Menuju konten utama

Berbeda dengan Amien, PAN di Bawah Zulhas akan Dekat ke Jokowi

Pengamat memprediksi PAN di bawah Zulhas akan lebih dekat ke Jokowi, alih-alih oposisi. Itu terbaca lewat pernyataan-pernyataan Zulhas sebelumnya.

Berbeda dengan Amien, PAN di Bawah Zulhas akan Dekat ke Jokowi
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan memberi sambutan saat menghadiri perayaan HUT ke-21 PAN di Pluit, Jakarta, Jumat (23/8/2019). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/NZ.

tirto.id - Zulkifli Hasan terpilih kembali sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) di Kongres V yang digelar di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, Selasa (11/2/2020) lalu. Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, unggul dari calon lain seperti Mulfachri Harahap dan Dradjad Wibowo. Zulhas mengantongi 332 suara, Mulfachri 225 suara, dan Dradjad 6 suara.

Pemilihan ketua hanya diikuti oleh tiga orang tersebut, setelah sebelumnya Asman Abnur mengundurkan diri.

Terpilihnya Zulhas bisa dibaca sebagai kemenangan atas Amien Rais--salah satu pendiri partai--yang menjagokan Mulfachri. Dalam pidato kemenangan Zulhas, Amien tak terlihat dalam barisan.

Selain itu, terpilihnya Zulhas sangat memengaruhi ke mana PAN dalam lima tahun ke depan, dalam kaitannya dengan pemerintahan Joko Widodo. Bagi pengajar ilmu politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin, PAN di bawah Zulhas akan lebih condong mendekat ke kekuasaan, alih-alih oposisi seperti PKS atau netral layaknya Partai Demokrat.

"Bisa saja masuk ke koalisi Jokowi-MA (Ma'ruf Amin)," katanya kepada reporter Tirto, Kamis (13/2/2020).

Ia merujuk ke pengalaman 2014, saat PAN "mendukung Prabowo-Hatta, dan kalah, lalu di tengah jalan masuk koalisi pemerintahan Jokowi-JK." "Sudah ada sejarahnya," tambahnya.

Ujang mengatakan PAN bergabung karena banyak alasan. Bagaimanapun merapat ke kekuasaan akan lebih menguntungkan mereka secara 'politik'--untuk pemilu selanjutnya.

Aditya Perdana, Direktur Pusat Kajian Politik UI, mengatakan hal serupa. Kepada reporter Tirto, Kamis (13/2/2020), ia mengatakan jika partai berada di luar pemerintahan, mereka harus siap menghadapi situasi sulit. "Posisi PDIP di zaman SBY dua periode enggak dapat apa-apa," kata Aditya memberi contoh.

Maka, "masuk akal sekali" bagi PAN untuk memilih ada di gerbong penguasa. Banyak keuntungan yang mereka dapat, "mulai dari proyek pemerintah, atau kesempatan berusaha, atau apa pun itu." "Masuk ke pemerintahan itu salah satu kesempatan untuk bisa bertahan secara organisasi, dan orang-orangnya."

Sinyal Zulhas

Prediksi Ujang dan Aditya, sedikit banyak, terkonfirmasi lewat sikap dan pernyataan Zulhas. Tidak seperti Amien Rais, Ketua Dewan Kehormatan PAN yang berkali-kali mengatakan partai harus menjadi oposisi, Zulhas lebih rutin memberi sinyal sebaliknya.

Usai kemenangan dipastikan ada di tangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, Amien Rais mengatakan tak mudah PAN untuk bergabung ke dalam gerbong pemerintahan. Ada syarat yang cukup berat yang harus dipenuhi. Zulhas, sebaliknya, malah secara terbuka tak sependapat dengan Amien.

Amien mengatakan rekonsiliasi dengan kubu Joko Widodo-Ma'ruf bisa diterima jika ada pembagian kursi 55:45 di kabinet, serta ide-ide dari kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno diakomodasi pemerintahan. Sementara Zulhas mengatakan PAN memberi kesempatan bagi Jokowi-Ma'ruf untuk memimpin pemerintahan lima tahun ke depan tanpa syarat apa pun.

"Enggak pakai syarat-syarat," tegas Zulhas di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (22/7/2019). "Siapa yang berdaulat sekarang? Pak Jokowi sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara."

Oktober 2019 lalu, Zulhas mengatakan dia telah diberikan mandat oleh forum rapat koordinasi untuk menentukan sikap partai. Meski demikian dia menegaskan harus tetap berkonsultasi dengan Dewan Kehormatan yang dipimpin Amien Rais.

Setelah bicara dengan Amien, sayangnya, Zulhas merahasiakan hasil pertemuan. "Ya itu untuk saya dong bukan untuk kalian," katanya.

Namun, ia menegaskan bahwa PAN mengajak masyarakat untuk bersatu dan mendoakan agar Jokowi bisa lebih sukses memimpin Indonesia sampai 2024. "Pilpres sudah selesai. Bersatu bersama-sama untuk menyukseskan agar rakyat lebih sejahtera. Udah. Titik. Cukup," kata Zulhas.

Setelah terpilih lagi sebagai ketua di Kongres PAN ke V di Kendari kemarin, Zulhas mengindikasikan hal serupa, meski 'nadanya' agak berbeda. Awalnya ia mengatakan PAN "tidak masuk koalisi" pemerintahan, namun juga "tidak oposisi". Tapi alasannya bukan enggan, melainkan karena "saya, kan, tidak dukung Pak Jokowi [di Pilpres 2019]. Ya enggak mungkin bisa masuk ke sana."

Meski di pusat tak mungkin berkoalisi, tapi setidaknya peluang itu tetap ada di daerah-daerah. Zulhas menegaskan kalau PAN tak bakal bisa maju sendiri di Pilkada 2020. Mereka perlu partai lain agar memenuhi syarat. "Karena itu kami harus menentukan positioning, dengan siapa kita mesti berteman, paling tidak tidak bermusuhan dengan banyak orang."

Sikap ini juga diambil dengan memperhitungkan Pemilu 2024. "Suka tidak suka kita perlu teman banyak sehingga kita bisa posisi ketiga di Pemilu 2024," ujarnya pula.

Zulhas memastikan PAN tidak akan jadi oposisi seperti PKS. Sebab "oposisi itu tagline-nya sudah diambil PKS. Kalau kita ikut masuk ke situ, akan sangat merugikan."

Ia lantas menegaskan posisi PAN: "kita akan menjadi mitra kritis yang bisa memberikan solusi bagi bangsa."

Baca juga artikel terkait PAN atau tulisan lainnya dari Haris Prabowo

tirto.id - Politik
Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Rio Apinino