Bentuknya Mirip, Apa Beda Porang dengan Suweg, Walur, & Iles-Iles?

Oleh: Yulaika Ramadhani - 5 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Perbedaan Porang, Suweg, Walur, & Iles-Iles
tirto.id - Porang, tanaman umbi-umbian tengah populer dibicarakan masyarakat, lantaran kisah sukses petaninya. Petani porang di desa Kepel, Jawa Timur berhasil menjadi miliader karena bisnis ekspor porang.

Apa sebenarnya tanaman porang ini?

Porang atau dikenal juga dengan nama iles-iles adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri.

Manfaat porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, selain juga untuk pembuatan lem dan "jelly" yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang.

Perbedaan Porang, Suweg, Walur, & Iles-Iles

Ada beberapa tanaman yang fisiknya mirip dengan tanaman porang baik itu bentuk batang serta umbinya, bahkan banyak petani pemula yang salah membedakan tanaman porang dengan tanaman tersebut. Dikutip dari laman pertanian.go.id beberapa tanaman tersebut di antaranya yaitu :
  1. Suweg (Amorphophallus campanulatus forma hortensis)
  2. Walur (Amorphophallus campanulatus forma sylvestris)
  3. Iles-iles puti (Amorphophallus variabilis)
Dari sumber yang sama, jika keempat tanaman tersebut dilihat secara fisik, tanaman porang ini memiliki ciri yang hampir sama terutama bentuk batang dan umbinya, tetapi ada beberapa ciri-ciri yang membedakan tanaman porang dengan 3 tanaman tersebut, ciri-cirinya yaitu:

Porang

  • Daun: daun lebar,ujung daun runcing dan berwarna hijau muda.
  • Batang: kulit batang halus dan berwarna belang-belang hijau dan putih.
  • Umbi: pada permukaan umbi tidak ada bintil, umbi berserat halus (seperti kristas) dan berwarna kekuningan keorenan.
  • Lain-lain : pada setiap pertemuan cabang ada bubil/katak (bibit porang)

Suweg

  • Daun : daun kecil,ujung daun runcing dan berwarna hijau muda mengkilap.
  • Batang: kulit batang agak kasar (ada duri) dan berwarna belang-belang hijau dan putih.
  • Umbi: pada permukaan umbi banyak bintil dan kasar, umbi berserat halus dan berwarna putih.
  • lain-lain: pada setiap pertemuan cabang tidak ada bubil/katak . umbi bisa dikonsumsi setelah direbus

walur
  • daun: daun kecil, ujung daun runcing dan berwarna hijau muda mengkilap.
  • batang: kulit batang kasar dan berwarna hijau keunguan dan bercak putih.
  • umbi: pada permukaan umbi banyak bintil dan kasar, umbi berserat halus dan berwarna putih.
  • lain-lain: pada setiap pertemuan cabang tidak ada bubil/katak

Iles-iles putih
  • daun: daun kecil, ujung daun runcing dan berwarna hijau tua.
  • batang: kulit batang halus dan berwarna keunguan dan bercak putih.
  • umbi: pada permukaan umbi ada bintil, umbi berserat halus dan berwarna putih.
  • lain-lain: pada setiap pertemuan cabang tidak ada bubil/katak
Dari perbedaan ciri-ciri tanaman porang dengan tanaman walur, suweg, dan iles-iles putih yang paling mencolok yaitu tanaman porang pada setiap pertemuan cabang daun ada bubil/katak (bibit porang) sedangkan tanaman lain tidak ada.

Selain itu, umbi porang jika dibelah berwarna kuning keorenan dan teksturnya seperti kristas.


Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang, demikian dilansir laman resmi Kementerian Pertanian.

Porang adalah tanaman yang toleran dengan naungan hingga 60%. Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl. Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain. Untuk bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.

Pertanian.go.id menulis, tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor. Catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp 11,31 miliar ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya.

Umbi porang saat ini masih banyak yang berasal dari hutan dan belum banyak dibudidayakan. Ada beberapa sentra pengolahan tepung porang saat ini, seperti di daerah Pasuruan, Madiun, Wonogiri, Bandung serta Maros.


Baca juga artikel terkait PORANG atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight