Beragam Cara Ponpes Mengongkosi Sendiri Liga Santri Nusantara

Oleh: Reja Hidayat - 6 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kemenpora mengalokasikan Rp8 miliar pada Liga Santri 2017. Tapi, para peserta pun menambal pengeluaran sendiri demi kompetisi tersebut.
tirto.id - Tiga tahun lalu menjadi pengalaman tak menyenangkan bagi para santri Pondok Pesantren Darul Huda Mayak dari Ponorogo, Jawa Timur, dalam kompetisi Liga Santri Nusantara di Yogyakarta. Musababnya, jatah makan yang didapatkan para santri tak cukup bikin kenyang perut sampai waktu berikutnya.

Perut kosong itu membuat santri kepayahan menjalani kegiatan yang menguras tenaga dan pikiran dalam kompetisi Liga Santri 2016. Berkaca pada pengalaman itu, Ponpes Darul Huda Mayak memutuskan mendirikan tenda dapur umum dalam kompetisi 2017 di Kota Bandung, Jawa Barat.

"Pengalaman di Yogyakarta, konsumsinya sedikit. [Akhirnya] kami bawa anak-anak yang bisa masak. Kalau santri, kan, makannya banyak," kata Aslih Maulana, manajer Tim Ponpes Darul Huda Mayak, kepada Tirto via telepon, akhir Januari lalu. "Alasan lainnya, agar santri tak perlu jajan."

Tim sepakbola didikan Maulana itu membawa 40 orang, terdiri 18 pemain, 9 staf, 4 orang sebagai juru masak, dan 9 suporter sekaligus pemain junior ponpes tersebut.

Pada Liga Santri 2017, dapur umum Ponpes Darul Huda Mayak didirikan di parkiran lapangan Wiratama Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) atau sekitar 25 meter dari Wisma Pussenif. Ia tak hanya untuk kepentingan tim, tapi juga terbuka untuk ponpes lain dan bahkan panitia dari perwakilan Jawa Timur, ujar Maulana.

Biasanya, sebelum pertandingan, banyak tim sepakbola ponpes berkumpul di dapur umum tersebut, cerita Maulana.

Habib Musthofa, ketua Koordinator Liga Santri 2017 wilayah Jawa Timur 1, menceritakan peran dapur umum mandiri itu bikin suasana guyub karena, "sepanas apa pun pertandingan, ya kami ngopi bareng di dapur umum," ujarnya.

Perjalanan Berat Santri

Ujian berat para peserta Liga Santri 2017 tak cuma menjalani pertandingan, melainkan dari upaya mereka mengatasi perjalanan darat ke Bandung.

Itu diceritakan oleh tim Ponpes Birrul Walidain Nahdlatul Wathan dari Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Mereka menghabiskan waktu perjalanan dengan bus selama tiga hari tiga malam.

"Ada yang mabuk dan kelelahan karena perjalanan jarak jauh," kata Rahmat Ismail, ketua panitia Liga Santri 2017 region NTB-3. "Kami sampai pagi di Bandung, siangnya bertanding. Jadi tidak ada waktu istirahat," tambahnya.

Penelusuran kami, beberapa tim memang memakai bus menuju Bandung, di antaranya dari Lampung, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Pertimbangannya, selain menghemat ongkos, mereka sekalian ziarah ke makam-makam Walisanga di Pulau Jawa.

Rahmat berkata bahwa pertimbangan wakil NTB memakai bus karena masalah finansial. Untuk perjalanan ke Kota Bandung, pihaknya membutuhkan biaya minimal Rp60-70 juta. Sementara dana subsidi dari panitia Liga Santri 2017 cuma Rp15 juta.

"Subsidi itu sangat kecil sehingga kami harus pontang-panting ke sana-sini. Karena ini untuk seri nasional. Nah, akhirnya kami ngutang," kata Rahmat.

Aslih Maulana dari Ponorogo mengatakan biaya perjalanan tim sepakbola Ponpes Darul Huda Mayak dengan dua bus menelan biaya sekitar Rp50 juta. Jika memilih naik pesawat, biayanya bisa membengkak dua kali lipat. Beruntung, tim Ponpes Darul Huda Mayak meraih juara pertama kompetisi Liga Santri Nusantara 2017.

"Kalau bicara anggaran, ya enggak cukup. Dikasih Rp10 juta tapi pengeluarannya lebih. Alhamdulillah, kemarin juara, jadi tertutupi dengan hadiah Rp150 juta. Kalau enggak juara, ya rugi," kata Maulana.

Menurut Maulana, jumlah dana subsidi akomodasi dari panitia ke peserta Liga Santri berbeda-beda, tergantung dekat atau jauh dari lokasi kompetisi.

Untuk zona Jawa, peserta mendapatkan Rp10 juta per ponpes. Untuk Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, peserta menerima subsidi Rp20-25 juta.

Meski begitu, subsidi itu hanya ada pada kompetisi Liga Santri 2017. Pada Liga Santri 2018, panitia menyetop subsidi akomodasi ke para peserta kompetisi.

Panitia yang dimaksud adalah Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), sebuah lembaga Nahdlatul Ulama yang membawahi pondok pesantren seluruh Indonesia. RMI menjadi pelaksana Liga Santri Nusantara, hasil dari kesepakatan yang dibuat antara Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada 2015, yang diteruskan dengan kompetisi pada 2016 di Yogyakarta, tahun 2017 di Bandung, dan tahun lalu di Solo.

Pada Liga Santri 2017, Kemenpora mengucurkan dana Rp8 milar ke RMI. Audit BPK pada Mei 2018 menemukan ada sisa anggaran Rp2,04 miliar pada rekening RMI per 31 Desember 2017. Temuan lain ada transaksi terindikasi fiktif senilai Rp392 juta. Totalnya, Rp2,4 miliar.

BPK meminta pertanggungjawaban dari RMI dan Kemenpora atas anggaran yang tak terserap itu. Kedua pihak telah bertemu dengan BPK dan masing-masing mengklaim telah menyerahkan sisa dana. Tetapi bukan Rp2,4 miliar sebagaimana temuan BPK, melainkan menurut klaim Kemenpora sisa dana yang telah dikembalikan sebesar Rp300 juta; sementara RMI telah mengembalikan antara Rp150 juta sampai Rp200 juta.

Toh, sampai akhir Januari 2019, BPK belum menerima buktinya.

“Buktinya belum masuk,” kata Achsanul Qosasih, anggota BPK yang bertanggungjawab atas pemeriksaan keuangan Kemenpora.


Infografik HL Indepth Liga Santri
Infografik Perjuangan 32 Klub LSN. tirto.id/Lugas

Berjuang Sendiri

Biaya besar untuk mengikuti kompetisi Liga Santri membuat pengurus ponpes berpikir keras. Mereka memikirkan beragam cara agar tim sepakbola ponpes terlibat pada tingkat kompetisi nasional itu, misalnya meminta dukungan dari pemerintah daerah, swasta, dana pribadi ponpes, sampai berutang.

Tapi tak semua ponpes bisa mendapatkan semua dukungan dana itu.

Contohnya, ponpes Darul Huda Mayak dari Ponorogo. Meski sudah menjuarai Liga Santri 2017, tim tak menerima dana dari Pemda untuk kompetisi tahun berikutnya. Meski begitu, mereka tetap mendapatkan sokongan finansial dari pengurus, selain dari pihak swasta.

"Setelah menang, BNI siap dukung kami kalau (turnamen) ke nasional," kata Maulana.

Dukungan finansial Pemda tak cuma dari daerah ponpes, tetapi ada dari pemda lain. Salah satunya Ridwan Kamil, saat itu Wali Kota Bandung. Ridwan menyumbang uang ke Ponpes Birrul Walidain dari NTB pada Liga Santri 2017.

"Kami terbantu waktu itu oleh Pak Wali Kota Ridwan Kamil. Walau nilainya enggak banyak, tapi, Alhamdulilah ... Dibandingkan pemerintah daerah kami sendiri enggak ada," kata Rahmat.

Baca juga artikel terkait LIGA SANTRI NUSANTARA atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight