3 Februari 2012

Berdansa dengan Datuk Maringgih

Ilustrasi mozaik him Damsyik. tirto.id/Sabit
Oleh: Iswara N Raditya - 3 Februari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Irama salsa.
Jiwa menolak tua
di lantai dansa.
tirto.id - Terpaut 7 warsa setelah terbitnya novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli pada 1922, lahirlah Datuk Maringgih. Lho, kok bisa? Ya, 1929 merupakan tahun kelahiran H.I.M. Damsyik yang 63 tahun kemudian memerankan Datuk Maringgih dalam kisah Siti Nurbaya versi layar kaca yang tayang di TVRI sejak 1992.

Bicara tentang Siti Nurbaya memang tidak bisa lepas dari tokoh antagonis yang diperankan Damsyik itu. Kendati sudah sering main film, tapi masyarakat terlanjur melekatkan Damsyik sebagai Datuk Maringgih, bahkan hingga ia wafat pada 3 Februari 2012, tepat hari ini 6 tahun silam.

Lantas, apakah Damsyik malu atau marah karena karakter Datuk Maringgih yang penuh dengan sifat tercela itu terus menempel pada dirinya? Ternyata tidak. Orang juga tahu, sosok Damsyik yang sebenarnya jauh dari karakter negatif Datuk Maringgih.

Sebaliknya, ingatan masyarakat yang selalu menghubungkannya dengan sosok suami paksa Siti Nurbaya itu justru menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Damsyik sangat sukses berperan sebagai Datuk Maringgih. Dan, cukup langka aktor Indonesia yang mampu seperti itu.

"Tidak banyak tokoh perfilman kita yang memiliki ciri melekat seperti itu. Jadi, jika saya mendapatkan ciri tersebut, itu ciri termahal yang saya miliki," ujar Damsyik suatu kali.

Seniman Enam Zaman

Nama lahirnya adalah Incik Muhammad Damsyik. Setelah menunaikan ibadah haji ke tanah suci, ia pun mendapat tambahan “gelar” haji di depan namanya, menjadi H.I.M. Damsyik, dan itulah nama tenar yang dikenal oleh banyak orang sampai sekarang.

Memang sangat pantas Damsyik gemilang berperan sebagai Datuk Maringgih. Meskipun lahir di Teluk Betung, Lampung, tapi ia berdarah murni Minangkabau, panggung yang menjadi tempat kelahiran karakter Siti Nurbaya. Kedua orangtua Damsyik asli Sumatera Barat yang kala itu bertugas di Lampung lantaran sang ayah bekerja untuk perusahaan pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM).

Damsyik tumbuh di era pergerakan nasional, suatu masa ketika rakyat Indonesia sedang menjalani kehidupan “harmonis” dengan bangsa penjajahnya, Belanda. Perlawanan yang muncul saat itu pun jauh dari bentrok fisik, digantikan dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual pribumi yang berjuang melalui pemikiran, tulisan, juga perhimpunan.


Boleh dibilang, Damsyik adalah sosok seniman segala zaman. Setidaknya sudah 6 titik sejarah Indonesia yang dilakoninya, dari masa kolonial Hindia Belanda, era pendudukan Jepang, masa Perang Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga periode reformasi.

Di semua babakan zaman itu, Damsyik selalu berkesenian. Ia mulai mengenal seni tari dansa di masa mudanya, kemudian berlanjut ke seni peran lewat film pertama berjudul Bertamasya pada 1959.

Pada akhir era Sukarno, Damsyik masih sempat tampil di sejumlah sinema. Orde Baru menjadi masa jayanya karena Damsyik membintangi banyak sekali film. Sinetron Siti Nurbaya yang kian melejitkan namanya pun hadir di era ini. Setelah Soeharto tumbang, karier Damsyik tak terusik, hingga ia tak sanggup berakting lagi.

Sepanjang kariernya, Damsyik sudah tampil di lebih dari 70 judul film kendati tak selalu menjadi pemeran utama, dan setidaknya 5 sinema layar kaca. Totalitasnya luar biasa. Ia telah menjajal berbagai jenis genre film. Dari tema percintaan remaja, drama, horor, cerita rakyat, action, bahkan komedi.

Generasi 1990-an pastinya sering melihat Damsyik ikut nongol di film-film Warkop DKI yang dibintangi oleh trio komedian Dono, Kasino, Indro. Atau ketika sosok kurusnya hadir di kisah-kisah misteri ala Suzanna macam Nyi Blorong (1982), Nyi Ageng Ratu Pemikat (1983), Pembalasan Ratu Laut Selatan (1988), dan sejenisnya.

Namun, dari semuanya itu, karakter Datuk Maringgih menjadi puncak karier Damsyik di dunia peran. Bersama Novia Kolopaking dan Gusti Randa, Siti Nurbaya yang diadaptasi dari novel karya Marah Rusli itu menjadi salah satu sinetron yang paling dikenang oleh rakyat Indonesia hingga kini.


Datuk Si Jago Dansa

"Aku memang si Datuk Maringgih. Kalau urusan dansa, orang mungkin memanggilku Datuk Dansa," celetuk Damsyik.

Selain piawai berolah peran, Damsyik juga jago dansa. Ia mengenal seni tari khas bangsawan Eropa itu sejak kecil. Pergaulan ayah Damsyik yang cukup intens di kalangan orang Belanda membuatnya sangat akrab dengan tarian dansa sedari dini. Ia sering diajak menghadiri berbagai acara sekaligus pesta bersama para kolega sang ayah.

"Setiap kali ada perayaan, pasti anak-anak disuruh menari. Saya sering ikut ambil bagian. Ternyata saya senang menari dan banyak orang menilai saya berbakat," kenangnya dalam wawancara dengan Kompas pada 2003.


Ketika ia merantau ke Jakarta untuk kuliah pada era 1950-an, hobi dansa Damsyik semakin tersalurkan. Sembari menempuh studi dan menjadi aktivis Ikatan Mahasiswa DJakarta (Imada), ia juga kerap berdansa ria di waktu-waktu senggang, bahkan cukup intensif.

“Tahun 1950-an itu masih banyak orang Belanda. Jadi, budaya berdansa masih banyak di masyarakat. Setiap malam minggu, mahasiswa pasti kumpul. Di sanalah bakat dansa saya terasah," tutur Damsyik.

Damsyik terpaksa meninggalkan dansa ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi salah satu unsur terkuat di pemerintahan. PKI yang sangat anti-kapitalis saat itu menghambat tumbuh-kembang dansa di Indonesia karena dianggap sebagai produk budaya kaum borjuis Eropa.

"Waktu itu PKI masih berkuasa. Mereka menganggap dansa adalah kebudayaan Barat, jadi dilarang keras. Saya juga sempat takut, tetapi tetap berlatih sendiri. Kalau ada kesempatan, saya berdansa," ingat Damsyik.

Pelarangan itulah yang membuat Damsyik tak bebas lagi berdansa-dansi sehingga mengalihkan bakatnya ke seni peran dengan memasuki dunia film nasional. Ternyata, dari situlah ia lebih dikenal dan mencapai masa emas dalam kariernya.

Namun, dansa tetap saja tidak bisa lepas dari intisari kehidupan Damsyik. Tak sekadar hobi semata, kebisaan Damsyik berdansa pada akhirnya membuahkan pengakuan, ia mendirikan sekolah dansa bernama Damsyik School of Dance di Jakarta dan cukup banyak peminatnya.

Akhir Perjalanan Panjang

Sejak 2002, dansa termasuk cabang olahraga yang diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Dan, seorang aktor bernama H.I.M. Damsyik terpilih menjadi Ketua Umum Pertama Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI).

"Dansa sekarang masuk dalam kategori olahraga. Kalau berdansa, seluruh tubuh kita bergerak. Sama dengan olahraga," tutur Damsyik.

Menurutnya, dansa di Indonesia bangkit setelah Piala Dunia 1998. Apa hubungannya? Damsyik menyebut nama Ricky Martin, penyanyi asal Puerto Riko yang membawakan lagu pengiring Piala Dunia 1998 berjudul “La Copa de la Vida” dengan tarian salsa yang memang booming saat itu.

"Saya bersyukur, perkembangan dansa di Indonesia sangat pesat. Pemicunya, ya, saat Piala Dunia 1998. Dansa yang semula tidur nyenyak, sekarang mulai bangun," ujar Damsyik.



Dansa bagi Damsyik memang banyak sekali manfaatnya, terutama untuk kesehatan. "Setiap ada kesempatan, saya pasti berdansa. Dansa membuat tubuh saya selalu sehat, tidak mudah sakit, dan tidak membuat perut saya buncit," bebernya.

Tak cuma sehat, dansa juga membuat seseorang bisa lebih terkesan berkelas. "Dansa itu perlu untuk pergaulan. Lihat saja Presiden Megawati melakukan dansa sebagai alat diplomasi juga," ucap Damsyik merujuk pada dansa diplomasi Megawati dengan Presiden Cina, Jiang Zemin, pada 2002.

"Dansa yang saya mainkan ini adalah dansa standar internasional. Jadi, murid-murid saya juga bisa melakukannya di luar negeri, Jadi, sarana pergaulan internasional," imbuhnya.

Barangkali dansa jugalah yang membuat Damsyik mampu menjalani hidup selama 82 tahun. Pada 3 Februari 2012, ia wafat, meninggalkan 5 anak dan lebih dari 20 orang cucu. Perjalanan panjang sang seniman segala zaman akhirnya purna dengan tenang.

Jadi, jika Anda ingin sukses, bahagia, sehat, awet muda, dan berumur panjang, coba ikuti resep ala H.I.M. Damsyik:

"Dengan dansa, saya bisa meraih kesuksesan, karier, kesehatan, dan kebahagiaan. Kalau mau bahagia dan sehat, berdansalah!"

Baca juga artikel terkait SENIMAN INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Film)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight