesor Indiana University, NiCole R. Keith melakukan studi yang menyebut bahwa perempuan yang menganggap tempat tinggalnya penuh barang atau penuh hal-hal yang belum selesai cenderung punya tingkat hormon stres dan depresi yang lebih tinggi.

Selain itu, para peneliti dari Princeton University pun menyebut bahwa rumah yang berantakan membuat orang sulit fokus dalam melakukan tugas tertentu.

Meski terbukti punya efek positif, pekerjaan beres-beres bukan aktivitas yang dianggap mudah dilakukan bagi semua orang. Masih menurut Ryback, orang akan sulit beres-beres bila mereka punya begitu banyak barang yang harus dibereskan dan sulit dilepas karena menyimpan kenangan. Ryback mencoba memberi solusi dengan memotret barang tersebut.

Alasan berikutnya ialah orang sudah menyerah terlebih dahulu sebelum mulai beres-beres dan enggan meluangkan waktu untuk itu. Solusi Ryback: sempatkan setidaknya 10 menit setiap hari untuk bersih-bersih. Alasan ketiga, orang bisa jadi lupa bagaimana enaknya tinggal di ruang yang rapi sehingga mereka bisa punya tendensi untuk ‘memberantakannya kembali’ beberapa saat setelah dibersihkan.


Psikolog Jennifer Baumgartner berpendapat faktor pendidikan dalam keluarga juga berpengaruh terhadap hasrat bersih-bersih seseorang. “Orang yang tidak dilatih dan dibesarkan dalam lingkungan yang rapi tidak akan merasa kegiatan beres-beres atau tinggal di rumah yang sangat bersih bisa membawa dampak positif yang besar bagi mereka,” katanya.

Kondisi rumah yang berantakan memang hanya akan membuat sang penghuni makin merasa gelisah. Sherrie Bourg Carter menganalisa setidaknya ada delapan penyebab stres yang diakibatkan kondisi rumah berantakan.



“Ruang yang berantakan diantaranya menyebabkan orang sulit fokus melakukan hal yang sebenarnya perlu dilakukan, kesulitan bersantai, memaksa otak berpikir bahwa selalu ada pekerjaan yang tidak selesai, merasa bersalah, menghambat kreativitas dan produktivitas, hingga kesulitan menemukan benda yang dicari,” kata Carter.

Ia menyarankan agar orang menyediakan ruang dan tempat penyimpanan khusus untuk menyimpan barang yang kerap digunakan, bersikap disiplin dalam menaruh barang kembali di tempatnya, berupaya membereskan ruang begitu selesai digunakan, dan membuang setiap barang yang tidak diperlukan/digunakan.


Aktivitas terakhir bisa jadi hal yang paling berat dilakukan. Setidaknya itulah yang sempat dialami Jane Saruwatari, penulis Behind The Clutter (2015). Ia pernah merasa sulit membuang semua benda berunsur nostalgia. Sampai di satu titik ia sadar yang dilakukannya adalah sia-sia. Ia bilang: "Menyimpan benda kenangan adalah tanda aku membiarkan diriku hidup dalam drama yang kuciptakan sendiri,” katanya.

Suwatari berkata kepada jurnalis Fast Company bahwa aktivitas beres-beres tidak hanya soal membersihkan ruang, melainkan pula “kegiatan membebaskan diri dari kenangan masa lalu terkait romansa, karier, dan berbagai hal yang tak terselesaikan.”

Lantas kapan kegiatan bersih-bersih itu jadi terkesan berlebihan? WebMD menjelaskan bahwa Anda perlu mewaspadai gangguan Obsessive Compulsive Disorder (OCD) ketika Anda merasa tidak tenang keluar rumah sebelum mengatur setiap barang di rumah sesuai dengan keinginan. Tanda lainnya: merasa sesuatu yang buruk akan terjadi jika tidak berulang kali mengecek atau merapikan perkakas rumah tangga.

Baca juga artikel terkait RUMAH atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight